Kompas.com - 02/10/2018, 18:10 WIB

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Jika datang ke Banyuwangi, sempatkan untuk berkunjung di Taman Gandrung Terakota yang berada di kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. Di kawasan yang berada di bawah kaki Gunung Ijen ini terdapat ratusan patung Gandrung yang terbuat dari tembikar atau gerabah.

Sigit Pramono, penggagas Taman Gandrung Terakota kepada Kompas.com menjelaskan taman Gandrung tersebut terinsiprasi dari Terracotta Warrior and Horses di Tiongkok yang dibangun pada masa Kaisar Qin Shi Huang (259-210 SM).

Dia sengaja memilih menggunakan bahan tanah liat karena lebih menyatu dengan alam, dan tanah liat lebih rentan yang menjadi simbol dari ketidakabadian.

"Ini adalah galeri raksasa dan makna yang kita tawarkan adalah kesenian dan ketidakabadian. Karena yang abadi adalah proses, makna dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya,” jelasnya.

Baca juga: Tour de Banyuwangi Ijen, Spirit of Blue Fire. Menuai Pujian

Penataan ratusan patung gandrung tersebut melibatkan kurator seni rupa dari Galeri Nasional Indonesia sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dr Suwarno Wisetrotomo. Ratusan patung tersebut ditata sedemikian rupa di kawasan pesawahan dengan latar belakang kebun dan Gunung Ijen.

Nama terakota diambil karena nama lain dari tembikar atau gerabah yang digunakan sebagain bahan dasar patung. Sementara Gandrung dipilih karena Gandrung merupakan salah satu identitas budaya yang dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi yang lahir dari budaya agraris.

"Kesenian Gandrung memang berasal dari tradisi rakyat, yang awalnya adalah wujud syukur atas hasil pertanian yang melimpah. Karena itu, situs rawat-ruwat Tari Gandrung ini pun kita hamparkan berdampingan dengan aktivitas rakyat, yaitu petani yang tetap membajak sawah dengan kerbau, menanam dan memanen padi," pungkasnya.

Baca juga: Turis Malaysia Suka Pantai dan Kuliner Banyuwangi

Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sangat antusias dengan tumbuhnya destinasi baru di Banyuwangi itu.

"Kami sangat bangga dengan antusiasme berbagai pihak untuk terus mengembangkan Banyuwangi. Ini dibangun tanpa APBD, melainkan oleh swasta yang punya kepedulian terhadap seni budaya Banyuwangi," kata Anas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.