Menjelajahi Desa Tenun di Manggarai Timur, Flores (1)

Kompas.com - 10/02/2018, 10:06 WIB
Perjalanan menuju Wilayah Elar dan Elar Selatan, di Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/1/2018). KOMPAS.COM/MARKUS MAKURPerjalanan menuju Wilayah Elar dan Elar Selatan, di Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/1/2018).

Peran kaum perempuan di wilayah itu sungguh hebat karena mereka belajar dan melatih diri secara otodidak. Mereka tidak kursus tapi mereka melihat langsung dari ibu serta mempraktikkannya. Mereka tidak membutuhkan teori melainkan langsung mempraktikkannya, baik di rumah-rumah maupun ketika ibu mereka menenun kain di pondok-pondok di kebun.

(Baca juga : Mbaru Gendang Ruteng Puu, Kampung Adat Tertua di Flores Barat)

Hebatnya, mereka menenun kain tenun di waktu senggang. Mereka tetap kerja kebun di musim tanam. Bahkan, ladang-ladang mereka ditanami berbagai jenis tanaman padi dan jagung.

Zaman dulu mereka sistem menanam di ladang karena mereka tidak terbiasa dengan lahan persawahan. Hingga saat ini lahan kering dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman demi keberlangsungan hidup keluarga.

Merawat Warisan Leluhur

Hanya perempuan yang mampu merawat warisan leluhur, khususnya warisan kain tenun. Sebelum ada lembaga pendidikan, kaum perempuan sudah terlebih dahulu belajar menenun secara langsung dari ibu mereka.

Berawal dari melihat cara menenun ibu sejak usia dini, melihat cara-cara memasukkan benang dengan peralatan tenun. Merajut benang-benang itu untuk membentuk sebuah kain. Ketika seorang perempuan beranjak dewasa, seorang ibu mulai melatihnya dan mempraktikkannya.

Seorang ibu setia melatih dan memberikan dorongan kepada anak perempuan agar bisa menenun sendiri kain tenun untuk kebutuhan dirinya maupun untuk kebutuhan keluarga.

Perempuan yang tersebar di pelosok-pelosok Manggarai Timur bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Mereka sangat setia, tekun dan merawat warisan leluhur.
Sesungguhnya perempuan yang tersebar di pelosok-pelosojk itu sungguh sangat hebat. Namun, kadang-kadang tidak dihargai karyanya. Namun, mereka tetap bekerja tanpa kenal lelah.

Mereka sering memanfaatkan waktu luang pada malam hari apabila urusan domestik dalam keluarga untuk melayani suami dan anak-anak selesai dilaksanakan. Mereka biasanya menenun di sudut dapur bersebelahan dengan tungku api. Sehari-hari seorang perempuan yang sudah berkeluarga harus bekerja ekstra keras di dalam rumah, seperti memasak, menimba air, bekerja di ladang serta melayani kebutuhan suaminya.

Sesungguhnya yang bekerja sangat total di kampung-kampung adalah kaum perempuan. Namun, sistem patrilineal membuat kaum perempuan kadang-kadang tidak diperhitungkan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X