Kompas.com - 29/03/2018, 22:40 WIB
Everest AFP/ ROBERTO SCHMIDTEverest

JAKARTA, KOMPAS.com - Dua pendaki perempuan yang tergabung dalam organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala Unpar), Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) dan Mathilda Dwi Lestari (24) bakal menuntaskan misi pendakian tujuh puncak tertinggi di tujuh benua (The Seven Summits) dengan mendaki Gunung Everest via sisi utara yaitu jalur Tibet.

Kedua anggota Mahitala Unpar itu dijadwalkan berangkat ke Kathmandu, Nepal, Kamis (29/3) malam ini dari via Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.
 
Kedua pendaki yang tergabung dalam tim The Woman of Indonesia Seven Summits Expediton Mahitala Unpar (WISSEMU) itu sebelumnya telah berhasil mendaki enam puncak gunung tertinggi di dunia sejak tahun 2014.
 
Kedua pendaki tersebut menyatakan siap untuk menuntaskan misi pendakian tujuh puncak di tujuh benua yang dilakukan pada periode akhir Maret - Mei.
 
"Tantangan terberat (pendakian Gunung Everest itu adalah ketinggiannya. Jauh dari yang kami lewati. Strategi pendakian 7 puncak ini sudah kami atur sedemikian rupa, karena kita gak punya medan latihannya di Indonesia. Gunung yang kami daki adalah itu untuk latihan gunung selanjutnya. Everest adalah gunung terakhir," kata Fransiska seusai acara #DengarYangMuda di Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (29/3).
 
Dua pendaki perempuan dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala Unpar) Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) (kiri) dan Mathilda Dwi Lestari (24) (kanan) memberikan sambutan dalam acara #DengaryangMuda di Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (29/3). Meraka adalah dua orang perempuan yang sedang dalam misi untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi di dunia, puncak
Gunung Everest. Mereka Tergabung dalam tim The Women of Indonesias Seven Summits Expedition
Mahitala Unpar (WISSEMU), Gunung EverestKOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Dua pendaki perempuan dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala Unpar) Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) (kiri) dan Mathilda Dwi Lestari (24) (kanan) memberikan sambutan dalam acara #DengaryangMuda di Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (29/3). Meraka adalah dua orang perempuan yang sedang dalam misi untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi di dunia, puncak Gunung Everest. Mereka Tergabung dalam tim The Women of Indonesias Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU), Gunung Everest
Mathilda menambahkan persiapan pendakian Gunung Everest sudah dilakukan sejak tahun 2014. Tahun tersebut adalah dimulainya pendakian ke tujuh benua yakni ke Carstensz Pyramid, Papua.

"Persiapan untuk alat-alat pendakian sudah sejak awal. Latihan fisik tak pernah putus. Dari segi finansial dari tahun 2014, kami cari sponsor sana-sini hingga dapat BRI," ujarnya.

Menurutnya, tim pendaki perempuan akan melewati sisi utara lantaran untuk menghindari potensi bahaya di sisi selatan Gunung Everest. Mathilda menyebut salah satu bahaya yang mengancam bila melewati jalur selatan adalah Khumbu Icefall.
 
"Alasannya, pertama itu di selatan Gunung Everest ada Khumbu Icefall. Pergerakan (gletser) cepat. Kalau sudah siang kita jalan, si gletser itu bisa longsor. Itu membahayakan pendaki. Kalau sisi utara itu lebih landai. Tidak terlalu pada antrian pendakian. Lebih padat antreannya di selatan. Itu meminimalkan antrean di gunung," ujarnya.
 
Mathilda mengatakan total durasi pendakian Gunung Everest akan memakan waktu 57 hari. Aklimatisasi akan dilakukan di Lantang, Nepal sekitar seminggu dan lalu melanjutkan perjalanan ke Tibet melalui jalur udara dan darat menuju Everest Base Camp.
 
Sherpa di EverestDISCOVERY CHANNEL Sherpa di Everest
"Rencana summit ke puncak Everest tanggal 14 Mei," ujar Mathilda.
 
General Manager WISSEMU, Sebastian Prasetyo menambahkan proses aklimatisasi akan dilakukan sepanjang perjalanan menuju Everest Base Camp. Di beberapa tempat sepanjang perjalanan, tim akan terus melakukan aklimatisasi untuk menyesuaikan kondisi tubuh terhadap perubahan ketinggian.
 
Didukung Presiden Joko Widodo
 
Pendakian Gunung Everest oleh kedua pendaki perempuan turut menyita perhatian Presiden Joko Widodo. Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono.
 
"Memang pada intinya bapak Presiden secara prinsip mendukung kegiatan positif para pemuda atau dalam hal ini pemudi untuk mencapai cita-citanya," katanya.
 
Menurutnya, Jokowi mendukung kegiatan pendakian Gunung Everest lantaran optimis tim bisa membawa nama harum Indonesia di kancah internasional.
 
Dua pendaki perempuan dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala Unpar) Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) (kiri) dan Mathilda Dwi Lestari (24) (kanan) bersama para undangan acara #DengaryangMuda di Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (29/3). Meraka adalah dua orang perempuan yang sedang dalam misi untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi di dunia, puncak
Gunung Everest. Mereka Tergabung dalam tim The Women of Indonesias Seven Summits Expedition
Mahitala Unpar (WISSEMU), Gunung EverestKOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Dua pendaki perempuan dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala Unpar) Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) (kiri) dan Mathilda Dwi Lestari (24) (kanan) bersama para undangan acara #DengaryangMuda di Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (29/3). Meraka adalah dua orang perempuan yang sedang dalam misi untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi di dunia, puncak Gunung Everest. Mereka Tergabung dalam tim The Women of Indonesias Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU), Gunung Everest
"Beliau sangat mendukung secara spesifik karena memang kegiatan mereka bukan hanya membawa nama pribadi, bukan membawa nama Wissemu atau Unpar, tetapi bisa membawa Indonesia ke panggung internasional dengan mendaki tujuh puncak dunia. Upaya ini disambut baik karena beliau percaya bisa membawa nama harum bangsa," jelasnya.
 
Sebelumnya, WISSEMU sendiri telah berhasil mendaki enam puncak tertinggi di 6 benua berbeda, yakni Puncak Jaya atau Cartensz Pyramid di Oseania, Elbrus di Eropa, Kilimanjaro di Afrika, Aconcagua di Amerika Selatan, Denali di Amerika Utara, dan Vinson Massif di Antartika.
 
Gunung Everest sendiri memiliki dua jalur populer untuk pendakian komersil yaitu dari sisi utara yaitu Tibet dan sisi selatan yaitu Nepal. Gunung Everest memiliki ketinggian 8.848 meter di atas permukaan laut atau hampir sama dengan menumpuk dua Gunung Carstensz, gunung tertinggi di Indonesia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X