Menjelajahi Desa Tenun di Manggarai Timur, Flores (1)

Kompas.com - 10/02/2018, 10:06 WIB
Penenun flores di Wilayah Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/1/2018). KOMPAS.COM/MARKUS MAKURPenenun flores di Wilayah Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/1/2018).

Selain memenuhi kebutuhan keluarga, kebutuhan untuk berkomunikasi juga semakin meningkat karena teknologi yang memudahkan untuk berkomunikasi dari sudut negeri untuk sesama saudara atau anak-anak yang sedang sekolah di tempat jauh.

Kebutuhan untuk membeli pulsa bagi handphone juga tidak bisa dibendung lagi. Bahkan, membeli handphone untuk memudahkan berkomunikasi menjadi sebuah kebutuhan primer dalam diri warga di seluruh pelosok-pelosok negeri ini.

Jelajah Desa Tenun

Sejak Minggu (28/1/2018), Kompas.com bersama dengan Benediktus Adeni (sopir) dan Levi Betaya melaksanakan perjalanan dari Kota Borong menuju ke wilayah Elar. Kompas.com sudah mengumpulkan banyak informasi yang berkaitan dengan keunikan-keunikan di wilayah itu. Salah satunya adalah informasi tentang kain tenun khas Rembong dan Biting.

Kami berangkat pukul 13.00 Wita melintasi kawasan hutan konservasi Banggarangga, kawasan kopi colol di Kecamatan Pocoranaka Timur, selanjutnya ke wilayah Watunggong, Kecamatan Sambirampas.

Memasuki wilayah Elar, kami ditantang dengan jalan yang parah, walaupun sebagian di aspal. Memasuki wilayah Elar, sang sopir harus hati-hati mengendarai kendaraan karena melintasi jalan rusak, berlumpur, apalagi saat musim hujan saat ini.

Nyawa kami dipertaruhkan dalam tangan sang sopir agar selamat dalam perjalanan. Beruntung sang sopir berpengalaman dalam mengendarai kendaraan di medan berat.

Kami menghibur diri dengan berbagai cerita-cerita humor ala kadarnya agar perjalanan kami tidak jenuh dengan medan yang sangat berat. Kami bersyukur kepada sopir yang penuh kehati-hatian dalam mengendarai kendaraan hingga kami tiba dengan selamat di tempat tujuan.

Kami tiba sekitar 20.30 Wita. Perjalanan melelahkan. Namun, itulah tantangan nyata bagi seorang jurnalis untuk berkarya di wilayah yang masih minim infrastruktur dasarnya. Kami tiba di rumah saudara Paskalis Peli Purnama.

Kami disapa dengan penuh keramahan dan penuh kekeluargaan, penuh persaudaraan. Selanjutnya kami disuguhkan kopi elar yang dilayani tuan rumah. Saat kami tiba satu per satu keluarga datang untuk bersalaman sambil minum kopi. Setelah itu, kami makan malam bersama keluarga di rumah itu.

Malam sebelum tidur, Kompas.com mengumpulkan informasi tentang berbagai keunikan-keunikan budaya setempat. Paskalis Peli Purnama menginformasikan keunikan-keunikan kaum perempuan di wilayah itu.

Kaum perempuan di wilayah itu tetap merawat warisan leluhur, salah satunya adalah menenun kain tenun khas wilayah itu. Selanjutnya kami istirahat malam untuk memulihkan tubuh yang lelah karena perjalanan masih panjang untuk berpetualang di medan berat keesokan harinya.

(Bersambung...)

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X