Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jalan-jalan ke Air Terjun Kedung Pedut Kulon Progo, Oh Indahnya...

Kompas.com - 25/02/2018, 18:15 WIB
Dani Julius Zebua,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

Kedung Pedut destinasi wisata air terjun yang belum lama berkembang di Girimulyo, Kulonprogo. Airnya datang dari Gunung Kelir yang konon penuh destinasi wisata alam, seperti Kembang Soka, Taman Sungai Mudal, Gua Kiskendo, atau yang tidak lebih jauh dari sana adalah Grojokan Sewu dan air terjun Ketawing.

Dulunya, kata Subowo, anggota Kelompok Sadar Wisata Alam Menoreh Curug Kedung Pedut, riam dan air terjun itu bukan apa-apa. “Dianggap kawasan mistik saja oleh warga,” kata Subowo.

Sekelompok mahasiwa dari Yogyakarta yang tengah melaksanakan KKN di dusun itu pada 2013 terpesona dengan Kedung Pedut dan riam-riam yang ada. Sejak kehadiran mahasiswa itu, Kedung Pedut mulai dilirik dan semakin ramai di media sosial. Warga Dusun Kembang pun memutuskan menggarap lebih serius sebagai destinasi wisata baru.

“Warga sini kan ada yang kerja di obyek wisata curug (air terjun) di tempat lain. Beberapa di antaranya memutuskan untuk mengembangkan tempat ini,” katanya.  

Riam yang banyak merupakan daya tarik. Aliran airnya tidak membentuk pusaran, kolam-kolam yang tercipta dari jatuhan air juga tidak dalam serta aman bagi anak-anak bermain. Selain itu, air tak deras dan mudah dilewati pengunjung.

“Tidak kalah dengan obyek curug (air terjun) lainnya,” kata Subowo.

Bila ditarik garis lurus, kemiringan sungai bisa 45 derajat, meski berkelok-kelok. Dari banyak riam yang ada, dua di antaranya memiliki riam sangat tinggi yang membuat air terjun di situ menjadi indah. Salah satu riam setinggi 15 meter dan terletak tersembunyi.

Di air terjun itu, gulungan air yang jatuh ke kolam menciptakan kabut tebal.

“Air terjun inilah yang dinamai Kedung Pedut. Kedung berarti kolam alami, pedut berarti kabut. Kabut yang tercipta dari kolam alami,” kata Subowo.

Warga membuat jalan setapak hampir 500 meter menyusur tebing menuju pinggir tepi sungai agar wisatawan yang ingin menyaksikan panorama lembah bersungai dan air terjun. Jalan itu bentuk tangga alam dari tanah keras, batu, ataulah gelondongan bambu.

Pemandangan sepanjang jalan setapak itu berupa tebing miring berlumut yang dipenuhi pohon di salah satu sisi, dan jurang tak terbatas kedalamannya di sisi lain. Demi keamanan, warga juga membangun pagar pengaman sepanjang jalan.

Lingkungan di sepanjang jalan setapak itu dibiarkan alami. Beragam pohon hutan dan bambu yang batangnya sebesar pelukan sesekali bisa ditemui. Bahkan ada juga pohon-pohon cokelat sisa kejayaan perkebunan warga.

Warga juga membangun jembatan-jembatan yang melintang dari satu tubir ke tubir lain, membuat cara pandang berbeda pada keindahan panorama.

Semua fasilitas di destinasi ini dibangun melewati 22 bidang tanah milik warga dusun.

“Pemilik lahan mendapat bagi hasil adil per triwulan,” katanya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com