Tips agar Siap dengan Kemungkinan Terburuk dalam Penerbangan - Kompas.com

Tips agar Siap dengan Kemungkinan Terburuk dalam Penerbangan

Kompas.com - 30/10/2018, 13:48 WIB
Calon kabin kru dan pilot dilatih teknik pelayanan, penampilan, komunikasi, keamanan, dan pengamanan di Garuda Indonesia Training Centre, Duri, Jakarta Barat, Senin (10/9/2018).KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Calon kabin kru dan pilot dilatih teknik pelayanan, penampilan, komunikasi, keamanan, dan pengamanan di Garuda Indonesia Training Centre, Duri, Jakarta Barat, Senin (10/9/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com — Transportasi apa pun yang Anda pilih saat traveling, semuanya memiliki risiko dalam hal keselamatan. Baik itu mobil, bus, kereta api, maupun pesawat.

Berkaca dari kasus jatuhnya kapal Lion Air JT 610 yang menggunaan pesawat keluaran baru Boeing 737 Max 8. Pesawat canggih masa kini pun tidak luput dari risiko kecelakaan.

Oleh karena itu, sewajarnya Anda bersiap dalam hal fisik dan mental untuk menghadapi kondisi darurat yang tidak diinginkan.

Beberapa waktu lalu KompasTravel sempat mengikuti simulasi pendaratan darurat pesawat di air (wet drill) dan di darat (dry drill) di Garuda Indonesia Training Centre (GITC), Jakarta Barat.

Di tempat pelatihan awak kabin dan pilot Garuda Indonesia itu, salah satu hal yang paling menegangkan adalah simulasi pendaratan darurat saat pesawat mengalami hal yang tidak diinginkan. Simulasi dilakukan dalam kabin pesawat boeing 737 klasik dengan skala yang sama persis aslinya.

Calon kabin kru dan pilot dilatih teknik pelayanan, penampilan, komunikasi, keamanan, dan pengamanan di Garuda Indonesia Training Centre, Duri, Jakarta Barat, Senin (10/9/2018).KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Calon kabin kru dan pilot dilatih teknik pelayanan, penampilan, komunikasi, keamanan, dan pengamanan di Garuda Indonesia Training Centre, Duri, Jakarta Barat, Senin (10/9/2018).
Kondisi yang digambarkan saat simulasi, lampu kabin kapal akan mati-nyala mati-nyala, dan asap keluar dari beberapa titik sehingga merabunkan pandangan. Ditambah teriakan histeris dari para penumpang keluar dari efek audio simulator.

"Kondisi itu memang di-setting menyerupai aslinya, mulai dari turbulensi sampai efek-efek suara," jelas Hari Herlambang, Senior Manager General Support and Training Garuda Indonesia di GITC dalam kegiatan tersebut.

Dari kondisi yang begitu menyerupai aslinya, banyak pelajaran dan tips yang bisa diambil. Berikut KompasTravel rangkum tips agar siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk dalam penerbangan.

1. Perhatikan peragaan keselamatan

Peragaan keselamatan atau safety demonstration acap kali diabaikan saat sebelum pesawat lepas landas. Padahal hal itu sangat penting untuk mengingat kembali prosedur keselamatan, juga menyiapkan mental.

Anda jangan ragu untuk bertanya jika ada hal yang kurang dipahami, seperti posisi pelampung, tempat keluar masker, pintu darurat terdekat, dan lainnya.

Meski hal tersebut bukan yang pertama kali Anda lihat, dalam keadaan darurat hal tersebut harus diingat "di luar kepala", alias Anda harus paham betul.

2. Selalu ingat hanya punya waktu 90 detik

Inilah yang jarang diketahui banyak orang bahwa awak kabin hanya punya waktu 90 detik untuk mengeluarkan seluruh penumpang. Baik itu pesawat berbadan besar dengan 300-an penumpang maupun pesawat kecil dengan puluhan penumpang.

Meski mengeluarkan penumpang merupakan salah satu tugas awak kabin dalam keadaan darurat, tentunya Anda tidak akan bisa mengandalkan awak kabin sepenuhnya.

Dalam kondisi pengelihatan minim, pendengaran yang ribut dengan teriakan dan gemuruh, juga bau asap, Anda harus mandiri mengambil tindakan.

3. Buat skema evakuasi sendiri

Hal ini termasuk yang paling penting menurut KompasTravel, karena membuktikan seberapa siap Anda menghadapi kemungkinan terburuk.

Anda bisa merunutkan apa-apa yang harus dilakukan ketika mulai ada peringatan. Skema Anda bisa disesuaikan dengan arahan dari awak kabin saat peragaan, semisal mengambil masker terlebih dulu, merunduk, lalu mengambil pelampung, lari ke depan atau ke belakang, dan seterusnya.

Jangan lupa perhitungkan juga keluarga atau orang terdekat yang terbang bersama Anda untuk menjadi prioritas yang diselamatkan.

4. Hitung jarak dari bangku Anda ke pintu darurat

Pintu darurat akan jadi sesuatu yang paling dicari saat pilot menyerukan perintah "evacuate". Sedangkan kondisinya nanti akan sangat ribut, hampir semua indera manusia terganggu. Anda harus bisa menemukan pintu darurat di tengah huru-hara.

Anda bisa mulai mengukur dengan menghitung berapa kursi yang harus Anda lewati ke pintu darurat terdekat, atau berapa langkah dari kursi tempat Anda duduk.

Jika ada sanak keluarga yang duduknya berjauhan, tidak ada salahnya Anda menghafalkan dan menghitung jarangnya juga. Sehingga Anda bisa membantunya.

5. Bebas dari "buang air" saat take off dan landing

Dua waktu ini sering disebut saat-saat kritis pesawat, karena mayoritas kecelakaan terjadi saat pesawat lepas landas atau saat mendarat.

Lazimnya Anda diharuskan tidak meninggalkan kursi, dengan sabuk pengaman terikat, merapikan sandaran, membuka kaca jendela, hingga menutup meja makan.

6. Simpan identitas dan barang berharga di badan

Identitas diri berupa kartu-kartu utamakan berada di badan Anda. Bisa dalam saku, dalam tas pinggang atau sling bag. Hal tersebut sangat berguna untuk pendataan jika terjadi hal yang tidak diinginkan, semisal terpisah dengan keluarga.

7. Jangan salah menggunakan pelampung

Teknis yang satu ini cukup berpengaruh saat evakuasi berlangsung. Salah menggunakan pelampung, Anda bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain.

Ketika keadaan panik, prosedur evakuasi pun sangat mungkin salah dilakukan. Seperti terburu-buru mengembungkan pelampung sehingga menyulitkan gerak.

Anda bisa mengembungkan pelampung begitu sampai di permukaan air, atau sesaat sebelum loncat dari pesawat, jika mendarat di air. Sedangkan jika mendarat darurat di darat, tidak perlu kembungkan pelampung.

KompasTravel merasakan jika pelampung dikembangkan saat berada di dalam pesawat, akan sangat mengganggu ruang gerak, dan sulit melihat jalan keluar.

Setelah menjumpai pintu darurat yang sudah terbuka, Anda bisa langsung loncat ke permukaan air tanpa menggunakan bantalan. Berbeda dengan di darat yang menggunakan bantalan seluncur.

Ridwan, salah satu instruktur yang melatih dalam simulasi ini, mengatakan salah satu kunci agar selamat ialah faham cara evakuasi yang benar, dan jangan panik.

"Pelampung juga harus paham betul cara pakainya, keluar harus sudah kalungin pelampung," pungkasnya.



Close Ads X