Mencari Restu Adat demi Mengarungi Sungai Cibareno - Kompas.com

Mencari Restu Adat demi Mengarungi Sungai Cibareno

Kompas.com - 13/03/2018, 22:10 WIB
Tim Arung Jeram Mapala UI dan para rendangan berbincang sambil menikmati sajian di Imah Gede (30/1/2018). Tim mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.Dokumentasi Mapala UI Tim Arung Jeram Mapala UI dan para rendangan berbincang sambil menikmati sajian di Imah Gede (30/1/2018). Tim mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.

KOMPAS.com - “Apakah ritual ini penting dilakukan sebelum kita berarung jeram?”

Saya mempercepat langkah begitu tiba di Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (30/1/2017). Jam menunjukkan pukul empat sore. Mobil kami berhenti di depan rumah berbahan anyaman bambu, berlantaikan kayu, dan bertuliskan “Imah Gede, Kasepuhan Cipta Mulya”.

Dingin terasa menusuk tulang. Pakaian saya basah oleh rintik hujan dihembuskan angin. Beruntung, kami disambut hangat oleh Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya, Suhendri Wijaya, dan para rendangan atau pejabat pembantu kasepuhan.

“Anak-anak Mapala, mau arung jeram di sungai, ya?” kata Abah Enri, panggilan akrab ketua kasepuhan di Banten, saat bertemu dengan kami.

Saya bersama rekan-rekan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia ( Mapala UI) mengunjungi imah gede, sebuah rumah panggung utama dan terbesar yang ada di Kasepuhan Cipta Mulya. Imah gede adalah rumah Abah (panggilan akrab bagi) sekaligus merupakan tempat menerima tamu kasepuhan.

Perbincangan pertama saya dan Abah Enri terasa intim bagaikan tak ada sekat. Abah Enri terus bertanya ihwal kedatangan kami di Kasepuhan Ciptamulya. Ia bertanya mengapa kami ingin mengarungi Sungai Cibareno.

Sesisir pisang, kue pasung, awug, dan papais, sajian yang dihidangkan untuk Tim Arung Jeram Mapala UI (30/1/2018). Tim mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.Dokumentasi Mapala UI Sesisir pisang, kue pasung, awug, dan papais, sajian yang dihidangkan untuk Tim Arung Jeram Mapala UI (30/1/2018). Tim mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.
Obrolan kami makin larut. Abah Enri dan para rerendangan terlihat antusias dengan kegiatan kami. Sementara, para perempuan paruh baya yang saya duga adalah istri Abah Enri dan salah satu rerendangan tengah sibuk menyiapkan kudapan di dapur untuk kami.

Tak berapa lama, kue pasung, awug, dan papais, ketiga macam kue kukus tradisional yang terbuat dari tepung beras, beserta sesisir pisang dan teh hangat tersaji di atas karpet di antara kami yang duduk melingkar.

Makanan dan minuman hangat tersebut cukup membuat air liur mengucur deras. Ketiga macam kue beras yang hanya dibuat pada saat acara tertentu saja. Abah Enri bercerita semalam, ketua dan para pengurus pemerintah adat berkumpul dan berdiskusi mengenai situasi dan masalah terkini kasepuhannya.

“Semalam bulan purnama, ada perayaan. Ramai orang, banyak kesenian di sini,” kata Abah Endri.

Ah, kami melewatkan ritual Bulan Purnama Opat Belas, sebuah acara ritual ketika makanan-makanan dan kesenian tradisional bisa dinikmati sepuasnya. Acara ini digelar setiap bulannya pada malam keempat belas bertepatan saat bulan purnama.

Ruangan dilengkapi perapian di Imah Gede menghangatkan para anggota Tim Arung Jeram Mapala UI yang sebelumnya kehujanan (30/1/2018). Tim mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.Dokumentasi Mapala UI Ruangan dilengkapi perapian di Imah Gede menghangatkan para anggota Tim Arung Jeram Mapala UI yang sebelumnya kehujanan (30/1/2018). Tim mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.
Namun, saya tak ambil pusing karena melewatkan ritual itu. Yang penting, bagi saya dan juga tim adalah bisa tiba kembali ke rumah setelah mengarungi Sungai Cibareno. Sedikit ngeri-ngeri sedap juga begitu pernyataan yang mengejutkan meluncur dari mulut seorang rendangan.

