3 Resto Tempat Santap Kuliner Favorit Raja-raja Keraton - Kompas.com

3 Resto Tempat Santap Kuliner Favorit Raja-raja Keraton

Kompas.com - 15/03/2018, 12:52 WIB
Set menu hidangan di Restoran Bale Raos, di kawasan Keraton Kasunanan Yogyakarta, Sabtu (12/3/2018).KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Set menu hidangan di Restoran Bale Raos, di kawasan Keraton Kasunanan Yogyakarta, Sabtu (12/3/2018).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Berwisata kuliner di Yogyakarta dan Solo, tak hanya dari ragam kuliner tradisional masyarakatnya. Anda bisa menelusuri ragam kuliner tradisional khas kerajaan dari kedua kota tersebut.

Tentu selain berwisata kuliner juga Anda bisa mempelajari berbagai sejarah kerajaannya yang menarik. Bahkan di beberapa tempatnya juga menyatu dengan lokasi kerajaan, ataupun museum-museum tempat barang bersejarah kerajaan.

Berbagai kuliner raja memang terkesan spesial dan eksklusif. Anda akan merasakan sentuhan tradisional Indonesia yang kaya rempah, hingga sentuhan eropa saat zaman kolonial.

Berikut KompasTravel rangkum tiga resto tempat menicipi hidangan-hidangan favorit raja-raja.

1. Bale Raos, Yogyakarta

Resto ini berada di sisi selatan Keraton Yogyakarta, tepatnya di Jalan Magangan Kulon No.1, Desa Panembahan, Kraton, Kota Yogyakarta.

Bangunan resto ini menggunakan desain joglo khas Jawa, dibalut ukiran ala keraton di tiang-tiangnya. Wisatawan pun diiringi alunan gending jawa, sepanjang santap makan.

Resto ini berdiri tahun 2004, oleh kerabat Keraton Yogyakarta KPGH Hadiwinoto. Ia memiliki visi melestarikan kuliner Keraton Yogyakarta, agar tetap bisa dinikmati masyarakat.

Ada sekitar 70 hidangan tersedia di Bale Raos. Salah satu hidangan favoritnya bebek suwar-suwir dengan saus kedondong kesukaan Sultan Hamengku Buwono (HB ) IX, semur piyik, burung dara dengan rasa manis dan salad Huzaren asal Belanda kesukaan HB VIII.

Hidangan Favorit lain di situ adalah lombok kethok, yaitu daging sapi yang dimasak dengan cabai. Sedangkan minuman favorit, “Wedang secang dan bir Jawa. Keduanya dibuat dari bahan rempah-rempah.

Bangunan joglo khas budaya Jawa, di Restoran Bale Raos di kawasan Keraton Kasunanan Yogyakarta, Sabtu (12/3/2018).KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Bangunan joglo khas budaya Jawa, di Restoran Bale Raos di kawasan Keraton Kasunanan Yogyakarta, Sabtu (12/3/2018).
2. Gadri Resto, Yogyakarta

Masih di lingkungan keraton, persisnya di Jalan Rotowijayan, ada pula rumah makan yang menyajikan menu favorit para sultan, yang telah dibuka sejak lebih dari 20 tahun silam. Namanya Gadri Resto, dikelola BRAy Hj. Nuraida, istri GBPH Joyokusumo, adik HB X.

Selain restoran, di sana juga berfungsi sebagai museum. Bangunan yang menyimpan banyak benda bersejarah Keraton ialah Ndalem Joyokusuman yang masih bagian dari Kesultanan Yogyakarta, dan dibangun tahun 1916.

Salah satu makanan favorit di situ adalah nasi blawong. Hidangan ini hampir mirip nasi kebuli, tapi tidak terlalu menyengat. Dihidangkan dengan ayam bacem, lombok kethok daging, telur pindang goreng, peyek teri, plus lalapan dan sambal.

Salah satu menu kegemaran Sri Sultan HB IX yang tersedia di Gadri adalah arseng, kolak pisang kepok matang yang dimasak tanpa gula jawa seperti lazimnya kolak lainnya.

3. Omah Sinten, Solo

Omah Sinten menawarkan menu-menu Keraton Kesunan Solo dan Pura Mangkunegaran Solo. Nuansa kerajaan terasakan pula di restoran yang berlokasi persis di seberang Pura Mangkunegaran itu.

Menu-menu yang ditawarkan bakal mengingatkan tentang citarasa empat penguasa Solo dan Yogyakarta yang sama-sama anak-turun para raja Mataram.

Di Omah Sinten hidangan yang tersaji hampir mirip dengan bergam menu yang ada di dua resto sebelumnya. Maklum ketiganya masih satu turunan raja-raja Mataram. Mulai dari Manuk Nom, Garang Asem, dan lainnya.

Ada satu yang unik di Omah Sinten, yaitu nasi golong, disuguhkan bersama urap sayuran, telur rebus, tahu dan tempe goreng, ayam goreng, dan sayur bening atau disebut juga sayur loncom, rebusan bayam, jagung, dan wortel.

Menu istimewa lain di Omah Sinten adalah sate penthul, menu langka yang hanya dimasak di Kasunanan Surakarta delapan tahun sekali, saat upacara Adang Sega Tahun Dal atau upacara menanak nasi Sunan Paku Buwono (PB) dalam Grebeg Maulud tahun Dal.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X