Malaysia Urutan Pertama Wisata Halal Dunia, di Mana Posisi Indonesia?

Kompas.com - 12/04/2018, 06:35 WIB
Menteri Arief Yahya mewakili Indonesia dalam penerimaan sertifikat peringkat industri wisata muslim dunia dari Mastercard-CrescentRating dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018, di Jakarta, Rabu (11/4/2018). KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIAMenteri Arief Yahya mewakili Indonesia dalam penerimaan sertifikat peringkat industri wisata muslim dunia dari Mastercard-CrescentRating dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018, di Jakarta, Rabu (11/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga rating wisata muslim dunia, Mastercard-CrescentRating kembali merilis hasil Global Muslim Travel Index (GMTI) untuk 2018, hasilnya Malaysia secara berturut-turut selama delapan tahun kembali menjuarai indeks wisata halal dunia. Sedangkan Indonesia berhasil naik di urutan kedua bersama Uni Emirat Arab.

Mastercard-CrescentRating mengumumkan hal tersebut kepada Menteri Pariwisata Arief Yahya, dan perwakilan industri pariwisata di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (11/4/2018). Temuan tersebut berdasarkan riset tahunan dengan mengukur berbagai parameter wisata halal dari 130 destinasi di dunia.

Baca juga : Dispar Sulsel Berencana Kembangkan Wisata Halal di Toraja

Dari 130 negara, dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu negara yang masuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan negara non-OKI. Untuk negara yang masuk dalam OKI, Malaysia masih tetap di posisi utama, dengan skor 80,6, diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Indonesia dengan skor 72,8.

Sejumlah wisatawan berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Pantai Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (10/10/2017). PT PLN (Persero) memprediksi kebutuhan listrik di KEK Mandalika itu baru sebesar 65 MW pada 2025, dan akan mencapai 111 MW pada 2030.ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI Sejumlah wisatawan berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Pantai Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (10/10/2017). PT PLN (Persero) memprediksi kebutuhan listrik di KEK Mandalika itu baru sebesar 65 MW pada 2025, dan akan mencapai 111 MW pada 2030.
Singapura mempertahankan posisi puncaknya untuk destinasi non-OKI, diikuti oleh Thailand dan Inggris, sementara posisi Jepang dan Taiwan meningkat pesat menempati lima destinasi teratas untuk pertama kalinya sejak GMTI diluncurkan.

Baca juga : Ini Kata Praktisi soal Wisata Halal di DKI Jakarta

Sebagai perbandingan, Singapura memegang skor tertinggi untuk destinasi negara non-OKI dengan skor 66,2.

Taiwan dan Jepang terus meningkatkan posisi mereka secara keseluruhan dengan skor rata-rata GMTI sebagai destinasi wisata di wilayah Asia yang menarik perhatian wisatawan Muslim dari seluruh dunia, diikuti oleh Eropa.

Wisatawan menikmati pemandangan taman wisata halal Jeulikat, Lhokseumawe, Aceh, Jumat (28/7). Pemerintah Aceh melalui pemerintah kabupaten/kota berkonsentrasi menyediakan fasilitas dan percepatan pengembangan pariwisata wisata halal yang sedang menjadi tren dunia dengan halal lifestyle menuju kesiapan Aceh sebagai destinasi utama wisata halal unggulan di Indonesia. ANTARA FOTO/Rahmad/foc/17. Rahmad Wisatawan menikmati pemandangan taman wisata halal Jeulikat, Lhokseumawe, Aceh, Jumat (28/7). Pemerintah Aceh melalui pemerintah kabupaten/kota berkonsentrasi menyediakan fasilitas dan percepatan pengembangan pariwisata wisata halal yang sedang menjadi tren dunia dengan halal lifestyle menuju kesiapan Aceh sebagai destinasi utama wisata halal unggulan di Indonesia. ANTARA FOTO/Rahmad/foc/17.
"Tak diduga Jepang dan Taiwan melesat dengan pertama kalinya masuk lima besar, padahal dua-tiga tahun lalu mereka masih dalam posisi 20-an, itu merupakan loncatan paling tinggi," tutur Fazal Bahardeen, CEO CrescentRating & HalalTrip setelah pengumuman peringat GMTI, di Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Ia mengapresiasi langkah Indonesia yang terus naik walau perlahan. Setiap tahunnya Indonesia naik satu peringkat, hingga 2018 ini di posisi ke dua bersama Uni Emirat Arab.

