Jangan Lakukan 8 Hal Ini Jika Berkunjung ke Pameran Seni - Kompas.com

Jangan Lakukan 8 Hal Ini Jika Berkunjung ke Pameran Seni

Kompas.com - 18/05/2018, 11:00 WIB
Infinity Mirrored Room – Brilliance of The Souls dalam pameran seni Yayoi Kusama: Life Is The Heart of A Rainbow pada 12 Mei-9 September 2018 di Museum MACAN, Jakarta, Rabu (9/5/2018). KOMPAS.com/ANGGITA MUSLIMAH Infinity Mirrored Room – Brilliance of The Souls dalam pameran seni Yayoi Kusama: Life Is The Heart of A Rainbow pada 12 Mei-9 September 2018 di Museum MACAN, Jakarta, Rabu (9/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Berkunjung ke pameran seni tengah menjadi fenomena di masyarakat perkotaan Indonesia. Galeri seni tampaknya jadi tempat tren, terutama di kalangan generasi Y dan Z.

Meningkatnya kunjungan ke pameran seni, tidak serta merta memberi imbas positif. Banyak penikmat seni yang mengeluh akan pengunjung yang tidak mematuhi peraturan museum.

Agar tidak menggangu hak orang lain dan merusak karya di pameran seni, KompasTravel merangkum peraturan dari beberapa pameran seni, seperti berikut ini:

1. Jangan menyentuh karya seni

Beberapa pameran seni tidak memberi garis batas antara karya dan jarak pengunjung. Meski demikian, jangan pernah menyentuh karya seni yang dipajang. Karya seni umumnya bernilai tinggi, dibuat dengan jerih payah. Sentuhan membuat karya rapuh dan mudah rusak.

2. Jangan bawa 'tongsis'

Rata-rata museum dan pameran seni di dunia melarang pengunjung untuk membawa tongsis (tongkat selfie) sebagai alat bantu foto. Sebab tongsis yang berukuran panjang beresiko merusak karya atau menggangu pengunjung lain.

3. Jangan berfoto menggunakan lampu kilat

Lampu kilat dari kamera dan handphone dilarang digunakan saat berfoto di pameran. Cahaya berlebih membuat karya seni rentan rusak dan berubah warna.

Warga mengamati barang-barang yang dipamerkan dalam lelang yang diadakan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Barang-barang yang dilelang pun beragam, mulai dari busana, sepatu, tas, topi, dasi, dan koleksi wastra Nusantara.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Warga mengamati barang-barang yang dipamerkan dalam lelang yang diadakan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018). Barang-barang yang dilelang pun beragam, mulai dari busana, sepatu, tas, topi, dasi, dan koleksi wastra Nusantara.
4. Jangan berfoto terlalu lama di dekat karya seni

Berfoto selfie sah-sah saja jika tidak dilarang oleh museum. Namun alangkah baiknya jika memiliki empati dengan pengunjung lain yang ingin menikmati karya seni.

Jangan berfoto terlalu lama dan jangan menghalangi papan penjelasan tentang karya. Semua orang berhak menikmati karya seni tersebut. 

Beberapa museum dan pameran seni sampai memberi waktu batasan bagi setiap pengunjung yang ingin berfoto.

5. Jangan memotret karya seni dengan kamera resolusi tinggi

Beberapa pameran seni melarang pengunjung untuk mengabadikan foto dengan kamera profesional dengan lensa beresolusi tinggi. Khusus di pameran seni lukisan, hal ini banyak dilarang karena dapat beresiko duplikasi lukisan. 

6. Jangan makan dan minum di pameran seni 

Makan dan minum di pameran seni dilarang, selain menggangu kenyamanan pengunjung lain juga beresiko mengenai karya seni.

Seorang pengunjung tengah berfoto di salah satu instalasi karya seniman Yayoi Kusama di Museum Macan, Selasa (8/5/2018).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Seorang pengunjung tengah berfoto di salah satu instalasi karya seniman Yayoi Kusama di Museum Macan, Selasa (8/5/2018).
7. Jangan membawa anak-anak di bawah usia batasan

Beberapa pameran seni dan museum membatasi usia pengunjung untuk faktor keamanan dan kenyamanan.

8. Jangan jadikan karya seni objek foto belaka

Pameran seni ada untuk mengedukasi masyarakat mengenai karya seni. Setiap karya seni memiliki kisah pembuatan dan maksud yang ingin disampaikan oleh seniman. Tidak ada salahnya untuk belajar menghargai karya seni tersebut. 

Caranya dapat membaca penjelasan, mengamati bentuk karya seni dan mencoba memahami korelasi maksud dan karya tersebut. 

Memberi kredit nama seniman dan lokasi pameran di setiap foto yang diunggah ke media sosial juga menjadi salah satu bentuk apresiasi.  


Close Ads X