Ini Keistimewaan Sabang dalam Dunia Pelayaran - Kompas.com

Ini Keistimewaan Sabang dalam Dunia Pelayaran

Kompas.com - 16/04/2018, 22:16 WIB
Kapal layar latih KRI Bima Suci milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) bersandar di di Teluk Sabang, Pelabuhan CT-3 Pasiran, Kota Timur, Sabang, Aceh, Jumat (1/12/2017). Selain Bima Suci, kapal KRI Dewa Ruci juga turut meramaikan acara Sail Sabang 2017.KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO Kapal layar latih KRI Bima Suci milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) bersandar di di Teluk Sabang, Pelabuhan CT-3 Pasiran, Kota Timur, Sabang, Aceh, Jumat (1/12/2017). Selain Bima Suci, kapal KRI Dewa Ruci juga turut meramaikan acara Sail Sabang 2017.

JAKARTA, KOMPAS.com – Sabang di DI Aceh adalah salah satu gerbang masuk wisatawan via laut. Beragam kapal mulai dari yacht hingga pesiar kerap bersandar di Sabang sebelum melanjutkan perjalanan.

Peran Sabang sebagai pintu masuk laut Indonesia bukan tanpa saingan. Banyak kapal lebih memilih Langkawi di Malaysia dan Phuket di Thailand sebagai tempat tempat bersandar. Ketiganya saling bersaing, dan dijuluki sebagai segitiga emas Sapula (Sabang, Phuket, Langkawi).

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata, Dwisuryo Indroyono Soesilo mengatakan Sabang memilki keunikan dan keistimewaan sendiri.

Pertama, Sabang dikenal memiliki regulasi yang fleksibel dan memudahkan para pelayar (yachter), untuk berkunjung. Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) selaku pengelola Pelabuhan Sabang mengupayakan pelayanan tersebut dalam satu pintu, dan selesai hanya satu jam saja.

“Hanya satu jam sudah beres mengurus regulasi, yang dulunya berbelit-belit.  Imigrasi yang tertata membuat para yachter yang mudah menjadi salah satu keistimewaan dari Sabang,” terang Indroyono saat ditemui KompasTravel, Senin (16/4/2018).

Kedua, Sabang memiliki kontur alam yang amat menguntungkan para pelayar. Laut yang amat dalam meski di bibir pelabuhan sekitar 25 meter, sehingga memudahkan kapal besar untuk bersandar.

Selain itu tempat bersandarnya kapal-kapal besar juga minim arus dan ombak. Ini karena Sabang tertutupi oleh pulau yang ada di sekitarnya.

“Di sisi pelabuhannya saja sampai 25 meter, mungkin di tengahnya bisa sampe 400 meter. Pelabuhan alamnya bisa langsung disandarkan oleh yacht dan cruise tepat di pinggirnya,” terang Sayid Fadhil, Kepala BPKS, dalam acara yang sama.

Ketiga, wisatawan yang datang pun senang karena Sabang memiliki acara-acara penyambutan tamu wisatawan yang begitu ramai. Sehingga mereka merasa nyaman dan dihargai.

“Mereka (wisatawan) bilang di Sabang kita disambut, kalau di Langkawi dan Penang kita malah dicuekin,” terang Sayid, menceritakan pengalamannya saat berbincang dengan yachter.

Keempat, seperti halnya tempat-tempat lain di Indonesia, bentag alam Sabang yang indah mengundang decak kagum wisman yang datang. Mereka kerap berkeliling berbagai destinasi alam, seperti Goa Jepang, titik-titik snorkeling dan diving, hingga destinasi wisata di Banda Aceh.

Namun, bukan berarti Sabang luput dari kekurangan sebagai destinasi para pelayar. Kurangnya atraksi wisata membuat wisman tidak bisa berlama-lama di sana. Selain itu keterbukaan masyarakat Aceh untuk menawarkan kulinernya, suvenir, atau ragam hasil kreativitas masih perlu ditingkatkan agar semakin mendongkrak perekonomian mereka.

“Yang kita lakukan sudah mulai menyamakan tarif-tarif harga seperti bentor, penjual minuman-makanan supaya seragam, tidak main tembak. Mereka (wisman) sebenarnya punya daya beli yang tinggi, tapi masih bingung ada apa di Aceh yang bisa dibawa,” tutup Sayid.



Close Ads X