Feskola: Mengungkit Kenangan Lama di Kota Tua Banjarnegara

Kompas.com - 02/05/2018, 17:23 WIB
Salah satu grup band keroncong yang menghibur pengunjung di Festival Kota Lama (Feskola) Purworejo Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (29/4/2018). KOMPAS.com/Iqbal FahmiSalah satu grup band keroncong yang menghibur pengunjung di Festival Kota Lama (Feskola) Purworejo Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (29/4/2018).

BANJARNEGARA, KOMPAS.com- Lokomotif Hohenzollern D1301-D1303 menderu-deru di atas rel milik maskapai kereta Serajoedal Stoomtram Maatschappij (perusahaan kereta uap lembah serayu) pada siang yang terik.

Asap putih pekat yang menguar dari cerobong membumbung ke angkasa, menyesaki langit di atas gedung Suikerfabriek (pabrik gula) Belanda.

Pasca Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch mendeklarasikan Cultuurstelsel atau sistem tanam paksa pada 1830, wilayah di sepanjang lembah Sungai Serayu disesaki oleh perkebunan tebu, kopi dan tarum atau nila.

Trinitas komiditi ekspor bernilai selangit yang diperas dengan harga hampir gratis dari keringat petani pribumi.

Demi menghapus kultivasi pemerkosaan itu, pada tahun 1870 kaum liberal mendorong terbitnya Agrarische Wet atau Undang-Undang Agraria. Namun adanya hak erfpacht atau hak guna usaha justru semakin membuat perkebunan “neraka” menjamur di Nusantara.

Sebab, seorang tuan tanah diperbolehkan menyewa lahan telantar di manapun khatulistiwa membentang, selama maksimal 75 tahun mendatang.

Akibatnya, perusahaan kapital dari benua biru dengan bebasnya memonopoli peta perekonomian nasional. Konglomerasi merajalela hingga berakhirnya masa imperialisme Hindia Belanda.

Kini, sisa-sisa kejayaan para kaum feodal masih berdiri kokoh, tersebar di banyak tempat, salah satunya berada di kompleks kota tua di Kecamatan Purworejo Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Baca juga : Selain Dieng, Ini 7 Desa Wisata di Banjarnegara

Kesan akan narasi itulah yang terlintas saat kali pertama menjejakkan kaki di pintu gerbang Festival Kota Lama (Feskola) “Klampok Tempo Doeloe”, Sabtu (28/4/2018).

Ketua Panitia Feskola, Ernanto Widyo Hapsoro sukses menyulap kompleks yang saat ini digunakan sebagai Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP) menjadi benar-benar mirip dengan suasana tahun 1860-an.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X