Kompas.com - 21/04/2018, 19:10 WIB
Maestro tari, Temu Misti (berbaju hijau) melatih pelajar menari Gandrung di kediamannya Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, 18-29 Juli 2016. KOMPAS.com/IRA RACHMAWATIMaestro tari, Temu Misti (berbaju hijau) melatih pelajar menari Gandrung di kediamannya Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, 18-29 Juli 2016.


BANYUWANGI, KOMPAS.com - Temu Misti (65), warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah maestro tari Gandrung yang tetap melestarikan tari Gandrung selama 50 tahun lebih.

Perempuan sederhana tersebut sudah menjadi Gandrung sejak tahun 1968 ketika berusia 15 tahun.

Kepada Kompas.com, Jumat (21/4/2018), perempuan yang terkenal dengan panggilan Gandrung Temu tersebut bercerita jika dia terlahir dengan nama Misti dan dibesarkan oleh Khatijah, bibinya yang tidak memiliki anak.

Saat usianya 1 tahun, Misti menderita sakit panas dan dibawa ke rumah seorang dukun untuk disembuhkan. Sepulang dari dukun, Misti kecil dan ibu angkatnya mampir ke rumah Mak Tiah, seorang juragan Gandrung dan saat itu memberi makan Misti dengan nasi panas.

Baca juga : Ke Banyuwangi, Didik Nini Thowok Belajar Tari Gandrung

"Saat itu Mak Tiah bilang kalau saya sembuh harus diganti nama dengan Temu dan jika besar akan jadi penari Gandrung. Karena sembuh, akhirnya nama saya menjadi Temu Misti. Saat saya kelas 5 SD, Mak Tiah datang ke rumah untuk meminta saya menjadi penari Gandrung. Tapi ibu menolak karena saya masih kecil," kata Gandrung Temu.

Perempuan kelahiran 20 April 1953 tersebut pertama kali tampil sebagai Gandrung ketika Sutris, seorang juragan Gandrung memintanya untuk bergabung.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Maestro tari, Temu Misti (berbaju hijau) melatih pelajar menari Gandrung di kediamannya Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, 18-29 Juli 2016.KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Maestro tari, Temu Misti (berbaju hijau) melatih pelajar menari Gandrung di kediamannya Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, 18-29 Juli 2016.
Temu pun akhirnya luluh setelah dibujuk oleh Mak Tijah, kakak ipar ibunya yang juga tukang rias Gandrung.

Baca juga : Hari Sumpah Pemuda, Gandrung Banyuwangi Tampil di Istana

Temu yang selama ini belajar secara otodidak dengan memperhatikan penari Gandrung di dekat rumahnya akhirnya tampil di hadapan penonton sebagai Gandrung profesional untuk pertama kalinya.

"Saat itu saya nari tanpa pamitan ke ibu," ceritanya sambil tertawa.

Pada tahun 1970-an, menurut Gandrung Temu, adalah puncak kejayaan kesenian Gandrung. Hampir tiap malam, dia selalu tampil untuk menghibur para penonton. Bahkan pernah hampir dua bulan lamanya dia tidak pulang dan berkeliling menari bersama grup Gandrung-nya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X