Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala UI Fokus Gali Potensi Wisata Papua Barat

Kompas.com - 23/07/2018, 21:10 WIB
Pemandangan Danau Anggi, Pegunungan Arfak, Papua Barat yang akan menjadi lokasi Bhakti Papua dan kegiatan eksplorasi titik terjun paralayang.
Dok. MAPALA UIPemandangan Danau Anggi, Pegunungan Arfak, Papua Barat yang akan menjadi lokasi Bhakti Papua dan kegiatan eksplorasi titik terjun paralayang.

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Umum Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), Muhammad Jazmi Dwi Hartono mengatakan kegiatan Ekspedisi Bumi Cendrawasih Mapala UI berfokus penggalian dan pendokumentasian potensi pariwisata di Papua Barat.

Ekspedisi nantinya akan mengungkap potensi pariwisata Papua Barat di Kabupaten Pegunungan Arfak dan Teluk Bintuni dalam bentuk pameran dan pembuatan film.

“Pegunungan Arfak Papua Barat punya potensi pariwisata yang luar biasa. Inilah peran kami sebagai pemuda untuk mendukung program pemerintah (Kementerian Pariwisata) yaitu mendatangkan 20 juta wisatawan,” kata Jazmi dalam konferensi pers Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala UI di Jakarta, Senin (23/7).

(Baca juga: Tim Ekspedisi Bumi Cendrawasih Mapala UI Bakal Jelajahi Papua Barat)

Ia melanjutkan, Mapala UI akan menerjunkan tiga tim penjelajah untuk menggali potensi pariwisata Papua Barat. Adapun tiga tim penjelajah tersebut akan memetakan potensi wisata arung jeram Sungai Wariori, Pegunungan Arfak; telusur gua di kawasan karst Biscoop, Teluk Bintuni; paralayang di Danau Anggi Giji dan Anggi Gida, Pegunungan Arfak; dan wisata budaya.

“Memang diakui saat ini salah satu penghasil devisa terbesar di Indonesia adalah pariwisata. Sementara pariwisata itu industri yang ramah lingkungan,” ujarnya.

(Kiri ke kanan) Ketua Pelaksana Ekspedisi Bumi Cendrawasih, Fathan Qorib; Perwakilan Biro Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Sudibyo; Asisten Operasi Kodam XVIII/Kasuari Papua Barat, Sri Widodo; Ketua Mapala UI, Muhammad Jazmi dalam konferensi pers Ekspedisi Bumi Cendrawasih di Jakarta, Senin (23/7/2018).KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO (Kiri ke kanan) Ketua Pelaksana Ekspedisi Bumi Cendrawasih, Fathan Qorib; Perwakilan Biro Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Sudibyo; Asisten Operasi Kodam XVIII/Kasuari Papua Barat, Sri Widodo; Ketua Mapala UI, Muhammad Jazmi dalam konferensi pers Ekspedisi Bumi Cendrawasih di Jakarta, Senin (23/7/2018).
Ketua Pelaksana Ekspedisi Bumi Cendrawasih Mapala UI, Fathan Qorib mengatakan pariwisata Pegunungan Arfak dan Teluk Bintuni tak kalah menarik dari Raja Ampat. Di Pegunungan Arfak misalnya, ada obyek wisata seperti Danau Anggi Giji, Danau Anggi Gida serta keanekaragaman hayati.

“Di Pegunugan Arfak itu menarik. Banyak atraksi budaya, ada hewan endemik seperti kasuari jenis baru, rumah adat suku Arfak, tarian budaya yang menarik dan cocok untuk pendukung pariwisata. Kami akan buat film pendek bekerjasama dengan mahasiswa pencinta alam IKJ untuk konsumsi masyarakat umum,” ujar Fathan.

Ia melanjutkan, di akhir ekspedisi, Mapala UI akan mengadakan Focus Group Discussion bersama pihak-pihak seperti pelaku industri wisata petualangan, akademisi, pemerintah, komunitas, dan jurnalis.

Selain itu, hasil ekspedisi penggalian potensi pariwisata Papua Barat nantinya akan diberikan ke Pemerintah Daerah Papua Barat dan Kementerian Pariwisata sebagai rekomendasi pengembangan pariwisata daerah.

Latihan pilot paralayang Ekspedisi Bumi Cenderawasih (EBC) di site jump Puncak, Jawa Barat.Dok. MAPALA UI Latihan pilot paralayang Ekspedisi Bumi Cenderawasih (EBC) di site jump Puncak, Jawa Barat.
Kasubdit Fasilitas, Pengembangan, dan Pemberdayaan Seni Budaya Biro Kemahasiswaan Universitas Indonesia, A.G. Sudibyo mengatakan Universitas Indonesia mengapreasiasi kegiatan Ekspedisi Bumi Cendrawasih Mapala UI. Ia berharap Mapala UI bisa mengembangkan riset tentang potensi pariwisata Papua Barat.

“Tentunya UI mendukung sekali kegiatan ekspedisi Mapala UI seperti ini. Semoga hasil ekspedisinya berguna untuk mengembangkan pariwisata daerah,” kata Dibyo.

Asisten Operasi Kodam XVIII/Kasuari Papua Barat, Sri Widodo, menyebut kegiatan ekspedisi bisa menarik minat kunjungan wisatawan ke Pegunungan Arfak maupun Teluk Bintuni. Hal itu, lanjutnya, agar wisatawan tahu keindahan alam Papua Barat tak hanya Raja Ampat.

“Kami dan mendukung dan berterima kasih kepada Mapala UI karena mengeksplor daerah. Karena belum tentu oramg Indonesia tahu Manokwari. Karena orang-orang hanya tahu Raja Ampat di Papua Barat,” ujar Widodo.

Ekspedisi Bumi Cendrawasih bakal diselenggarakan mulai 28 Juli - 26 Agustus. Ada sekitar 58 orang yang tergabung dalam tim penjelajah Pesona Alam Cendrawasih dan tim bakti sosial.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X