Suatu Sore, Napak Tilas Kampung Kauman Mangkunegaran... - Kompas.com

Suatu Sore, Napak Tilas Kampung Kauman Mangkunegaran...

Kompas.com - 11/06/2018, 12:51 WIB
Kampung Kauman MangkunegaranKOMPAS.com/LUTFIA AYU AZANELLA Kampung Kauman Mangkunegaran

SURAKARTA, KOMPAS.com - Minggu (10/6/2018) sore, cuaca cerah di Kota Solo. Menjelang berbuka, sekitar 30 orang berkumpul untuk melakukan napak tilas di sebuah kampung bersejarah di kota ini.

Kampung Kauman Mangkunegaran, demikian masyarakat Solo mengenalnya.

Kegiatan napak tilas sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran digagas dan dipandu oleh sebuah komunitas sejarah dan budaya Kota Solo, Solo Societeit.

Tak hanya napak tilas, para peserta juga mengikuti diskusi tentang sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran.  

Kampung Kauman Mangkunegaran terletak di Kestalan, Banjarsari.

“Ramadhan seperti ini kita akan bahas masalah Kauman, itu kan tentang agama Islam,” kata pendiri Komunitas Solo Societeit, Heri Priyatmoko.

Peserta napak tilas sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran, Minggu (10/6/2018).KOMPAS.com/LUTFIA AYU AZANELLA Peserta napak tilas sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran, Minggu (10/6/2018).
Berkumpul di Dalem Mangkuyudan, kawasan barat Pasar Legi, sebanyak 30 orang peserta dibagi dalam dua kelompok.

Ada tiga situs bersejarah yang akan akan dikunjungi pada napak tilas kali ini, yaitu Makam Anak Mangkunegara IV, Langgar Rawatib, dan Kediaman Pangeran Sambernyowo (Dalem Mangkuyudan).

Sejarah Kampung Kauman

Sekilas, tak ada yang istimewa dengan kampung ini. Semua jalur yang disusuri tak tampak berbeda dari kampung pada umumnya.

Menyusuri gang-gang kecil, akhirnya sampailah di tengah Kampung Kauman.

Keramahan terasa saat memasuki kampung ini. Bertegur sapa dengan para ibu dan warga yang tengah beraktivitas.

Ada yang tengah petan, ada yang tengah menjemur kerak nasi, ada pula yang terlihat sibuk mempersiapkan santapan berbuka puasa. 

Sejarahnya, Kauman merupakan sebuah wilayah khusus dalam Kerajaan Mataram Islam yang di dalamnya terdapat banyak kaum (ahli agama), dan kegiatan keagamaan, termasuk di Kadipaten atau Praja Mangkunegaran ini.

Kampung Kauman yang dulu pernah ada, dilengkapi dengan Masjid Nagari.

Peserta juga ditunjukkan lokasi yang pernah menjadi tempat berdirinya Masjid Nagari.

Menurut informasi, pada tahun 1870-an Masjid Nagari dipindah ke barat Pura Mangkunegaran dan kini bernama Masjid Al Wustho.

Peserta napak tilas sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran, Minggu (10/6/2018), mengikuti kegiatan yang digagas oleh komunitas Solo Societeit.KOMPAS.com/LUTFIA AYU AZANELLA Peserta napak tilas sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran, Minggu (10/6/2018), mengikuti kegiatan yang digagas oleh komunitas Solo Societeit.
Ketiga situs yang dikunjungi pada napak tilas sore itu, benar-benar berada di tengah permukiman masyarakat.

Situs pertama yang dikunjungi adalah makam anak Mankunegara IV. Di lokasi ini, terdapat empat makam kecil dan satu makam besar.

Konon, makam-makam ini merupakan makam anak Mangkunegara IV, yang tidak diketahui namanya. 

Selanjutnya, peserta diajak mengunjungi Langgar Rawatib. Langgar ini didirikan oleh Muhammad Habib pada 1935.

Kala itu, langgar dibangun karena tak ada rumah ibadah di Kampung Kauman setelah Masjid Nagari dipindah.

Destinasi terakhir adalah Dalem Mangkuyudan yang merupakan kediaman Pangeran Sambernyowo.

Pangeran Sambernyowo adalah Mangkunegara I. Saat ini, rumah ini didiami oleh keluarga Mintorogo.

Yang muda yang suka sejarah

Diskusi setelah napak tilas sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran, Minggu (10/6/2018).KOMPAS.com/LUTFIA AYU AZANELLA Diskusi setelah napak tilas sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran, Minggu (10/6/2018).
Peserta napak tilas sejarah Kampung Kauman Mangkunegaran sebagian besar anak muda dari berbagai latar belakang.

Ada yang siswa SMA, pemandu wisata, dan mereka yang memang penasaran dengan kisah kampung ini.

Salah satu peserta bahkan datang dari Yogyakarta, Pandji Saputra.

“Saya daftar jelajah yang sesi pertama, tapi kehabisan kuota. Jadi saya ikut yang sesi kedua ini. Dari Jogja naik motor ke Solo,” kata Pandji.

Setelah napak tilas selama lebih kurang 30 menit, para peserta berdiskusi di Dalem Mangkuyudan. 

Materi disampaikan oleh pendiri Solo Societeit yang juga seorang sejarawan, Heri Priyatmoko, dan Dani Saptoni. Diskusi berlangsung serius tapi santai.

Kompas TV Selain mengkaji makna Al Quran, para jemaah juga bisa mengajukan pertanyaan kepada Imam Ahmad Nazib Alhafidz.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Close Ads X