Meriahnya Kirab Budaya 19 Kelenteng se-Jawa Bali di Banyuwangi

Kompas.com - 19/03/2018, 20:36 WIB
Atraksi kirab di halaman Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi KOMPAS.COM/Ira RachmawatiAtraksi kirab di halaman Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Ribuan orang mengikuti kirab budaya yang diselenggarakan oleh umat Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hoo Tong Bio yang ada Jalan Ikan Gurami, Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi, Sabtu (17/3/2018).

Kirab tersebut diikuti oleh 19 klenteng se-Jawa Bali dan Lombok dengan jumlah patung yang diarak sebanyak 21 patung. Kirab tersebut untuk memperingati bertahtanya Kongco Tan Hu Cin Jin di Klenteng Hoo Tong Bio yang ke-234 tahun.

Kelenteng Ho Tong Bio dikenal sebagai "ibu" dari 8 klenteng Tan Hu Cin Jin yang tersebar di beberapa lokasi di sekitar Banyuwangi, sekaligus sebagai kelenteng tertua. Kelenteng lain berlokasi di Besuki (Situbondo), Probolinggo, Lombok, Jembrana, Tabanan, Kuta, dan Buleleng.

Nama Kelenteng Ho Tong Bio yang berada di kawasan Pecinan Banyuwangi memiliki arti "Kuil Perlindungan Chinese". Pembangunan kelenteng ini juga merupakan persembahan kepada leluhur mereka, Kongco Ta Hu Cin Jin, yang dipercaya melindungi orang-orang Tionghoa di Blambangan, wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Banyuwangi.

Barongsai ikut meramaikan kirab  budaya yang diselenggarakan umat Tridharma Klenteng Hoo Tong Bio BanyuwangiKOMPAS.COM/Ira Rachmawati Barongsai ikut meramaikan kirab budaya yang diselenggarakan umat Tridharma Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi

Susana Indriarty (66), ketua (TITD) Hoo Tong Bio kepada Kompas.com, Sabtu (17/3/2018) menjelaskan pada zaman Kerajaan Blambangan para etnis Tionghoa menyelamatkan diri dari peperangan dan berlindung di wilayah yang saat ini tempat didirikan klenteng. Saat itu semuanya yang berlindung di satu tempat itu selamat, sedangkan warga etnis Tionghoa yang berlindung ditempat lain mati terbunuh.

"Akhirnya orang-orang etnis Tionghoa mendirikan klenteng yang sederhana dan diberi nama Hoo Tong Bio dan persembahan dberikan kepada Kongco Ta Hu Cin Jin, leluhur yang menyelamatkan orang Tionghoa di Blambangan. Dan kirab ini digelar untuk memperingati bertahtanya Konco di Klenteng Hoo Tong Bio," jelasnya.

Susana menjelaskan kirab tersebut merupakan upacara ritual dengan tujuan agar masyarakat khususnya di Banyuwangi mendapatkan kesejahteraan, negara lebih makmur, dijauhkan dari marabahaya serta musim sesuai dengan waktunya.

"Jika musim penghujan ya hujan turun, jika musim kemarau ya panas karena jika semua sesuai dengan siklus maka pertanian akan subur dan berlimpah. Itu juga yang kita harapkan," jelasnya.

Sebelum kirab dimulai, patung Kongco Ta Hu Cin Jin dan pengawalnya diletakan tandu yang dipenuhi dengan bunga. Lalu pintu utama klenteng ditutup rapat dan diletakkan Hu atau kertas jimat tepat di depan pintu. Menurut Susana, hal tersebut dilakukan karena pemilik rumah yaitu Kongco Ta Hu Cin Jin keluar untuk dikirab sehingga klenteng dalam keadaan kosong.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X