Carica, Buah Endemik sebagai Minuman Masyarakat Suku Tengger - Kompas.com

Carica, Buah Endemik sebagai Minuman Masyarakat Suku Tengger

Kompas.com - 11/06/2018, 04:32 WIB
Buah carica atau karikaya yang dijadikan minuman oleh masyarakat Suku Tengger, Jawa Timur, Jumat (8/6/2018).KOMPAS.com/ANDI HARTIK Buah carica atau karikaya yang dijadikan minuman oleh masyarakat Suku Tengger, Jawa Timur, Jumat (8/6/2018).

MALANG, KOMPAS.com - Namanya carica. Salah satu tanaman buah yang hanya tumbuh maksimal di atas ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut (mdpl).

Buah itu disebut berasal dari dataran tinggi Lereng Gunung Bromo, Jawa Timur. Masyarakat Suku Tengger yang mendiami kawasan setinggi 1.700 hingga 2.329 meter dari permukaan laut (mdpl) itu mengenalnya dengan sebutan buah karikaya.

Tanaman buah itu disebut sebagai tanaman endemik yang awalnya hanya ada di kawasan Lereng Gunung Bromo. Bahkan, tanaman buah carica yang tumbuh di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo berasal dari kawasan Lereng Bromo.

"Sebenarnya yang di Dieng dulunya dibawa dari sini. Kebetulan kentang di sini bagus. Mereka ambil bibit dari sini. Terus ada buah carica itu. Kok unik, mereka bawa," kata Kariadi, salah satu warga Suku Tengger di Dusun Wonomerto, Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jumat (8/6/2018).

Baca juga: Cerita 10 Makanan dan Minuman yang Pernah Viral, dari Tahu Bulat hingga Cappucino Cincau...

Biasanya, masyarakat Suku Tengger menggunakan buah itu sebagai alat untuk cuci tangan setelah pulang dari ladang. Selain itu, masyarakat Suku Tengger juga memakannya secara langsung. Namun banyak masyarakat kurang minat karena rasanya kecut.

"Semenjak saya ingat, carica sudah ada. Waktu itu buat cuci tangan. Warga di sini kan bertani, bergelut dengan tanah dan rumput, warnanya menempel ke tangan. Carica yang mampu menghapus," katanya.

Baca juga: 50 Minuman Paling Lezat di Dunia, 2 dari Indonesia

Pada waktu itu carica tidak diminati. Tidak ada masyarakat yang menanamnya, apalagi membudidayakannya.

Buah carica atau karikaya yang dijadikan minuman oleh masyarakat Suku Tengger, Jawa Timur, Jumat (8/6/2018).KOMPAS.com/ANDI HARTIK Buah carica atau karikaya yang dijadikan minuman oleh masyarakat Suku Tengger, Jawa Timur, Jumat (8/6/2018).
Sampai akhirnya, Kariadi yang bergerak di bidang lingkungan sebagai Ketua Komunitas Bala Daun mencoba untuk meracik carica itu menjadi minuman. "Berawal dari coba-coba. Tapi untuk kita konsumsi sendiri," katanya.

Kariadi pun mulai rutin mengonsumsi carica yang sudah diracik menjadi minuman. Ia juga kerap menyuguhkan minuman yang diraciknya itu kepada tamunya.

Hingga akhirnya, mahasiswa Universitas Brawijaya, Kota Malang datang untuk melakukan penelitian terhadap buah tersebut pada tahun 2015. Tidak lama setelahnya, mahasiswa dari Poltekkes Malang dan Universitas Yudharta Pasuruan melakukan kegiatan serupa.

Hasilnya, buah itu aman dikonsumsi. Namun kandungan gizi yang ada pada buah tersebut belum terungkap secara keseluruhan.

Belum lama ini, Kariadi bersama Bala Daun, komunitas yang didirikannya mulai memproduksi minuman berbahan carica itu secara massal melalui home industry. Hasilnya lantas dikemas dalam wadah kecil untuk dijual.

Sampai sejauh ini, penjualannya masih sebatas pada warung-warung yang ada di Kecamatan Tosari. "Ini masih lima bulanan baru bisa jual ke warung-warung," katanya.

Dalam sehari, Kariadi bisa menjual 68 biji kemasan ke sejumlah warung. Sementara satu biji kemasan dijual dengan harga Rp 1.500.

Buah carica atau karikaya yang dijadikan minuman oleh masyarakat Suku Tengger, Jawa Timur, Jumat (8/6/2018).KOMPAS.com/ANDI HARTIK Buah carica atau karikaya yang dijadikan minuman oleh masyarakat Suku Tengger, Jawa Timur, Jumat (8/6/2018).
Prosesnya tidak sulit. Buah carica yang sudah matang dan berwana kuning dikupas. Setelah itu, buah kecil berbentuk mirip pepaya itu dibelah untuk dipisahkan isi dan daging buahnya.

Setelah itu, isi buah itu direbus dengan takaran air yang sudah ditentukan. Sedangkan daging buahnya diiris kecil-kecil untuk direbus kemudian.

Rasanya manis dengan aroma khas. Sedangkan dagingnya diiring terasa kenyal seperti jelly.

Saat ini, Kariadi mulai membudidaya tanaman buah tersebut. Sejumlah warga juga melakukannya karena sudah memiliki nilai jual. "Ladang yang tidak bisa ditanami kentang dibuat tanam carica," katanya.



Close Ads X