Berburu Makanan Tradisional untuk Berbuka Puasa di Argowijil

Kompas.com - 19/05/2018, 17:08 WIB
Lokasi Pasar Argiwijil, Gari, Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis (17/5/2018).

 KOMPAS.com/MARKUS YUWONOLokasi Pasar Argiwijil, Gari, Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis (17/5/2018).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Menikmati menu buka puasa dengan cara tidak biasa bisa ditemukan di Pasar Argowijil, Desa Gari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta.

Pasar wisata kuliner ini buka setiap minggu pagi, namun selama bulan Ramadhan buka sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

Menjelang sore, ratusan warga dari berbagai wilayah Kabupaten Gunungkidul mendatangi pasar yang terletak agak jauh dari pemukiman.

Jika dari kota Wonosari ke Nglipar, perempatan Dusun Karangtengah menuju ke arah Gading, di sana sudah ada papan petunjuk menuju pasar yang berdiri di atas tanah bekas pertambangan batu putih ini.

Puluhan pedagang berjejer di los pasar, mereka menjajakan makanan khas pasar tradisional tempo dulu seperti gelinding burung dara, krupuk warna, nasi jagung, botok manding, gatot, tiwul, gethuk, dan sejumlah makanan lainnya yang saat ini sulit ditemukan di pasar tradisional akan mudah ditemukan di Pasar Argowijil.

"Selama bulan Ramadhan kami membuka Pasar Argowijil sore hari, biasanya hanya buka minggu pagi," kata Lurah Pasar, Naryanto, Kamis (17/5/2018) petang.

Baca juga: Dari Lemang sampai Ayam Guling, 5 Takjil Unik di Pasar Benhil

Dia mengatakan Argowijil mengangkat konsep kuliner tradisional yang berbeda dari tahun sebelumnya.

Saat ini ada beberapa makanan tradisional berat, seperti tradisional luar Gunungkidul seperti pecel ponorogo. "Total untuk tahun ini yang daftar 90 orang pedagang yang berasal dari penduduk lokal," ucapnya.

Naryanto menjelaskan, untuk menambah daya tarik dan kenyamanan pengunjung, pihaknya membuat lampu dengan keranjang bambu, yang biasa untuk menaruh buah atau bunga.

Baca juga: Serunya Berburu Takjil Berbuka Puasa di Halal Street Chiang Mai

Pasar tersebut dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gari. "Di sini semuanya dikonsep untuk mengakomodir masyarakat sekitar," katanya.

Menurut Nuryanto, nama Pasar Argowijil memiliki arti bahwa Argo dalam bahasa Jawa adalah "gunung atau gunungan", sedangkan wijil itu merupakan nama kawasan tersebut.

Pada awalnya Gunung Wijil ditambang oleh masyarakat sekitar untuk bahan material membangun muhala sekitar tahun 1976-an.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X