Kompas.com - 04/09/2018, 20:23 WIB
Tarsius di Sulawesi Utara merupakan primata terkecil di dunia. NOVA DIENTarsius di Sulawesi Utara merupakan primata terkecil di dunia.

BITUNG, KOMPAS.com - Salah satu hewan unik yang harus Anda temui saat berkunjung ke Sulawesi Utara ialah tarsius. Hewan unik nan menggebaskan ini dikenal sebagai monyet terkecil di dunia.

Ukuran tarsius memang hanya sekepal tangan orang dewasa, bobotnya pun hanya 12 gram saat ia dewasa.

Namun dengan badannya yang kecil, tarsius dapat melompat dengan mudah ke posisi yang tinggi untuk menangkap mangsanya, yaitu serangga dan kadal.

Hewan yang satu ini juga ternyata romantis, hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya alias monogami. Jika pasangannya mati, maka tarsius tidak akan mencari pasangan pengganti.

Untuk menemuinya, Anda perlu berkelana saat matahari mulai tenggelam. Mamalia yang satu ini aktif di malam hari alias nokturnal.

"Ia nokturnal yang lincahnya di peralihan hari atau crespuscular, kalau mau liat waktu paling tepat sore," ujar Mochamad Indrawan, Peneliti Hewan Langka dan Perubahan Iklim Universitas Indonesia, ditemui KompasTravel di Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Bitung, Sabtu (31/8/2018).

Seekor tarsius di Hutan Taman Nasional bogani Nnai Wartabone, GorontaloIdham Ali Seekor tarsius di Hutan Taman Nasional bogani Nnai Wartabone, Gorontalo
Indrawan menjelaskan, untuk hidup di malam hari, tarsius memiliki mata yang besar dan bercahaya. Selain itu tarsius juga dapat memutar kepalanya hingga 180 derajat ke arah manapun untuk melihat mangsanya, sama seperti burung hantu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jadi jangan kaget ketika bertemunya di malam hari, dengan mata melotot dan leher yang memutar 180 derajat," canda Indrawan.

Di siang hari, tarsius akan diam dan istirahat atau tidur. Lucunya ia tidur dengan menempel di dahan, tidak seperti mamalia lainnya.

Indrawan mengatakan, saat tidur, tarsius bisa memejamkan hanya sebelah matanya. Sementara satu matanya terbuka, walau tidak melihat.

Habitat tarsius berada di hutan primer, tetapi juga bisa ditemui di hutan sekunder dengan populasi yang cukup melimpah untuk beberapa jenis. Sebagian tarsius masuk hewan yang dilindungi, sebagiannya lagi dapat berkembang biak secara bebas.

Benteng Otahiya salah satu dari 3 benteng di kawasan perbentengan Otanaha. Kawasan ini menjadi habitat puluhan jenis burung, tarsius, kuskus beruang, hingga kupu-kupu.KOMPAS.COM/ROSYID AZHAR Benteng Otahiya salah satu dari 3 benteng di kawasan perbentengan Otanaha. Kawasan ini menjadi habitat puluhan jenis burung, tarsius, kuskus beruang, hingga kupu-kupu.
"Yang terancam itu memang habitatnya terancam, mulai kerusakan hutan, sampe pestisida pertanian. Kalau yang populasinya banyak biasanya rumahnya memang tidak terganggu, di beberapa daerah Sulawesi," tutur pria penerima Kalpataru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2018 itu.

Tarsius baru ditemukan di beberapa pulau Asia Tenggara, yang paling banyak ialah di Sulawesi, dengan 11 jenis tarsius. Dua jenis tarsius yang baru ditemukan ialah Tarsius spectrumgurskyae dan Tarsius supriatnai.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.