Pisang Sale, Oleh-oleh Khas Tanah Rencong - Kompas.com

Pisang Sale, Oleh-oleh Khas Tanah Rencong

Kompas.com - 12/03/2018, 06:53 WIB
Ayu (31), pemilik usaha  pisang sale tradisi Aceh yang dirintis bersama suaminya Husni sejak tahun 2012. Usaha makanan khas tradisonal Aceh miliknya kini mulai maju pesat setidaknya memiliki 5 karyawan di pabrik pengolahan dan delapan orang di toko penjualan yang berada di kawasan Peunayong, Kota Banda Aceh, Sabtu (10/3/2018).KOMPAS.com/RAJA UMAR Ayu (31), pemilik usaha pisang sale tradisi Aceh yang dirintis bersama suaminya Husni sejak tahun 2012. Usaha makanan khas tradisonal Aceh miliknya kini mulai maju pesat setidaknya memiliki 5 karyawan di pabrik pengolahan dan delapan orang di toko penjualan yang berada di kawasan Peunayong, Kota Banda Aceh, Sabtu (10/3/2018).

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Berawal dari gemar makan pisang sale makanan tradisional khas Aceh, Ayu (31) warga kota Banda Aceh kini telah memiliki usaha pabrik pengolahan pisang sale dan toko penjualan makanan oleh-oleh tradisi Aceh, dengan omset penjualan pisang sale setiap hari rata-rata Rp 3 juta hingga Rp 5 juta.

“Alhamdulillah sekarang usaha pisang sale olahan kami di Banda Aceh sudah maju, hasil penjualannya setiap hari rata-rata Rp 3 hingga Rp 5 juta,” kata Ayu (31), pemilik usaha pisang sale Tradisi Aceh, kepada Kompas.com, Sabtu (10/3/2018).

Baca juga : Ini Perbedaan Mangga Alpukat dengan Mangga Pisang...

Ayu mengaku awalnya memiliki ide untuk membuat pabrik pengolahan pisang sale karena suka membeli dan makan kuliner tradisional khas Aceh berbahan baku pisang yang hanya dijual di jalan lintas Banda Aceh – Medan Pasar Lhok Sukon, Kabupaten Aceh Utara.

“Karena pisang sale enak dan sehat makanya saya suka makan pisang sale. Dulu setiap saya lewat ke Lhok Seukon selalu beli, namun lama-lama saya terpikir untuk berusaha makanan tradisional khas Aceh yang manis dan legit itu,” katanya.

Baca juga : Menjajal Roti hingga Pisang Bakar Paling Legendaris di Bandung

Ayu merintis usaha pisang sale dengan modal sangat terbatas sejak Maret 2017. "Awal merintis usaha pisang sale ini kami tidak ada modal, modal nekat saja. Awalnya setelah saya buat sendiri pisang sale, saya pasarkan di terminal bus di Batoh Banda Aceh. Kami sewa bangunan di terminal Rp 7.000 satu hari,” katanya.

Setelah beberapa bulan usahanya berjalan, Ayu bersama suaminya, Husni memutuskan untuk menyewa toko penjualan di kawasan Peunayong Banda Aceh dengan modal bantuan dari keluarga.

Pisang sale basah dan goreng dalam kemasan yang dijual di Toko Tradisi Aceh, Kawasan Pasar Peunayong Banda Aceh, Sabtu (10/3/2018).KOMPAS.com/RAJA UMAR Pisang sale basah dan goreng dalam kemasan yang dijual di Toko Tradisi Aceh, Kawasan Pasar Peunayong Banda Aceh, Sabtu (10/3/2018).
“Beberapa bulan saya sempat jual sendiri pisang sale naik langsung ke dalam bus sebelum berangkat, kemudian karena tempat yang kami sewa sudah digunakan sehingga kami harus mencari sewa toko lain yang sampai saat ini alhamdulillah sudah majulah,” jelasnya.

Dari usaha pengolahan dan penjulan pisang sale tradisional Aceh itu kini Ayu telah memiliki 14 orang tenaga kerja, di antaranya delapan orang tenaga kerja di pabrik pengolahan yang berada di Alue Naga, Kecamatan Syiah Kula dan 6 orang melayani pembeli di toko penjualan yang berada di Peunayong Kota Banda Aceh.

“Alhamdulillah sekarang sekarang kami sudah memiliki pabrik sendiri dan toko penjualan, dengan menampung 14 orang tenaga kerja,” katanya.


Komentar

Close Ads X