Menikmati Makanan dengan Bumbu Tradisional Aceh Tanpa Penyedap - Kompas.com

Menikmati Makanan dengan Bumbu Tradisional Aceh Tanpa Penyedap

Kompas.com - 09/10/2018, 10:50 WIB
Pengunjung bersantap di Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Senin (8/10/2018).KOMPAS.com/MASRIADI Pengunjung bersantap di Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Senin (8/10/2018).

ACEH TIMUR, KOMPAS.com - Karim (40) tersenyum menyambut kedatangan pengunjung di warung makan milik ayahnya, di Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Senin (8/10/2018).

Siang itu, dua mobil pribadi terparkir di depan bangunan berkonstruksi kayu tanpa cat tersebut.

“Silakan duduk,” sambut Karim, penuh senyum.

Baca juga: Kini, Ada Buku Panduan Wisata Sejarah Aceh

Warung makanan itu salah satu yang melegenda di sisi jalan lintas nasional Medan-Banda Aceh, Kabupaten Aceh Timur. Mereka menjanjikan penganan yang disajikan dengan bumbu tradisional khas Aceh dan tanpa penyedap rasa buatan.

Tagline kami bumbu gampong (desa) tanpa penyedap,” kata Karim berpromosi.

Pengunjung bersantap Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Senin (8/10/2018).KOMPAS.com/MASRIADI SAMBO Pengunjung bersantap Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Senin (8/10/2018).
Dia pun membantu beberapa pengunjung untuk berfoto sebelum memulai santap siang itu.

Di meja terhidang beberapa menu seperti udang galah goreng, daun ubi rebus, rendang jengkol, aneka ikan sekap disayur lemak, hingga ikan kareng (teri) disambal goreng.

“Hanya ini menu yang kami punya,” kata Karim. Dia tak henti-hentinya mempromosikan masakan itu.

Baca juga: Festival Meugang, Tradisi Membelah Kepala Sapi di Banda Aceh

Dua pekerja perempuan dengan cekatan mengangkat hidangan ke meja. Senyum mereka sangat ramah. Berkali-kali kepada pengunjung dia mengulang-ulang kalimat, “Jika ada yang kurang, harap dikabari kami".

Siang itu terlihat tiga meja dipenuhi pengunjung. Ya, itulah suasana rumah makan Kota Basarah. Nama ini merujuk ke proses masuknya Islam ke Peureulak, Aceh Timur.

Pengunjung bersantap Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Senin (8/10/2018).KOMPAS.com/MASRIADI SAMBO Pengunjung bersantap Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Senin (8/10/2018).
Literatur sejarah menyebutkan, Islam pertama masuk ke Asia Tenggara ke Peureulak, Aceh Timur. Itu dilihat dari sisi pelayaran pedagang Arab dari Pelabuhan Basarah di Irak, singgah ke Peureulak, Aceh, seterusnya menuju ke Katon, China.

Dari nama kota pelabuhan itu lah diambil nama rumah makan tersebut. Dibuka sejak 2009 lalu, rumah makan ini dapat dikunjungi mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.

Praktis makan siang dan makan malam tersedia di sana. Halaman parkir nan luas membuat angkutan umum, truk, dan mobil pribadi kerap singgah di daerah ini.

Apalagi, di sisi kiri-kanan bangunan masih terdapat kebun warga menambah kesejukan rumah makan itu. Soal rasa, saya mencicipi beberapa menu, seperti semur jengkol, ikan sakab digulai, rasanya sungguh pas di lidah. Benar-benar tanpa penyedap rasa.

Pengunjung berdiri di depan Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Senin (8/10/2018).KOMPAS.com/MASRIADI SAMBO Pengunjung berdiri di depan Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Senin (8/10/2018).
Menariknya, ketika menyantap sayur rebus seperti daun ubi rasanya sedikit tawar. Karim, menawarkan tambahan garam.

Namun saya menolak. Dugaan saya, sengaja dibuat agak tawar, agar ketika dibalur kuah dari ikan atau menu lain rasanya akan pas di lidah.

Begitu dicoba, ternyata dugaan saya benar, begitu semur jengkol dibalur dengan sayur rebus, plus ikan sakab digulai, rasa tawar itu hilang seketika. Cukup pas di lidah.

Uniknya lagi, seluruh menu itu diracik secara tradisional. Tanpa sentuhan teknologi modern seperti blender. “Digiling manual. Masih sangat manual. Ini kami pertahankan, karena menurut banyak orang, bumbu digiling manual itu, rasanya lebih enak,” kata Karim.

Muammar, salah seorang pengunjung mengamini pernyataan Karim. Dia mengakui kelebihan rumah makan itu terletak pada pilihan bumbu. Baginya, bumbu di rumah makan ini istimewa.

Pengunjung bersantap di Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Senin (8/10/2018).KOMPAS.com/MASRIADI SAMBO Pengunjung bersantap di Rumah Makan Basarah, Desa Sarah Teube, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Senin (8/10/2018).
“Digiling pakai tangan, batu gilingan itu rasanya krispi. Agak kasar, tapi semua terasa pas di lidah,” katanya.

Tampaknya itu pula yang membuat pengunjung melabuhkan pilihan makan siang dan malam di rumah makan itu. Mereka singgah untuk mengisi lambung, menikmati bumbu tradisional.

Nah, Anda penasaran, silakan singgah ketika melintasi rute nasional Medan-Banda Aceh. Selamat mencoba.



Close Ads X