ASITA Minta Tim Crisis Centre Kemenpar Bergerak Cepat

Kompas.com - 14/05/2018, 08:12 WIB
Suasana setelah ledakan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Akibat ledakan itu, 5 mobil dan 30 motor terbakar. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana setelah ledakan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Akibat ledakan itu, 5 mobil dan 30 motor terbakar.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pasca terjadinya teror bom di beberapa greja Surabaya, Asosiasi Agen Tour Travel Indonesia ( ASITA) minta Tim Crisis Centre Kementerian Pariwisata (Kemenpar) cepat bergerak untuk meminimalisir dampak pariwisata.

“Kami berharap tim recovery, Tim Crisis Centre Kementerian Pariwisata kita yang ada di Bali maupun di Jakarta untuk cepat tanggap, segera bertindak mengamankan informasi ke internasional,” kata Ketua Umum ASITA, Asnawi Bahar saat dihubungi KompasTravel, Minggu (13/5/2018).

Menurutnya pergerakan dari Crisis Centre akan bisa meredam kerugian yang terdampak pada pariwisata Indonesia, pasca teror bom.

Baca juga: ASITA: Kejadian Teror Sangat Kontraproduktif dengan Capaian Pariwisata Indonesia

Selain itu untuk meminimalisir penurunan wisatawan, baik pegiat industri wisata dan pemerintah harus mengkomunikasikan hal yang sama, yaitu keamanan di Indonesia. Hal ini biasa dilakukan dibawah komando Tim Crisis Centre Kemenpar.

Wisatawan menikmati suasana Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (5/5/2018). Taman nasional yang secara administratif meliputi Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Lumajang yang ditetapkan sejak 1982 dengan luas wilayah mencapai 50.276,3 hektare itu menjadi salah satu tujuan wisata andalan Indonesia yang dikunjungi wisawatan domestik dan mancanegara. ANTARA FOTO/ANDIKA WAHYU Wisatawan menikmati suasana Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (5/5/2018). Taman nasional yang secara administratif meliputi Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Lumajang yang ditetapkan sejak 1982 dengan luas wilayah mencapai 50.276,3 hektare itu menjadi salah satu tujuan wisata andalan Indonesia yang dikunjungi wisawatan domestik dan mancanegara.
“Kita harus secara bersama-sama dan satu kata yang kita jelaskan jangan ada perbedaan, ke internasional ke industri pariwisata dan pihak-pihak yang berkaitan. Jika proses recovery kita cepat, crisis centre kita cepat dan tepat, maka tidak akan berdampak besar,” tegasnya.

Baca juga: Genjot Kunjungan Wisman, 5 Negara Ini Disasar Kemenpar

Sedangkan langkah cepat yang akan dilakukan ASITA, ialah menginstruksikan pada anggota agar tidak ada pembatalan agenda wisata. Calon wisatawan akan direkomendasikan untuk beralih ke destinasi lain, selain Surabaya.

“Imbauan saya tegas, jangan ada pembatalan. Yakinkan para calon wisatawan yang ingin datang ke Jawa Timur, atau Indonesia agar tidak membatalkan karena Indonesia sangat besar, tidak hanya Surabaya,” jelas Asnawi.

Selain itu pihak ASITA juga akan mengimbau kepada para mitranya di luar negeri, untuk mendesak pemerintahnya agar tidak mengeluarkan travel warning untuk Indonesia.

Wisatawan mancanegara mengambil gambar di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (29/11/2017). Candi ini termasuk salah satu dari 4 lokasi wisata yang menjadi prioritas percepatan pembangunan, sebagaimana Presiden Jokowi menargetkan kunjungan wisatawan pada 2019 mencapai 20 juta orang dan pergerakan wisatawan nusantara 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata berada di ranking 30 dunia.ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN Wisatawan mancanegara mengambil gambar di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (29/11/2017). Candi ini termasuk salah satu dari 4 lokasi wisata yang menjadi prioritas percepatan pembangunan, sebagaimana Presiden Jokowi menargetkan kunjungan wisatawan pada 2019 mencapai 20 juta orang dan pergerakan wisatawan nusantara 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata berada di ranking 30 dunia.
Sebelumnya Asnawi memperkirakan akan ada penurunan pasca dua kejadian teror yang terjadi dalam satu minggu ini di Indonesia.

Penurunan tersebut terasa lebih parah karena bertepatan di waktu low season bulan puasa. Namun, menurutnya kerugian sekitar empat persen bisa diminimalisir dengan tindakan cepat dari berbagai pihak termasuk Tim Crisis Centre.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X