Berfoto di Pameran Seni, Wajarkah?

Kompas.com - 22/05/2018, 05:00 WIB
Seorang pengunjung tengah berfoto di salah satu instalasi karya seniman Yayoi Kusama di Museum Macan, Selasa (8/5/2018).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Seorang pengunjung tengah berfoto di salah satu instalasi karya seniman Yayoi Kusama di Museum Macan, Selasa (8/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Berfoto di pameran seni adalah hal yang jamak dilakukan oleh para pengunjung. Hasil foto tersebut umumnya diunggah ke media sosial. Fenomena berfoto di pameran seni ini rupanya menimbulkan kontroversi.

Tak sedikit yang menyebut pengunjung yang berfoto di pameran seni dan megunggah ke media sosial dengan panggilan yang konotatif. Terkadang panggilan tersebut berujung perundungan, apalagi jika foto-foto tersebut dirasa melanggar aturan pameran.

"Ketika mereka selfie foto, itu point penting untuk selanjutnya. Ketika selfie, histeris melihat karya bagus, minta difoto, itu nanti akan berbeda," kata CEO Art Jog, Heri Pemad saat dihubungi KompasTravel, Sabtu (19/5/2018).

Heri menyebutkan jika berfoto di depan karya seni adalah salah satu tahapan awal dari pengunjung pameran seni.

Sejak Art Jog diselenggarakan 2008, ia melihat karakteristik pengunjung yang terus berkembang ke arah positif.

Saat ini, mayoritas pengunjung Art Jog menurut Heri mengalami perubahan signifikan.

Mereka memiliki kesadaran seni yang tinggi, dengan membaca penjelasan karya, mencoba memahami karya, bertanya mengenai karya, ikut dalam tur seniman dan kurator, sampai pada tahap mengoleksi karya seni sesuai bujet masing-masing.

"Perubahan ini terlihat sejak Art Jog 2014," kata Heri.

Tugas berat penyelenggara pameran seni

Untuk sampai pada tahap seperti mayoritas pengunjung Art Jog saat ini butuh proses. Heri menyebutkan edukasi telah dilakukan sejak 2009. Artinya butuh sembilan tahun agar pengunjung pameran berkunjung tak sekedar untuk berfoto.

"Kami menyadari (pengunjung) Indonesia belum seperti (pengunjung) negara-negara di Eropa dengan teks saja belum cukup," kata Heri.

Pengunjung berfoto di salah satu karya yang dipamerkan di Art Jog 2018, Healing Garden oleh Hiromi Tango. KOMPAS.com/SILVITA AGMASARI Pengunjung berfoto di salah satu karya yang dipamerkan di Art Jog 2018, Healing Garden oleh Hiromi Tango.
Sosialisasi aturan banyak dilakukan lisan. Contohnya pemberitahuan sebelum masuk pameran, pengumuman di ruang pamer, dan penjaga pada hampir setiap karya yang dipamerkan.

Bukan hanya Art Jog, Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) di Jakarta juga melakukan upaya yang sama untuk edukasi pengunjung.


Page:

Close Ads X