Nawu Sendang, Tradisi Turun-temurun di Kulon Progo - Kompas.com

Nawu Sendang, Tradisi Turun-temurun di Kulon Progo

Kompas.com - 08/04/2018, 16:26 WIB
Warga membawa nasi gurih bentuk tumpeng lengkap dengan lauk pauknya. Termasuk ingkung ayam kampung. Ratusan orang memadati tradisi ini.KOMPAS.com/Dani J Warga membawa nasi gurih bentuk tumpeng lengkap dengan lauk pauknya. Termasuk ingkung ayam kampung. Ratusan orang memadati tradisi ini.

KULON PROGO, KOMPAS.com – Ratusan pria mengarak nasi putih yang dibentuk tumpeng (gunungan atau kerucut) berhias sayur-mayur, telur rebus, juga lauk-pauk. Di antara mereka juga ada yang mengarak ingkung ayam kampung dalam bentuk masih utuh. Wanita-wanita ada di barisan tengah arak-arakan itu, disusul para penari kuda lumping, juga ratusan warga di bagian paling belakang.

Para pria mengarak nasi-nasi tumpeng itu dengan tatakan yang dipikul berempat. Para wanita masing-masing memikul gunungan nasi yang dibentuk dengan mangkuk dan diletakkan pada tampah dari anyaman kulit bambu. Arak-arakan itu menuruni bukit menuju lembah sejauh 500 meter.

Mereka adalah penduduk Dusun Clapar di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kulon Progo, Yogyakarta, dan warga yang datang dari sekitar dusun. Mereka berdandan rapi sepanjang siang hari ini. Para lelaki mengenakan surjan (baju), jarit (bawahan), selop sebagai alas kaki, dengan tutup kepala blankon, keris terselip di pinggang belakang, sambil memikul gunungan itu. Sedangkan para perempuan berkebaya serta rambutnya disanggul. Sebagian lagi mengenakan pakaian batik dan berdandan cantik.

Semua warga yang ikut tradisi ini berdandan dan mempercantik diri.KOMPAS.com/Dani J Semua warga yang ikut tradisi ini berdandan dan mempercantik diri.

Warga memang sengaja berdandan rapi hari ini untuk mengikuti tradisi Nawu Sendang Sumber Rejo. Ini merupakan tradisi turun temurun sejak nenek moyang masyarakat di sana sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta atas segala nikmat yang telah diberikan. Utamanya atas hasil bumi dari kegiatan bertani, mengelola lahan dan memanen hasilnya untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk dijual ke pasar.

“Ini adalah nguri-uri kabudayan (tradisi melestarikan kebudayaan) bahkan sebelum saya ada. Zaman kakek saya sudah ada. Selanjutnya, tinggal melestarikan kebudayaan simbah-simbah,” kata Sawal Notosusilo, sesepuh Clapar, Jumat (6/4/2018).

Tradisi Nawu Sendang berlangsung di pusat dusun. Lokasinya berada di sebuah lembah di mana ada sebuah mata air yang konon tidak pernah kering. Sendang itu berada di antara akar pohon gayam, pohon pule, dan beringin. Mata air itu ditudungi atap rumah-rumahan yang dikelilingi pagar dari gedhek atau anyaman bambu.

Tak jauh dari mata air terdapat sebuah pendopo kecil tempat berlangsungnya upacara kecil yang diikuti ratusan orang. Nawu Sendang Sumber Rejo diartikan warga sebagai membersihkan mata air sebagai sumber kemakmuran. Tradisi dibikin dalam bentuk upacara berupa doa, makan bersama, hiburan gamelan dan tari ledek, hingga kuda lumping. Semua berlangsung dengan pengantar dalam bahasa Jawa. Hiburan digelar di pendopo itu usah upacara. 

Semua acara itu berlangsung di lokasi yang terbilang sempit. Jalanan aspal yang berada di tebing atas dipenuhi ratusan penonton yang membuat kawasan jadi terasa sesak dan panas. Belum lagi jalanan semakin sempit dengan banyaknya pedagang dadakan. Meski sempit, tetap saja semuanya menarik untuk diikuti.

Warga membawa nasi gurih bentuk tumpeng lengkap dengan lauk pauknya. Termasuk ingkung ayam kampung. Ratusan orang memadati tradisi ini.KOMPAS.com/Dani J Warga membawa nasi gurih bentuk tumpeng lengkap dengan lauk pauknya. Termasuk ingkung ayam kampung. Ratusan orang memadati tradisi ini.

Prosesi Nawu Sendang menggambarkan bahwa masyarakat dusun memperoleh rahmat berupa kekayaan alam berlimpah dan bisa memberi hasil baik bagi warga bila dikelola dengan bijak. Semua itu seperti mata air yang tidak pernah kering laiknya Sumber Rejo.  

Turun temurun mereka menggelar tradisi ini dua kali dalam tiga tahun, yakni di setiap Jumat Kliwon atau Jumat Legi pada bulan Rajab berdasarkan penanggalan Jawa.

“Sekarang ini Jumat Legi,” kata Suradiyono, mantan ketua RW yang kini sesepuh bagi warga Clapar.

Penduduk menyambut gembira tiap bulan Rajab. Mereka menanti tradisi ini. Mereka berdandan rapi, berkumpul di sana, menikmati sejumlah hiburan usai upacara. Hiburan di sana seperti kuda lumping dan tayub.

“Warga Clapar yang hadir di sini. Juga warga sekitar Clapar. Clapar sendiri bisa sampai 300 kepala keluarga,” kata Sawal.

Tradisi ini membuat Clapar jadi satu lagi deretan tempat menarik untuk dikunjungi di punggung Pegunungan Menoreh, khususnya Kecamatan Kokap. Di sekitaran Clapar terdapat destinasi-destinasi wisata panorama, seperti Kalibiru dan Pulepayung, yang sudah sangat terkenal. Clapar tidak jauh dari Pulepayung dan Kalibiru. Mereka hanya bertetangga dusun saja.

Mampir ke destinasi-destinasi terkenal itu di bulan Rajab, jangan lupa mampir ke Clapar. Tradisi Nawu Sendang bisa jadi referensi tambahan asyiknya berwisata ke Kulon Progo.


Komentar
Close Ads X