Lembah Ngingrong, Wisata Alam Lengkap di Gunungkidul - Kompas.com

Lembah Ngingrong, Wisata Alam Lengkap di Gunungkidul

Kompas.com - 05/08/2018, 14:17 WIB
Pengunjung Menaiki Flying Fox di Lembah Ngingrong, Mulo, Wonosari, GunungkidulKompas.com/Markus Yuwono Pengunjung Menaiki Flying Fox di Lembah Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Berwisata alam di Kabupaten Gunungkidul, dI Yogyakarta, seolah tidak ada habisnya. Salah satunya di Lembah Ngingrong yang terletak di Desa Mulo, Kecamatan Wonosari.

Wisatawan bisa memacu adrenalin mulai dari flying fox hingga susur gua.

Ketua Pokdarwis Desa Mulo, Suwarno mengatakan pihaknya sejak tahun 2012 bersama masyarakat setempat melakukan pembukaan wisata.

Awalnya Lembah Ngingrong merupakan lokasi sering digunakan penduduk atau masyarakat Gunungkidul untuk istirahat sambil menyaksikan panorama lembah.

Lembah Ngingrong sendiri merupakan satu dari 16 geosite Gunungsewu Geopark Network di Gunungkidul. Luasnya sekitar 10 hektar dengan kedalaman 80 meter itu terletak di pinggir jalan raya antara Mulo - Tepus.

"Karena tepat dipinggir jalan menuju pantai, sering digunakan untuk melihat lembah sembari istirahat. Di salah satu dinding ada goresan alam yang bertulis lafal Allah, sehingga sering diganakan untuk berfoto," kat Suwarno kepada Kompas.com, Jumat (3/8/2018)

Tahun 2015 Lembah Ngingrong mulai dikenal wisatawan. Tak jauh dari sana Dinas Pariwisata Gunungkidul membangun Taman Batu atau Taman Geopark di sebelah barat Lembah Ngingrong.

Pemerintah Desa Mulo bersama masyarakat pada 2016 menjadikan Lembah Ngingrong menjadi destinasi wisata yang dikelola oleh Desa Wisata Mulo.

Flyingfox di atas Lembah Ngingrong dibuat sepanjang 135 meter dengan ketinggian 78 sampai 80 meter.

"Lalu dibangun flying fox melintasi lembah sehingga pengunjung bisa menikmati lembah dengan cara berbeda," ucapnya.

Pengunjung Berfoto di Lembah yang secara alami membentuk lafal Allah di Lembah Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul (Dokumentasi Pokdarwis)Kompas.com/Markus Yuwono Pengunjung Berfoto di Lembah yang secara alami membentuk lafal Allah di Lembah Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul (Dokumentasi Pokdarwis)

Selain flying fox, juga ada susur gua horisontal dan vertikal. Di dalam gua, wisatawan bisa menikmati telaga bawah tanah.

"Untuk yang susur gua horizontal sebesar Rp 200 ribu untuk empat orang. Sementara untuk paket susur gua telaga bawah tanah sebesar Rp 1,5 juta untuk tiga orang. Untuk flying fox Rp 45 ribu, paket naik APV," ucapnya.

Suwarno menjelaskan, bersama masyarakat, pihaknya mengembangkan pasar wisata kuliner yang diresmikan sejak Januari 2018.

Pasar ini menghadirkan sajian kuliner khas desa tersebut, buka setiap Sabtu dan Minggu. Sejumlah makanan tradisional yang mulai langka seperti botok, sambel tawon, makanan dari ketela, pecel, nasi gudeg, gudangan, nasi thiwul dan makanan unik lainnya bisa ditemukan.

"Pasar wisata kuliner ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat sekitar agar perekonomiannya meningkat. Masyarakat yang semula hanya bertani didorong untuk memproduksi makanan tradisional khas dan dipasarkan di pasar wisata," katanya.

Pengunjung menikmati mandi di telaga dalam Gua yang ada di lembah Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul, (dokumentasi Pokdarwis)Kompas.com/Markus Yuwono Pengunjung menikmati mandi di telaga dalam Gua yang ada di lembah Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul, (dokumentasi Pokdarwis)

Lembah Ngingrong merupakan satu dari 13 geosite Gunungsewu Unesco Global Geopark yang ada di Gunungkidul. Pemerintah setempat terus berupaya mendorong pengembangan oleh masyarakat untuk perekonomian.

"Kami terus berupaya memperkenalkan wisata baik yang dikelola Pemkab maupun masyarakat," kata Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul Asty Wijayanti.

Asty mengatakan, belum lama ini pihaknya mengajak 130 pelaku wisata se-Jawa untuk mengunjungi lokasi wisata Gunungkidul yang selama ini belum banyak dikenal. Salah satunya Lembah Ngingrong.

"Kita tidak hanya memperkenalkan wisata mainstream, tapi juga wisata edukasi. Seperti geosite Lembah Ngingrong, tempat pengelolaan kakao menjadi cokelat, hingga proses pembuatan topeng dan batik kayu di Bobung, Putat, Patuk," katanya.

Dengan pengenalan ini, Asty berharap, wisata yang dikembangkan masyarakat bisa berjalan dengan baik serta menambah perekonomian masyarakat. 


Komentar
Close Ads X