Bom Surabaya, ASITA Minta Negara Lain Tak Keluarkan "Travel Warning" - Kompas.com

Bom Surabaya, ASITA Minta Negara Lain Tak Keluarkan "Travel Warning"

Kompas.com - 14/05/2018, 11:17 WIB
Sejumlah sepeda motor terbakar sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). Ledakan terjadi di tiga lokasi di Surabaya, yakni di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, pada waktu yang hampir bersamaan. ANTARA FOTO/HO/HUMAS PEMKOT-Andy Pinaria/MA/kye/18HUMAS PEMKOT-Andy Pinaria Sejumlah sepeda motor terbakar sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). Ledakan terjadi di tiga lokasi di Surabaya, yakni di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, pada waktu yang hampir bersamaan. ANTARA FOTO/HO/HUMAS PEMKOT-Andy Pinaria/MA/kye/18

JAKARTA, KOMPAS.com – Pasca teror bom di Surabaya Minggu, (13/4/2018), Asosiasi Agen Tour Travel Indonesia (ASITA) minta negara-negara lain untuk tidak mengeluarkan travel warning ke Indonesia.

Hal tersebut akan disampaikan ASITA lewat para mitranya di negara-negara sahabat dan negara lainnya.

“Saya mengimbau kepada negara-negara sahabat, dan kepada sahabat-sahabat saya biro asosiasi perjalan pariwisata di dunia, agar meminta kepada pemerintahnya untuk tidak mengeluarkan travel warning ke Indonesia,” kata Asnawi, Ketua ASITA saat dihubungi KompasTravel, Minggu (13/5/2018).

Baca juga: ASITA: Kejadian Teror Sangat Kontraproduktif dengan Capaian Pariwisata Indonesia

Menurutnya travel warning bisa jadi dampak terburuk bagi pariwisata Indonesia pasca terjadinya dua kali teror dalam satu minggu ini.

Wisatawan memotret kelompok kesenian Gembong Kyai Bulak yang menyambut kedatangan Kapal Pesiar MS Volendam berbendera Belanda di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/11/2016). Selain mendapat suguhan pentas kesenian, 1.400 penumpang akan mengunjungi sejumlah obyek wisata di Surabaya.KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Wisatawan memotret kelompok kesenian Gembong Kyai Bulak yang menyambut kedatangan Kapal Pesiar MS Volendam berbendera Belanda di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, Senin (14/11/2016). Selain mendapat suguhan pentas kesenian, 1.400 penumpang akan mengunjungi sejumlah obyek wisata di Surabaya.
Kecenderungan beberapa negra di dunia menganggap kejadian di Surabaya berdampak ke larangan kunjungan ke Indonesia secara keseluruhan.

“Meski hanya di Surabaya atau Jakarta, anggapan mereka itu se Indonesia,” kata Asnawi.

Menurut Asnawi, negara yang paling sering mengeluarkan travel warning perihal keamanan teror ialah Amerika, beberapa negara Eropa, dan Australia.

Baca juga: ASITA Minta Tim Crisis Centre Kemenpar Bergerak Cepat

Ia berharap adanya kerja sama antara industri pariwisata dan pemerintah untuk upaya ini. Mulai dari travel agent dan para stakeholder lainnya seperti para kedutaan besar RI, dan Kementerian Luar Negeri.

“Memang Kementerian Luar Negeri juga harus berusaha keras menjelaskan tentang kondisi-kondisi ini kepada dubes-dubesnya,” ujar Asnawi.

Wisatawan AS menari Gandrung di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (31/8/2016).KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Wisatawan AS menari Gandrung di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (31/8/2016).
Terlebih menurutnya sebentar lagi Indonesia akan jadi tuan rumah Asian Games dan pertemuan IMF-World Bank di Bali yang beranggotakan puluhan negara di dunia. Ia menilai ini jadi pukulan yang berat jika tidak segera di selesaikan dengan benar.

“Karena hal-hal kemanan itu sangat diperhatikan oleh turis luar, terutama Eropa,” katanya.

Atas nama ASITA, Asnawi tidak lupa menyampaikan belasungkawa atas terjadinya aksi teror bom di Surabaya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Close Ads X