“Itu sungai sudah banyak memakan korban jiwa,” ujar Aki Wanda Suganda, seorang rendangan di Kasepuhan Ciptamulya.

Sungai Cibareno adalah sungai yang menjadi batas alam antara Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat. Jeram-jeram yang nyaris tak bisa diarungi oleh perahu karet tersebar di sepanjang sungai.

Sungai Cibareno sendiri menjadi garis batas beberapa kampung adat yang ada di Provinsi Banten. Sebut saja Sinaresmi, Cisungsang, dan Ciptagelar. Sungai bertipe continuous ini tergolong sungai yang berarus kuat, hal itu menyebabkan tak banyak warga sekitar yang beraktivitas di Sungai Cibareno. Meskipun begitu, sungai tersebut dimanfaatkan sebagai irigasi untuk mengairi sawah-sawah warga.

Berbekal informasi-informasi tersebut, kami datang ke Kasepuhan Ciptamulya. Ya, untuk mendapatkan izin dari pemerintah adat selain ke pemerintah lokal.

Tim Arung Jeram Mapala UI dan para rendangan berbincang sambil menikmati sajian di Imah Gede (30/1/2018). Tim mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.Dokumentasi Mapala UI Tim Arung Jeram Mapala UI dan para rendangan berbincang sambil menikmati sajian di Imah Gede (30/1/2018). Tim mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.
Ritual adat dimulai

“Barang-barang ini nanti harus dilinting kemudian dibakar setiap malam, tiap kalian berpindah tempat,” ujar Aki Wanda sembari menunjuk bahan-bahan ritual yang tergeletak di atas karpet, menyan dan panglae(jenis tanaman obat dengan nama latin, Zingiber montanum).

Kedua bahan ritual ini nantinya akan ‘dibekali’ oleh Abah. Kami masuk ke ruangan Abah Enri. Ruangan kecil tersebut mempunyai sebuah singgasana sederhana, berupa tempat duduk dengan level, dan dupa yang dibakar pada sisi kanan dan kirinya.

Sekejap bau dupa menguar. Ritual pun dimulai.

Tak ada satu pun dari kami yang berbicara. Mata kami tertuju ke Abah Enri dan rerendangan. Kami semua duduk berlutut, termasuk seorang rendangan yang duduk di tengah-tengah kami, menghadap Abah yang duduk di atas kursinya. Ia menyampaikan maksud kedatangan kami kepada Abah.

Tim Arung Jeram Mapala UI menyempatkan foto bersama di depan Imah Gede bersama Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya, Suhendri Wijaya dan para rendangan seusai kunjungan (30/1/2018). Tim Mapala UI mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.Dokumentasi Mapala UI Tim Arung Jeram Mapala UI menyempatkan foto bersama di depan Imah Gede bersama Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya, Suhendri Wijaya dan para rendangan seusai kunjungan (30/1/2018). Tim Mapala UI mengunjungi Kasepuhan Ciptamulya untuk meminta ijin adat dalam rangka mengarungi Sungai Cibareno.
Seorang rendangan menginstruksikan salah satu dari kami untuk menyerahkan bahan ritual kepada Abah. Abah lalu komat-kamit merapalkan mantra dalam Bahasa Sunda. Kemudian, di atas tangannya, Abah menyembur menyan dan panglae. Upacara kecil itu diakhiri dengan saling bersalaman.

“Istilahnya kalau ada yang punya, harus izin kepada yang punya tersebut,” ujar Aki Didin, seorang dukun di Kasepuhan Ciptamulya, menjelaskan pengalaman yang baru kami alami tersebut. Setelah ritual tersebut, kami dianggap telah mendapat ridho untuk mengarungi Sungai Cibareno.

Hukum adat berlaku baik bagi warga maupun tamu di wilayah adat. Abah merupakan representasi leluhur. Restu leluhur harus menyertai segala aktivitas yang dilakukan masyarakat adat. Dalam wilayah adat, ketidaktaatan dapat berbuah bencana. Karena itulah, siapapun orangnya, selama berada di wilayah adat, wajib hukumnya untuk melakukan ritual adat.

(MUTIA HANUM, anggota organisasi Mapala UI. Artikel ini merupakan  hasil perjalanan Tim Eksplorasi Arung Jeram Mapala UI ke Sungai Cibareno)



Close Ads X