Kompas.com - 12/02/2018, 15:12 WIB
Pakar teh, Ratna Somantri, menunjukan Gyokuro, teh hijau dari Jepang. Kompas.com/Roderick Adrian MozesPakar teh, Ratna Somantri, menunjukan Gyokuro, teh hijau dari Jepang.

KOMPAS.com – Teh dari Jepang yang populer di dunia adalah matcha dan sencha. Padahal ada banyak jenis teh Jepang. Salah satunya adalah gyokuro, teh hijau berkualitas tinggi dari Jepang.

“Kalau menurut saya, ini teh paling unik,” kata Ratna Somantri saat ditemui di Jakarta, Senin (29/1/2018). Ratna merupakan seorang konsultan teh, certified tea specialist, tea sommelier, dan penulis buku “Kisah & Khasiat Teh” dan “The Story in A Cup of Tea”, dan salah satu pendiri www.pasarteh.com.

Sebagai pakar teh, Ratna memiliki koleksi aneka teh dari berbagai negara di dunia. Mulai dari teh celup, daun teh, maupun teh bubuk. Saat ditanya, teh manakah paling mahal yang ia beli dari seluruh koleksinya saat ini, ternyata teh Ujigyokuro atau gyokuro yang berasal dari daerah Uji.

(Baca juga : Tips Memilih Teh Sesuai Mood)

Uji sudah sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil teh di Jepang, Selain gyokuro, daerah Uji juga menghasilkan matcha hingga sencha. Mayoritas orang Jepang lebih banyak meminum teh hijau. Teh hijau merupakan teh yang nyaris tidak mengalami proses oksidasi.

Ada dua cara menanam teh di Jepang. Cara pertama adalah tanaman teh dibiarkan tumbuh terkena sinar matahari. Sementara cara kedua yaitu tanaman teh ditutup. Cara ini menghasilkan teh berkualitas tinggi karena hanya mendapatkan sinar matahari sekitar 10-30 persen.

(Baca juga : Salah Kaprah, Chamomile Tea Bukan Teh)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seperti disebutkan dalam buku “The Tea Industry” (2000) oleh Nick Hall, sejarah gyokuro sudah sejak periode Edo pada tahun 1615-1868. Jadi, 20 hari sebelum daun dipetik, tanaman ditutup dengan shakoami atau semacam jaring tertutup yang gelap sehingga tanaman hanya mendapatkan sinar matahari sebanyak 10 persen. Proses penutupan ini membuat daun tanaman mulai merunduk dan menjadi halus.  

Ciri khasnya teh pun memiliki rasa yang umami atau gurih. Aromanya pun unik, seperti rumput laut karena mengandung lebih banyak glutamic acid. Selain itu, warna daun teh juga lebih hijau pekat.

(Baca juga : Tidak Semua Teh Hijau Bubuk Adalah Matcha)

Dari tanaman teh tertutup ini, daun teh diolah menjadi tencha dan gyokuro. Teknik pengolahannya sama. Bedanya, daun teh untuk gyokuro dipilin hingga seperti jarum. Sementara tencha tidak melalui  proses memilin daun teh. Dari tencha ini, kemudian digiling menjadi teh bubuk atau matcha.

Ratna menceritakan pada masa lampau, daun-daun teh dipilin secara perlahan dengan tangan. Hal ini dikerjakan dengan hati-hati agar daun teh tidak rusak. Saat ini, proses memilin dikerjakan dengan mesin tetapi dengan kecepatan tertentu agar daun teh terjaga.

Karena tergolong teh berkualitas tinggi dan produksinya juga tidak banyak, harganya pun cenderung mahal. Gyokuro pun termasuk teh hijau mahal di Jepang. Harga 1 kilogram gyokuro bisa mencapai Rp 5-25 juta. Ratna sendiri membeli teh Ujigyokuro ukuran 50 gram dengan harga sekitar Rp 500.000.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mulai dari Batik Betawi hingga Boneka Ondel-ondel, Andalan Produk Ekraf Khas Betawi

Mulai dari Batik Betawi hingga Boneka Ondel-ondel, Andalan Produk Ekraf Khas Betawi

BrandzView
Perbedaan Aturan Perjalanan Orang pada SE Satgas Covid-19 Nomor 16 dan Nomor 14

Perbedaan Aturan Perjalanan Orang pada SE Satgas Covid-19 Nomor 16 dan Nomor 14

Travel Update
Pelaku Wisata Gunungkidul Jalani Vaksinasi di Geosite Ngingrong

Pelaku Wisata Gunungkidul Jalani Vaksinasi di Geosite Ngingrong

Travel Update
Tidur Ditemani Kucing, Begini Uniknya Hostel Neko Hatago di Osaka

Tidur Ditemani Kucing, Begini Uniknya Hostel Neko Hatago di Osaka

Jalan Jalan
7 Fakta Menarik Quanzhou, Kota Pelabuhan di China Warisan Dunia UNESCO Terbaru

7 Fakta Menarik Quanzhou, Kota Pelabuhan di China Warisan Dunia UNESCO Terbaru

Jalan Jalan
Mengenal 4 Situs Warisan Dunia UNESCO Terbaru, Ada Quanzhou di China

Mengenal 4 Situs Warisan Dunia UNESCO Terbaru, Ada Quanzhou di China

Travel Update
Daftar 25 Hotel Terindah di Dunia 2021 Versi TripAdvisor, Indonesia Termasuk

Daftar 25 Hotel Terindah di Dunia 2021 Versi TripAdvisor, Indonesia Termasuk

Travel Update
Intip Wajah Baru Terminal Penumpang Bandara Pattimura Ambon

Intip Wajah Baru Terminal Penumpang Bandara Pattimura Ambon

Jalan Jalan
PPKM Darurat Diperpanjang, Ini Siasat Pelaku Pariwisata untuk Bertahan

PPKM Darurat Diperpanjang, Ini Siasat Pelaku Pariwisata untuk Bertahan

Travel Update
PPKM Darurat Sebabkan Pelaku Pariwisata Sulit Bergerak

PPKM Darurat Sebabkan Pelaku Pariwisata Sulit Bergerak

Travel Update
Kemenparekraf Siapkan Program PEN dengan Anggaran Rp 2,4 Triliun

Kemenparekraf Siapkan Program PEN dengan Anggaran Rp 2,4 Triliun

Travel Update
IHGMA Bali Sebut Waktu Pembukaan Pariwisata untuk Turis Asing Penting, Tapi...

IHGMA Bali Sebut Waktu Pembukaan Pariwisata untuk Turis Asing Penting, Tapi...

Travel Update
Ini Skenario Penyambutan Turis Asing di Bali jika Sudah Memungkinkan

Ini Skenario Penyambutan Turis Asing di Bali jika Sudah Memungkinkan

Travel Update
Bali Siapkan Skenario Sambut Turis Asing, Antisipasi jika Perbatasan Dibuka

Bali Siapkan Skenario Sambut Turis Asing, Antisipasi jika Perbatasan Dibuka

Travel Update
1.871 Usaha Pariwisata di Bali Sudah Dapat Sertifikat CHSE

1.871 Usaha Pariwisata di Bali Sudah Dapat Sertifikat CHSE

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X