10 Fakta Menarik tentang Gunung Everest

Kompas.com - 18/05/2018, 19:10 WIB
Pendaki beristirahat di jalur pendakian menuju puncak Gunung Everest, di Khumbu, Nepal, 18 Mei 2013. AP PHOTO / ALPENGLOW EXPEDITIONS, Adrian BallingerPendaki beristirahat di jalur pendakian menuju puncak Gunung Everest, di Khumbu, Nepal, 18 Mei 2013.

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagai gunung dengan puncak tertinggi di dunia, Everest menjadi "kiblat" para pendaki gunung. Namun untuk tiba di puncaknya, tentu tak mudah.

Baca juga: Perjalanan Dua Perempuan Indonesia yang Disebut Jokowi Mencapai Puncak Gunung Everest

Sebelum berpikiran untuk mengunjunginya simak 10 fakta menarik tentang Gunung Everest.

1. Gunung tertinggi di dunia

Everest memiliki predikat sebagai gunung tertinggi di dunia. Ketinggian gunung ini yakni 8.848 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Gunung Everest juga disebut Chomolungma oleh orang-orang Tibet yang memiliki arti Mother Goddess of the Universe.

Pemerintah Negara Nepal sebelumnya juga memberi nama Sagarmatha, yang dapat diartikan sebagai Dewi Langit.

2. Memiliki 18 jalur pendakian

Gunung Everest berada di lempeng Benua Asia. Pada bagian selatan berbatasan dengan Negara Nepal, di bagian utara berbatasan dengan Negara Tiongkok dan Tibet.

Ada sekitar 18 alternatif jalur pendakian di Gunung Everest.

3. Termasuk dalam Seven Summits Dunia

Seven Summits merupakan rangkaian tujuh gunung tertinggi di tujuh lempeng benua.

Tujuh gunung tersebut yaitu Gunung Carstensz Pyramid ketinggian 4.884 mdpl di Papua (lempeng Australasia), Gunung Elbrus ketinggian 5.642 mdpl di Rusia (lempeng Eropa).

Kemudian Gunung Kilimanjaro ketinggian 5.895 mdpl di Tanzania (lempeng Afrika), Gunung Aconcagua ketinggian 6.962 mdpl di Argentina (lempeng Amerika Selatan), Gunung Vinson Massif ketinggian 4.892 mdpl di Antartika (lempeng Antartika).

Lalu Gunung Denali ketinggian 6.190 mdpl di Alaska (lempeng Amerika Utara) dan Gunung Everest ketinggian 8.848 mdpl di Nepal (lempeng Asia).

4. Oksigen tipis

Oksigen akan terus menurun hingga sepertiganya saat berada di puncak Everest. Semakin tinggi dari permukaan laut, tekanan udara semakin rendah. Tekanan udara yang rendah tersebut membuat oksigen lebih menyebar sehingga lebih sedikit.

Para pendaki pun membutuhkan bantuan tabung oksigen untuk dapat mendaki ke puncak Everest.

5. Medan menuju puncak begitu berat

Selain oksigen, medan yang ditempuh juga berat. Seperti tebing dengan jurang terjal di sisi kanan dan kiri. Suhunya juga bisa mencapai -80 derajat Fahrenheit. 

6. Banyak pendaki meninggal dunia

Data dari Mahitala Unpar, sejak tahun 1924 hingga 2017 ada sekitar 288 yang meninggal dunia di Everest.

Tercatat 168  orang meninggal menuju puncak tanpa suplemen oksigen. Sebanyak 71 orang meninggal setelah mencapai puncak Everest dan perjalanan turun.

Kebanyakan mayat pendaki masih berada di gunung.

7. Perlu persiapan

Sebelum bertolak untuk memulai pendakian, lakukan latihan atau olahraga rutin. Seperti yang diketahui, banyak rintangan menuju puncak. Mulai dari medan, suhu, hingga cuaca.

Selain fisik, persiapkan pula peralatan, pengetahuan soal gunung, hingga mental sebelum Anda berangkat.

8. Tetap berlatih sesampainya di Everest Base Camp

Rata-rata orang memerlukan waktu 40 hari untuk mendaki gunung ini. Sesampainya di Everest Base Camp (EBC) sebaiknya tetap berlatih teknik-teknik pendakian.

Selain itu untuk mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan, lakukan penyesuaian badan dengan ketinggian gunung atau proses aklimatisasi.

9.  Bantuan Sherpa

Suku Sherpa yang tinggal di Nepal Barat biasanya akan membantu para pendaki. Karena orang-orang dari suku Sherpa sudah terbiasa dengan ketinggian yang begitu ekstrem di Nepal.

Biasanya mereka membantu membawa peralatan pendakian dan memasak di camp.

10.  Dua perempuan Indonesia berhasil capai puncak

Dua perempuan Indonesia pertama berhasil mencapai puncak Gunung Everest dan mengibarkan bendera Indonesia.

Mereka adalah Fransiska Dimitri Inkiriwang (Deedee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda) yang tergabung dalam tim The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar ( WISSEMU).

Srikandi Indonesia ini berhasil menapakkan kaki di titik tertinggi di dunia pada Kamis (17/5/2018) tepat pukul 05.50 waktu setempat atau sekitar pukul 07.05 WIB.

Gunung Everest pun menjadi puncak gunung terakhir yang mereka capai untuk mengibarkan bendera Indonesia di tujuh gunung tertinggi di tujuh benua.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Makan Makan
Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Makan Makan
Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Makan Makan
Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Whats Hot
Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Makan Makan
Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Whats Hot
Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Whats Hot
Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Jalan Jalan
Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Jalan Jalan
Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Whats Hot
Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Whats Hot
Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Whats Hot
Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X