Kompas.com - 10/08/2018, 22:10 WIB

Produk-produk ini boleh dibilang sebagai soko guru perekonomian mereka. Ribuan orang di Pegaf bekerja pada sektor pertanian terutama produk holtikultura. Rupiah demi rupiah yang dihasilkan dari berdagang sayur dan buah menggerakkan perekonomian rakyat.

Memastikan di hari itu asap di dapur terus mengebul. Dari hasil berdagang pula mereka mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Para generasi penerus dari Pegunungan Arfak.

Holtikultura meliputi jenis-jenis sayur dan buah-buahan. Umumnya komoditas ini tak memerlukan waktu penanaman yang lama. Dalam beberapa bulan setelah penyebaran benih kita sudah bisa panen. Apabila produk-produk ini panen tiap tiga bulan sekali, maka dalam satu tahun bisa sampai tiga kali panen.

Beberapa macam sayur yang ditanam masyarakat Pegaf, antara lain: kentang, kol (kubis), sawi pahit, sawi putih, kangkung, bawang merah, wortel, labu siam, dan daun bawang. Hasil panen beragam jenis sayur ini sebagian dikonsumsi untuk diri sendiri. Namun tak jarang petani yang menjual sayurnya di Pasar Distrik Anggi maupun pasar-pasar di Manokwari.

Pasar Distrik Anggi sejatinya bukanlah pasar dalam pengertian yang sesungguhnya. Pasar ini adalah pasar dadakan. Kalau di Bengkulu orang biasa menyebutnya sebagai ‘pekan’.

Pasar dadakan ini berlangsung tiga kali seminggu pada hari Senin, Rabu, dan Jumat. Mulai ramai dengan lalu lalang penjual maupun pembeli sekitar pukul 05:00 WIT. Keramaian tersebut akhirnya surut pada pukul 07:00 WIT dan pasar dinyatakan selesai.

Kalau pasar di Anggi tak buka setiap hari, pasar-pasar di Manokwari adalah pasar yang hidup yang sibuk dengan hiruk pikuk aktivitas. Aktivitas jual beli dan bongkar muat barang dari truk dan mobil box berlangsung tiap hari.

Pasar Wosi dan Pasar Sanggeng, keduanya berada di Manokwari memiliki jumlah pedagang asal Arfak yang signifikan.

Saat pertama kali menjajal belanja di Pasar Sanggeng kami kaget dengan harga yang relatif mahal bagi orang kota. Insting mahasiswa merangkap anak kost kami mulai bekerja.

Buah berry di perkebunan warga Distrik Anggi Gida, Pegunungan Dok. MAPALA UI Buah berry di perkebunan warga Distrik Anggi Gida, Pegunungan
Kami mencoba tawar-menawar sengit yang biasa kami lakukan di Depok. Hasilnya di luar dugaan. Kami malah dinasehati dan kadang dimaki.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.