Kisah Papan Nama Organisasi Modern Tionghoa Pertama di Indonesia

Kompas.com - 15/03/2018, 18:15 WIB
Azmi Abubakar (46) di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang diririkannya tahun 2011.Kompas.com/Silvita Agmasari Azmi Abubakar (46) di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang diririkannya tahun 2011.

JAKARTA, KOMPAS.com - Azmi terkejut ketika membuka buku 'Peranakan Tionghoa Indonesia, Sebuah Perjalanan Budaya' terbitan Initisari Mediatama. Di bab pembuka 'Menjadi Peranakan Tionghoa' ada foto hitam putih yang menampilkan barisan orang Tionghoa zaman lampau berpakaian gaya Eropa.

Di atas barisan orang tersebut, terdapat papan nama besar dalam aksara Mandarin. Tulisan, bentuk aksara, dan ukuran papannya sama persis dengan yang ia gantung di atas pintu Museum Pustaka Peranakan Tionghoa miliknya.

Baca juga : Indonesia di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

Papan tersebut adalah papan organisasi modern Tionghoa pertama di Indonesia, Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK). Sebuah organisasi yang didirikan oleh para tokoh Tionghoa intelektual tahun 1900.

Organisasi ini juga menjadi cikal bakal berdirinya sekolah-sekolah Tionghoa di Hindia Belanda dan penyebutan nama Tionghoa, yang merujuk pada etnis peranakan Tiongkok yang lahir dan tinggal di Indonesia.

"Saya tidak tahu ternyata itu papan bersejarah. Kaget saya lihat foto itu. Saya sampai terharu," kata Azmi ditemui di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (13/3/2018).

Azmi Abubakar (46) adalah pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang dibuka sejak 2011. Azmi yang berdarah Aceh selama puluhan tahun mengumpulkan literatur Tionghoa agar dapat diakses oleh seluruh masyarakat.

Foto anggota Tiong Hoa Hwee Kwan, organisasi modern Tionghoa pertama di Hindia Belanda.Kompas.com/Silvita Agmasari Foto anggota Tiong Hoa Hwee Kwan, organisasi modern Tionghoa pertama di Hindia Belanda.

"Saya cuma bilang sama teman-teman di awal. Kalau lihat papan nama besar aksara Mandarin tolong kabari. Saya butuh untuk papan nama museum," kata Azmi.

Sampai suatu saat ada temannya yang menelpon, melihat papan nama besar dari kayu jati di Solo, Jawa Tengah. Pergilah Azmi ke Solo, menuju pedagang yang dimaksud.

"Sampai sana pedagangnya bilang papannya masih ada tapi sedikit retak. Dia taruh di rumah karena sudah lama tidak laku," jelas Azmi.

Sepanjang jalan pulang dari Solo dengan kereta api, ia cuma berharap papan nama besar yang dibawa tersebut bukan bertuliskan rumah abu.

"Saya tidak bisa baca tulisannya. Pedagangnya juga tidak bisa," kata Azmi.

Sampailah ia di Serpong, dan ia pajang papan nama tersebut di depan ruko, lokasi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Baca juga : Kisah John Lie, Pahlawan Indonesia Keturunan Tionghoa

"Suatu pagi ada engkoh-engkoh lari pagi, ia datangi saya tanya dapat dari mana papannya. Lalu engkoh itu bilang itu tulisannya Tiong Hoa Hwee Kwan. Saya sih iya-iya saja, namanya juga orang tua," kata Azmi yang mengaku tak percaya di awal. Sampai suatu ketika ia ikut seminar bertema Tionghoa dan bertemu dengan buku yang memuat foto THHK tersebut.

Pulang dari seminar tersebut, Azmi langsung mencabut papan nama tersebut dan menaruhnya di dalam museum. Kini papan berusia 118 tahun tersebut menjadi koleksi berharga Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang tidak akan ia jual.

THHK sendiri merupakan organisasi modern yang mendorong lahirnya organisasi pergerakan nasional modern di Hindia Belanda. Salah satunya Boedi Oetomo yang berperan besar dalam kemerdekaan RI.

THHK yang juga menjadi sekolah swasta pertama tanpa pengantar bahasa Belanda. Mendorong berdirinya sekolah-sekolah lain untuk mandiri, mengajarkan ilmu kepada anak-anak tanpa campur tangan kolonial.




Close Ads X