Ngabubrit Sambil Belajar Sejarah Lawang Sewu

Kompas.com - 13/06/2018, 15:03 WIB
Keindahan bangunan arsitektur Eropa, buatan Belanda di Lawang Sewu, Semarang, Rabu (28/3/2018). KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Keindahan bangunan arsitektur Eropa, buatan Belanda di Lawang Sewu, Semarang, Rabu (28/3/2018).

SEMARANG, KOMPAS.com - Pemandu wisata Abdul Hadi (50) dengan penuh semangat dan sangat detil bercerita tentang kehebatan kolonial Belanda dalam membangun gedung Lawang Sewu di Kota Semarang.

"Coba lihat, tidak ada satu pun dinding yang retak, padahal gedung ini sudah berusia ratusan tahun," kata Abdul mengawali tugasnya ketika diminta sebagai pemandu oleh sekitar 10 pengunjung yang berasal dari luar Jawa Tengah.

Dengan membayar sebesar Rp 70.000 sebagai jasa untuk satu kali pemanduan yang berlangsung sekitar satu jam, pengunjung pun yang sebagian besar pelajar dan mahasiswa itu dengan penuh perhatian mengikuti penjelasan Abdul.

Baca juga: 6 Tempat Berfoto ala Belanda di Lawang Sewu

Ia tampak sudah hafal di luar kepala soal gedung bersejarah itu.

Untuk lebih meyakinkan pengunjung yang dipandunya, Abdul terlebih dahulu memperlihatkan kartu anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Semarang.

Wisatawan sedang berfoto berlatarkan keindahan bangunan arsitektur Eropa, di Lawang Sewu, Semarang, Rabu (28/3/2018). KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Wisatawan sedang berfoto berlatarkan keindahan bangunan arsitektur Eropa, di Lawang Sewu, Semarang, Rabu (28/3/2018).
Kartu dan lisensi sebagai pemandu diperolehnya setelah mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Pariwisata Jawa Tengah.

"Pemandu wisata di kawasan Lawang Sewu ini harus mempunyai lisensi agar pengunjung benar-benar mendapatkan informasi yang benar dan akurat. Tidak sedikut pemandu abal-abal yang asal memandu supaya dapat uang," kata Abdul yang sudah lebih dari 20 tahun menekuni profesinya.

Baca juga: Kisah Lawang Sewu, Berjuang Demi Hilangkan Nuansa Mistis

Abdul adalah salah satu dari sebanyak 31 pemandu wisata yang beroperasi di Lawang Sewu, gedung bersejarah di pusat Kota Semarang yang merupakan peninggalan penjajah Belanda.

Pada awalnya, gedung itu digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api yang disebut Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau disingkat NIS.

Baca juga: Berapakah Jumlah Sebenarnya Pintu di Lawang Sewu?

Sore itu, Selasa (12/6/2018) yang bertepatan dengan hari pertemuan bersejarah Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Selatan Kim Jong Un di Singapura, sekitar 100 pengunjung tampak mengagumi keindahan arsitektur Lawang Sewu.

Fasilitas wisata sejarah perkereta apian di Lawang Sewu, Semarang, Rabu (28/3/2018). KOMPAS.com/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Fasilitas wisata sejarah perkereta apian di Lawang Sewu, Semarang, Rabu (28/3/2018).
Sebagian besar pengunjung adalah anak-anak muda yang datang berpasangan atau rombongan keluarga. Oleh karena kebetulan bulan Ramadhan, para pengunjung memanfaatkan kegiatan tersebut untuk ngabuburit sekalian belajar sejarah.

Akan tetapi, sebagian besar pengunjung, terutama pasangan muda, menurut Abdul, tidak banyak yang tertarik untuk menggunakan jasa pemandu.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X