Banyuwangi-Bali Kembangkan Klaster Ekowisata - Kompas.com

Banyuwangi-Bali Kembangkan Klaster Ekowisata

Kompas.com - 05/11/2018, 10:41 WIB
Wisatawan menikmati pemandangan danau kawah gunung Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (23/6/2018). Kawah Ijen dengan kedalaman 200 meter menjadi salah satu dari dua lokasi di dunia yang memiliki fenomena api biru selain Islandia, membuat Ijen menjadi tujuan utama pendaki dari berbagai pelosok negeri hingga mancanegara.ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA Wisatawan menikmati pemandangan danau kawah gunung Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (23/6/2018). Kawah Ijen dengan kedalaman 200 meter menjadi salah satu dari dua lokasi di dunia yang memiliki fenomena api biru selain Islandia, membuat Ijen menjadi tujuan utama pendaki dari berbagai pelosok negeri hingga mancanegara.

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) serius mengembangkan destinasi pariwisata berkelanjutan. Salah satunya, dengan mengembangkan destinasi ekowisata/wisata alam terpadu klaster Jawa Timur dan Bali.

Hal itu dikemukakan Asisten Deputi Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kemenpar Alexander Reyaan dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Klasterisasi Destinasi Ekowisata Jawa Timur-Bali di Banyuwangi belum lama ini.

Menurut Reyaan, langkah ini penting dilakukan untuk pengembangan pariwisata Indonesia. Pasalnya, kecenderungan wisatawan dunia telah bergeser ke arah ekowisata.

"Konsep wisata back to nature merupakan tren terkini yang menjadi incaran wisatawan dunia. Oleh sebab itu, pengembangan klaster menjadi keputusan yang sangat ideal. Klaster ini diharapkan dapat bersinergi dengan baik sehingga target kunjungan wisman dari sektor ekowisata dapat memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap devisa negara sehingga semakin menyejahterakan masyarakat,” kata Alexander dalam siaran pers Humas Pemkab Banyuwangi.

Baca juga: Gandrung Sewu 2018, Berkah Ekonomi Masyarakat Banyuwangi

Dia menambahkan, dipilihnya Jatim dan Bali sebagai lokasi pengembangan bukan tanpa alasan. Secara geografis, dua daerah ini letaknya berdekatan sehingga memiliki konektivitas dan keterkaitan yang cukup baik.

Pertigaan Pantai Ngagelan setelah Pos Rowobendo, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur.KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO Pertigaan Pantai Ngagelan setelah Pos Rowobendo, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur.
Selain itu, lanjut Alexander, Jatim-Bali juga memiliki destinasi ekowisata yang cukup menarik dan beragam.

Di Jatim misalnya, terdapat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Taman Nasional Baluran (TNB) serta Taman Wisata Alam Kawah Ijen (TWA Kawah Ijen).

Baca juga: Tour de Banyuwangi Ijen, Spirit of Blue Fire. Menuai Pujian

Sementara Bali, khususnya Kabupaten Jembrana, memiliki Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

"Potensi-potensi ekowisata ini akan berkembang lebih cepat jika ada kerja sama yang baik antar daerah (Jatim-Bali). Dengan kolaborasi, akan tercipta pengelolaan ekowisata yang harmonis. Destinasi satu dengan lainnya akan saling mendukung dan menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” kata Alexander.

Alexander menambahkan, program klasterisasi ini semakin meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia karena ekowisata merupakan bagian dari pariwisata berkelanjutan dan bisa meningkatkan daya saing pariwisata.

Taman Nasional Baluran (TNB) di perbatasan Banyuwangi-Situbondo, Jawa Timur.ANTARA FOTO/AGUNG RAJASA Taman Nasional Baluran (TNB) di perbatasan Banyuwangi-Situbondo, Jawa Timur.
Berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI), World Economic Forum (WEF), tahun 2017 daya saing pariwisata Indonesia naik ke peringkat 42 dari peringkat 50 pada tahun 2015.

"Komitmen pemerintah ditunjukkan dengan menghubungkan sebagian besar target dan indikator SDGs ke dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN). Selain itu, Kemenpar juga mengeluarkan Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan, sehingga acuannya pun jelas," kata Alex.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik ide tersebut. Anas yang sempat memaparkan strategi pengembangan pariwisata Banyuwangi pun, sepakat dengan konsep kolaborasi yang dirancang oleh Kemenpar.

“Sekarang bukan zamannya lagi berkompetisi. Agar semakin maju, daerah harus saling berkolaborasi. Inilah yang telah kami lakukan di Banyuwangi termasuk di sektor pariwisata. Kami sudah sepakat kerja sama kapal cepat dengan Kabupaten Buleleng Bali. Kami juga sedang merancang untuk menggelar event ‘Selat Bali’ bersama dengan Kabupaten Jembrana Bali pada 2019 nanti. Bahkan, ini sudah kami anggarkan tinggal menunggu kepastian dari pihak Jembrana,” kata Bupati Anas.

Taman Nasional Baluran (TNB) di perbatasan Banyuwangi-Situbondo, Jawa Timur.ANTARA FOTO/AGUNG RAJASA Taman Nasional Baluran (TNB) di perbatasan Banyuwangi-Situbondo, Jawa Timur.
Untuk mendorong pengembangan ecotourism sendiri, menurut Anas, sejak beberapa tahun lalu Banyuwangi telah menggelar beragam agenda pariwisata yang berbasis alam. Seperti International Tour de Banyuwangi Ijen, Ijen Green Run, dan masih banyak lainnya.

“Kami juga mengeluarkan peraturan desa (perdes) yang mengatur ketentuan pembangunan di suatu kawasan yang memiliki alam yang indah. Ini semua kami lakukan semata-mata agar ekoturisme di Banyuwangi tetap terjaga,” imbuhnya. (*)



Close Ads X