Malioboro di Mata Warga Lokal dan Wisatawan Mancanegara...

Kompas.com - 13/03/2018, 21:10 WIB
Sore hari di Jalan Malioboro yang melegenda, Sabtu (12/3/2018). KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIASore hari di Jalan Malioboro yang melegenda, Sabtu (12/3/2018).


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Entah sudah berapa kali saya mengunjungi jalan melegenda ini, mulai karya wisata saat sekolah hingga bekerja. Namun, Malioboro seolah tidak pernah kehilangan pesonanya, terlebih saat ini dengan berbagai kebaruannya.

Berlokasi di kota dengan segudang seniman, Malioboro di Yogyakarta kian bersolek setiap waktunya. Jumat (9/2/2018) KompasTravel berkunjung ke sana, bersama rombongan media dari berbagi negara di Asean, dalam acara trip Yogyakarta Marriott Hotel.

Ramainya Malioboro memang terlihat mulai sore hari, saat itu pukul 17.00 WIB. Warga sibuk mendirikan tenda kulinernya di sisi kiri, arah ke Benteng Vredeburge. Sedangkan wisatawan mulai ramai lalu-lalang.

Banyak cara nampaknya untuk menikmati senja di Malioboro. Ada wisatawan yang duduk-duduk di kursi-kursi pedestrian Malioboro yang kian cantik dengan bola-bola alumunium. Sesekali juga bisa menyantap kuliner sederhana yang dijajakan, seperti sate.

Wisatawan lain, masih sibuk dengan tawar menawarnya. Ada yang bilang, semakin sore harga di sini akan semakin "miring", beberapa pedagang suvenir di sini memang tutup di awal malam.

Bola-bola silver yang menghiasi Jalan Malioboro yang melegenda, Sabtu (12/3/2018).KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Bola-bola silver yang menghiasi Jalan Malioboro yang melegenda, Sabtu (12/3/2018).
"Rasanya semakin kesini banyak yang mulai ditata ya, pedestriannya tambah lebar dan bagus," ujar Juhan Kamaruddin, salah satu wisatwan asal Malaysia yang ikut dalam rombongan.

Ia merasa pedestrian Malioboro kian berubah, setelah kunjungan keduanya di pertengahan tahun 2017 lalu. Kursi-kursi tempat istirahat, instalasi seni di berbagai tempat, hingga bola-bola silver di pedestrian menambah kesan elegan.

"Lebih kaya di Eropa gak sih? daripada Malioboro yang dulu," pungkas Wira, salah satu pemandu wisata rombongan kami, saat itu.

Di sisi jalan KompasTravel sempat berbincang dengan Jiyanto, yang sudah sejak 1987 mengayuh becaknya di jalan penuh kenangan ini. Ia mengaku menjadi saksi berbagai perubahan di Malioboro.

"Yo jadi bagus mas sekarang. Makin bagus, makin rame, tapi makin banyak saingan juga saya, dari (transportasi) online-online," tuturnya dengan senyum khas.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X