Lantunan Salawat dan Hadrah Kuntulan Semarakkan Festival Gandrung Sewu

Kompas.com - 20/10/2018, 09:48 WIB
Pelajar Banyuwangi di Festival Gandrung Sewu  yang digelar di Pantai Boom, Sabtu (17/9/2016). KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATIPelajar Banyuwangi di Festival Gandrung Sewu yang digelar di Pantai Boom, Sabtu (17/9/2016).

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Festival Gandrung Sewu 2018 yang digelar Sabtu (20/10/2018) di Banyuwangi, Jawa Timur, dipastikan kembali menyajikan kekayaan seni yang beragam dari daerah ujung timur Pulau Jawa itu.

Tahun ini, seni Hadrah Kuntulan akan mewarnai penampilan Gandrung Sewu yang telah digelar rutin selama tujuh tahun terakhir.

Kesenian Hadrah Kuntulan akan menjadi pembuka pergelaran ini. Sebanyak 150 anak muda akan melantunkan bait-bait pujian Islami dengan alunan musik hadrah.

"Mereka akan mengumandangkan puji-pujian tentang keagungan Allah SWT, salawat, yang di dalamnya juga terselip doa dan permohonan ampunan seorang hamba kepada Sang Khalik, serta memohon keselamatan dunia akhirat," kata Sabar Harianto, pelatih seni kuntulan yang merupakan salah satu budaya khas Banyuwangi.

Baca juga: Melihat Ratusan Patung Gandrung di Jiwa Jawa Resort Banyuwangi

Di Banyuwangi, Tari Kuntulan biasanya tampil pada waktu peringatan hari besar keagamaan. Para penarinya menampilkan tari Rodat, dengan memakai kerudung, sarung tangan, dan kaus kaki.

Setiap tahun juga digelar Festival Kuntulan yang mempertemukan berbagai kelompok musik Islami dari seluruh Banyuwangi.

"Para penarinya akan menampilkan koreografi yang didominasi permainan tangan dan badan. Mereka terus berlatih untuk menyiapkan penampilannya. Perpaduan dengan musik Hadrah juga terus diasah,” jelas Sabar.

Baca juga: Turis Malaysia Suka Pantai dan Kuliner Banyuwangi

Selain Hadrah Kuntulan, para penonton juga menyaksikan aksi qori (pembaca Al Quran) Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, Muhamad Qudus, yang akan melantunkan shalawat Nabi. Qudus akan diiringi hadrah Al Banjari untuk mengumandangkan puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

"Seni hadrah kuntulan itu dipastikan bakal semakin menyemarakkan Festival Gandrung Sewu," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda.

Bramuda menjelaskan, tahun ini, pergelaran Gandrung Sewu mengangkat tema “Layar Kumendung”. Tema ini mengacu dari salah satu tembang yang menjadi pengiring pada tari Gandrung.

Ceritanya menampilkan kisah heroisme bupati pertama Banyuwangi, Raden Mas Alit dalam menentang pendudukan VOC Belanda. Meski kemudian Raden Mas Alit harus gugur dalam ekspedisi pelayaran (Layar) hingga menyebabkan kesedihan (Kumendung) bagi rakyat Banyuwangi.

Penari Gandrung BanyuwangiBUDIOSING SETIANTO Penari Gandrung Banyuwangi
“Kisah kepahlawanan itu dikemas dalam fragmen menarik, sehingga pertunjukan ini tidak sekadar peristiwa seni dan budaya, tapi juga menjadi media untuk kembali mengingat sejarah pahlawan yang telah berjasa bagi daerah ini. Sehingga kita bisa terus mencintai daerah ini serta tergerak untuk memajukannya,” ujar Bramuda.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berharap, tampilnya Hadrah Kuntulan bakal semakin menumbuhkan iklim mencintai seni-budaya daerah.

“Kami ingin anak-anak muda juga mencintai seni Kuntulan sekaligus bagian dari dakwah. Juga tentu kesenian-kesenian lainnya agar bisa terus lestari di tengah kemajuan zaman dan gempuran seni-budaya global,” ujarnya. (*)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X