ASITA: Wisata ke Israel Harus Kita Alihkan Dulu

Kompas.com - 31/05/2018, 15:20 WIB
Sekitar 500 warga Gaza beribadah di Masjid Al-Aqsa saat perayaan Hari Raya Idul Adha. BBCSekitar 500 warga Gaza beribadah di Masjid Al-Aqsa saat perayaan Hari Raya Idul Adha.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menanggapi ditutupnya akses wisatawan Indonesia ke Israel (Israel-Palestina), Ketua Umum Asosiasi Tour Travel Agent Indonesia (Asita) Asnawi Bahar angkat bicara.

Ia mengatakan Israel terlalu provokatif dalam menanggapi isu. Padahal hal itu bisa merugikan mereka.

Asnawi melihat hal tersebut sebagai dinamika politik internasional, juga dampak dari tindakan-tidakan Israel di Timur Tengah, yang direspon oleh Indonesia.

Hal itu sedikit banyak berpengaruh terhadap pariwisata.

(Baca juga: ASITA: Wisata ke Israel Harus Kita Alihkan Dulu)

"Menurut saya Israel terlalu provokatif dan berlebihan terhadap kita, mencegah wisatawan Indonesia masuk ke sana. Orang kita ke sana mau wisata kok, mau liburan, bukan mau apa-apa, tapi tidak tahu kalau ada indikasi intelijen," tuturnya saat dihubungi KompasTravel, Kamis (31/5/2018).

Tembok RatapanKOMPAS/TRIAS KUNCAHYONO Tembok Ratapan

Menurut Asnawi, dalam jangka panjang hal ini akan merugikan Israel. Baik Israel atau Palestina akan kehilangan banyak devisa yang seharusnya masuk dari pariwisata.

"Jelas ini merugikan Israel, dan saya himbau supaya kita jangan memaksakan ke sana. Untuk sementara waktu, masih ada Vatikan yang lebih proper, kenapa harus memaksakan ke Israel," tuturnya.

Ia meminta para agen tour dan travel Indonesia turut merespon kebijakan Israel ini dengan tidak menjual paket-paket Israel untuk waktu yang belum bisa ditentukan. 

(Baca juga: Israel Tutup Pintu untuk Turis Indonesia, Ini 3 Situs Agama Paling Penting)

"Kita harapkan rakyat Indonesia ada rasa nasionalismenya juga. Sudah jelas-jelas kita diberlakukan seperti itu, jadi ngapain juga kita ke sana kalau sudah dilarang. Kita tidak rugi besar, masih ada alternatif lain," tuturnya.

Dome of the Rock, yang berada di kompleks yang sama dengan Masjid Al-Aqsa di Jerusalem.AFP Photo/Thomas Coex Dome of the Rock, yang berada di kompleks yang sama dengan Masjid Al-Aqsa di Jerusalem.
Berbicara soal kerugian, menurutnya kerugian tour travel Indonesia tidak seberapa dengan kerugian di pihak Israel dengan adanya kebijakan itu. 

"Soal kerugian, tidak ada dampak kerugian yang banyak, bahkan nyaris tidak ada. Karena kita kan membuang devisa ke sana, dan kuantitas masyarakat kita ke sana juga tidak banyak," ujarnya.

Ia mengatakan dari puluhan tour travel yang menyediakan perjalanan ke sana, tiap satu bulan sekitar lima sampai enam perjalanan saja yang bisa diakomodir. 

"Padahal masuk Israel sendiri itu pengamannnya sudah sangat ketat, sangat sulit ke sana untuk pertama kali. Repot banget, salah ngomong sedikit saja, repot urusannya di Israel," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X