Menyantap Kuliner Khas Belitung di Kedai Tempat Aktivis Berkumpul

Kompas.com - 06/09/2018, 15:17 WIB
Mi belitung dan es jeruk kunci dari Kedai 46 di Tanjung Pandan, Belitung, Rabu (5/9/2018). KOMPAS.com/JESSI CARINA Mi belitung dan es jeruk kunci dari Kedai 46 di Tanjung Pandan, Belitung, Rabu (5/9/2018).


BELITUNG, KOMPAS.com - Jika Anda berlibur ke Belitung, jangan lupa untuk mencoba kuliner khas daerah tambang timah itu.

Di Jalan Sudirman, Tanjung Pandan, terdapat kedai bernama Kedai 46 yang berada satu lokasi dengan Radio BFM.

Pemiliknya, Ozzie Azura Zura, menyajikan berbagai menu khas Belitung di kedainya itu. Kompas.com mencoba salah satu makanan legendaris daerah ini yaitu mi belitung dan es jeruk kunci.

"Mi belitung ini khas karena disajikan dengan daun simpor. Daun ini selalu dipakai orang-orang Belitung untuk membungkus apa saja, sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat," ujar Ozzie di kedainya, Rabu (5/9/2018).

Mi belitung memang khas. Mi ini direbus dan disiram dengan kuah udang yang kental nan gurih. Ada sedikit rasa manis ketika kuahnya dicicipi. Mi tersebut kemudian ditambah dengan udang, potongan tahu, dan emping.

Ozzie mengatakan mi ini adalah salah satu yang menjadi favorit. Biasanya pembeli memesan es jeruk kunci sebagai teman makan mi belitung ini.

Baca juga: Kini ke Belitung Bisa Menginap di Hotel Santika

Jeruk kunci menjadi salah satu buah khas Bangka. Ketika dibuat jadi es, rasanya asam tetapi menyegarkan. Kata Ozzie, buah ini punya khasiat menurunkan kolesterol.

"Kalau ke tempat oleh-oleh, pasti banyak yang jual jeruk kunci ini. Karena memang khasiatnya besar untuk menurunkan kolestrol," kata dia.

Selain mi belitung, banyak makanan khas Belitung lain yang dijual di kedai ini. Seperti gangan darat daging (sup ikan ala belitung), sate ikan, dan sop kepiting.

Kedai Mi 46, Belitung.ICHWAN CASANI / WARTA KOTA Kedai Mi 46, Belitung.

Tempat kumpul aktivis

Ozzie sendiri mengaku sebagai seorang aktivis lingkungan. Beberapa menu di kedainya diberi nama seperti isu-isu yang sedang dia perjuangkan, contohnya nasi goreng kapal isap.

Ozzie mengatakan nama menu itu terinspirasi dari protes akan munculnya kapal-kapal isap di Belitung.

"Kapal isap itu mengambil timah di lautan. Di daratan, mengambil timah sudah tidak efektif sekarang dihisap laut itu," ujar Ozzie.

Baca juga: Yuk, Jelajahi 5 Pantai di Pulau Belitung

Ozzie tidak ingin perairan Belitung hancur gara-gara tambang laut. Dia pun menggunakan kedainya untuk menyuarakan protes itu.

Ozzie mengatakan kedainya juga sering menjadi tempat aktivis lingkungan berkumpul. Kebanyakan juga adalah pendengar radio BFM sendiri.

Kala terjadi bencana, kedainya juga biasa dijadikan sebagai posko.

"Di sini jadi tempat posko juga, jadi tempat pendengar radio, dan jadi tempat aktivis gerakan berkumpul," kata dia.




Close Ads X