BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Hyarta Ecovillage

Yogyakarta di Antara Suasana Klasik dan Modern

Kompas.com - 18/04/2018, 07:07 WIB
|

KOMPAS.com – Pagi itu, Kurnia Adi (28) tampak bersemangat. Ia sudah menunggu-nunggu hari itu selama satu bulan. Pergi ke Yogyakarta dan menikmati suasana pedesaan di sana adalah impiannya.

Kring.. kring.. kring..,” terdengar bunyi bel sepeda ontel tua yang ia sewa dari hotel tempatnya menginap. Meskipun tua, sepeda ini masih kuat untuk diajak berkelana. Dengan bingkai berwarna cokelat tua, sepeda itu tampak cocok dikendarai pria asal Jakarta tersebut.

Sepeda ontel ia pilih karena memang Kurnia memiliki hobi bersepeda. Selain itu, ia juga ingin lebih leluasa menghirup udara bersih Yogyakarta.

Tujuannya hari itu adalah mengunjungi berbagai candi di sekitar Kabupaten Sleman. Candi Sambisari, Candi Prambanan, dan Candi Plaosan menjadi incarannya.

Dari ketiga candi tersebut, Candi Prambanan menjadi favoritnya. Menurut Kurnia, candi ini terlihat begitu mempesona dengan bentuk yang menjulang ke langit.

Dilansir dari borobudurpark.com, Candi Prambanan merupakan candi Hindu termegah di Indonesia. Pada sekitar abad ke-9, Raja Balitung Maha Sambu dari Wangsa Sanjaya membangun candi ini yang dipersembahkan untuk Trimurti.

Trimurti sendiri merupakan sebutan untuk tiga dewa utama Hindu, yaitu Brahma, Wishnu, dan Siwa.

Selepas mengunjungi ketiga candi tersebut, Kurnia tak langsung pulang ke penginapan. Ia lebih memilih untuk menikmati suasana senja di pematang sawah. Tak lupa pula ia keluarkan kamera mirrorless-nya untuk mengabadikan momen tersebut.

Memiliki dua dimensi

Pesona Yogyakarta memang seakan tak pernah luntur oleh zaman. Wisatawan yang berkunjung pun akan disuguhkan suasana klasik dan modern secara bersamaan. Hal tersebut membuat daerah istimewa ini bagai punya dua dimensi.

Wisatawan pun bisa merasakan liburan dengan tema dan aktivitas yang berbeda.

Jika ingin menjelajah sisi klasik Yogyakarta, Anda bisa bersepeda menjelajah candi-candi kuno seperti yang terletak di Kabupaten Sleman. Selain candi, kunjungi juga ragam istana bersejarah, seperti Keraton Yogyakarta dan Istana Air Taman Sari.

Dengan lokasi yang berdekatan, berkeliling dengan sepeda bukan jadi masalah.

Aktivitas lainnya bisa juga didapat dengan berkeliling Kota Gudeg menaiki mobil klasik. Saat ini sudah banyak tersedia rental mobil yang menyewakan mobil klasik untuk wisatawan gunakan. Mobil jenis holden spesial dan opel kapitan bisa jadi pilihan.

Keliling Yogyakarta dengan mobil klasik bisa dijadikan opsi bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa berbeda.KOMPAS.com/ALEK KURNIAWAN Keliling Yogyakarta dengan mobil klasik bisa dijadikan opsi bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa berbeda.

Untuk rute penjelajahan, mulailah dari Jalan Malioboro yang melegenda. Dari sana, wisatawan bisa meneruskan perjalanan dengan mengunjungi De Mata 3D Museum untuk melihat sisi modern Yogyakarta.

Di akhir perjalanan, jangan lupa untuk mengunjungi Pantai Parangtritis. Di sana, nikmati lah suasana senja pinggir pantai.

Dengan ragam pilihan wisata di Yogyakarta, pantas saja kalau provinsi ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Indonesia. Kunjungan wisatawan dari tahun ke tahunnya selalu mengalami peningkatan.

Data dari Dinas Pariwisata DIY 2017 menyebutkan, terjadi peningkatan jumlah wisatawan dari 2012-2016. Peningkatan paling signifikan terjadi pada 2014 ke 2015 dengan jumlah peningkatan 776.025 wisatawan.

Kemudian pada 2016 tercatat kunjungan tertinggi mencapai total 4,5 juta wisatawan.

Bisa jadi tahun-tahun ke depan jumlah wisatawan akan meningkat lebih banyak lagi, mengingat pada 2019 mendatang Yogyakarta akan memiliki bandara baru dengan kapasitas 15 juta penumpang per tahunnya.

Tentu hal tersebut akan meningkatkan geliat pariwisata Yogyakarta dan memberikan dampak ekonomi yang besar. Ramainya kunjungan wisatawan, akan membuka kesempatan masyarakat lokal untuk berwirausaha di daerah ini.

Dari kunjungan wisatawan, pada dasarnya perasaan untuk menetap di sana sudah jadi impian banyak orang. Yogyakarta bisa membuat siapa pun yang mengunjunginya merasa kerasan untuk tinggal lebih lama lagi.

Karenanya, opsi untuk memiliki tempat tinggal dan mendiami Yogyakarta pun kian banyak diminati. Peluang inilah yang berhasil dilihat oleh Hyarta Ecovillage.

Perumahan yang terletak di dekat Bandar Udara Internasional Adisutjipto ini menawarkan konsep hunian luxurious residential. Sudah begitu, suasana hijau masih jadi fokus utama karena lebih dari 50 persen luas lahannya difungsikan untuk konservasi alam dan fasilitas penghuni.

- -

Suasana desa juga dihadirkan dengan adanya pemandangan sungai.Harapannya, dengan konsep hunian hijau tersebut, Hyarta Ecovillage juga dapat menjadi paru-paru baru kota Yogyakarta.

Dengan begini, Yogyakarta seharusnya tak hanya nyaman bagi wisatawan yang berkunjung. Sinergi yang apik bisa memberikan efek positif sehingga kualitas daerah akan terus meningkat.


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.