Menurutnya indeks ini menunjukkan bahwa sejumlah negara non-OKI di Asia berhasil menaikkan peringkat mereka. Hal ini merupakan hasil dari upaya-upaya mereka dalam menyesuaikan layanan guna menarik serta memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berterima kasih atas hasil yang sudah diterima Indonesia. Menpar memaparkan program-program percepatan wisata halal di Indonesia yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan ke depannya. Ia menargetkan tahun depan Indonesia kembali naik satu posisi menjadi urutan pertama wisata halal dunia.

"Kita punya keunggulan di sini, secara default DNA Indonesia sudah wisata halal gak perlu ditanya lagi kalau makan, tapi ternyata itu juga yang merupakan kelemahan kita, karena enggan untuk mensertifikasi halal sesuai standar dunia," ungkapnya.

Tommy Singgih (kiri), Direktur, Mastercard Indonesia; dan Fazal Bahardeen, CEO dari CrescentRating dan HalalTrip; dalam sesi tanya jawab selama acara Peluncuran Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018.KOMPAS.com/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Tommy Singgih (kiri), Direktur, Mastercard Indonesia; dan Fazal Bahardeen, CEO dari CrescentRating dan HalalTrip; dalam sesi tanya jawab selama acara Peluncuran Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018.
Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata, Riyanto Sofyan mengatakan dengan kenaikan rangking ini diharapkan bisa mendorong investasi wisata halal di Indonesia.

Berikut peringkat pasar wisata muslim dunia hasil Global Muslim Travel Index (GMTI) untuk 2018:

Kategori destinasi OKI

1. Malaysia dengan nilai 80,6
2. Uni Emirat Arab dan Indonesia dengan nilai 72,8
3. Turki dengan nilai 69,1
4. Arab Saudi dengan nilai 68,7
5. Qatar dengan nilai 66,2
6. Bahrain dengan nilai 65,9
7. Oman dengan nilai 65,1
8. Maroko dengan nilai 61,7
9. Kuwait dengan nilai 60,5

Kategori destinasi non-OKI

1. Singapura dengan nilai 66,2
2. Thailand dengan nilai 56,1
3. Inggris dengan nilai 53,8
4. Jepang dengan nilai 51,4
5. Taiwan dan Hongkong dengan nilai 49,6
6. Afrika Selatan dengan nilai 47,7
7. Jerman dengan nilai 45,7
8. Perancis dengan nilai 45,2
9. Australia dengan nilai 44,7

Rombongan turis Islamic Cruise MV Costa Victoria berloma-lomba foto bersama dan selfie di Masjid Raya Baiturrahman, Senin (27/11/2017). SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI Rombongan turis Islamic Cruise MV Costa Victoria berloma-lomba foto bersama dan selfie di Masjid Raya Baiturrahman, Senin (27/11/2017).
GMTI kini merupakan penyedia data berbasis wawasan terdepan yang membantu negara destinasi wisata, jasa perjalanan, dan investor untuk mengetahui perkembangan kesehatan dan pertumbuhan segmen wisata ini sekaligus membandingkan perkembangan masing-masing negara dalam menjangkau wisatawan Muslim.

Seluruh 130 destinasi di GMTI 2018 dinilai berdasarkan beberapa kriteria, dengan metrik pengukuran baru yang ditambahkan dalam penelitian tahun ini termasuk CrescentRating Growth-Innovation Model.

Metrik tersebut termasuk kriteria-kriteria seperti akses terhadap infrastruktur, bagaimana negara-negara tujuan wisata berkomunikasi dengan target pengunjungnya, serta lingkungan dan pelayanan. Setiap kriteria kemudian dihitung untuk menentukan keseluruhan skor indeks.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X