Kompas.com - 23/03/2018, 13:24 WIB
Sambal plecing, sambal colo colo, dan sambal matah dalam workshop membuat sambal di restoran KAUM, Jakarta. Kompas.com/Silvita AgmasariSambal plecing, sambal colo colo, dan sambal matah dalam workshop membuat sambal di restoran KAUM, Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com -Kenaikan harga cabai dapat membuat resah seluruh golongan masyarakat. Tak dapat dipungkiri, cabai sebagai bahan utama membuat sambal memiliki peran besar untuk menambah selera makan orang Indonesia.

Kecintaan orang Indonesia terhadap sambal juga dapat dilihat dari barang bawaannya ke luar negeri, tak lain adalah sambal sachet. Sejak kapan sebenarnya orang Indonesia mengonsumsi sambal?

"Sambal adalah hal yang mendasar bagi orang Indonesia. Istilahnya tidak ada sambal, makan jadi hambar. Ada 300 etnis di Indonesia, kalau satu etnis punya lima jenis sambal saja, bayangkan sebanyak apa jumlah sambal," kata Brand Director Kaum, Lisa Virgiano dalam acara workshop membuat sambal, di KAUM, Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Baca juga : Ulek, Tumbuk, atau Blender, Mana yang Lebih Enak untuk Sambal?

Berdasarkan data yang diberikan Lisa, cabai sebenarnya bukan tumbuhan asli Indonesia. Namun temuan arkeolog Indonesia, Titi Surti Nastiti menyebutkan cabai telah menjadi komoditas berharga di pasar tradisional sejarak era Kerajaan Mataram Kuno.

Baca juga : Sambal Colo-Colo, Sambal dari Timur Indonesia yang Banyak Versi

Pada teks kuno Ramayana dari abad ke-10, cabai juga disebutkan menjadi buah yang dapat dimakan. Bagaimana cabai bisa sampai dan tumbuh di Indonesia sampai sekarang belum dapat dibuktikan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di zaman Hindia Belanda, jejak cabai sebagai barang konsumsi juga tercatat di buku De Medicina Indorum (1631) yang ditulis oleh ahli medis dan obat tropis, Jacob de Bondt. Kemudian pada tahun 1669 juga ada sebuah syair dari van Overbeke yang berbunyi, "Kacang kedelai, jahe, bawang putih, dan cabai membuat perut berputar (mulas) karena rasa pedas".

Uniknya, meski orang Barat tidak tahan dengan rasa pedas, mereka merasa sambal adalah makanan eksotis. Pada zaman VOC Belanda, pembantu pribumi dianggap memiliki nilai lebih tinggi jika dapat membuat sambal yang enak bagi tuannya.

Selain itu, ada juga peringatan bagi wisatawan yang berkunjung ke Hindia Belanda tentang bahaya sambal bagi perut mereka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.