Rasa dan Aroma Kopi Manggarai Memikat Dosen Binus Jakarta - Kompas.com

Rasa dan Aroma Kopi Manggarai Memikat Dosen Binus Jakarta

Kompas.com - 08/11/2018, 07:23 WIB
Kopi Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.KOMPAS.com/MARKUS MAKUR Kopi Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

RUTENG, KOMPAS.com — Peserta program doktoral Resources Management Universitas Bina Nusantara Jakarta terpikat dengan rasa dan aroma kopi Manggarai Raya (Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur) yang sangat berbeda dengan rasa kopi aceh, sidikalang, dan kopi toraja.

Seluruh dosen program doktoral Resources Management Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta adalah penyuka kopi Nusantara.

Lalu, Dr Agustinus Bandur asal Manggarai Barat menawarkan cita rasa dan aroma kopi manggarai raya kepada seluruh dosen di program doktoral. Bandur membawa biji kopi dan tepung kopi manggarai raya.

Baca juga: Berlibur di Labuan Bajo, Pesepak Bola Arjen Roben Beli Kopi Flores

Selanjutnya, para dosen merasakan dan menikmati cita rasa dan aroma kopi manggarai raya tersebut.

Rasa dan aroma kopi manggarai raya sangat berbeda dengan kopi dari berbagai provinsi di Indonesia. Saat itu pula pihak pengelola dan penanggung jawab program doktoral Resources Management yang dipimpin Dr Dyah Budiastuti memutuskan untuk bergerak memberdayakan petani kopi di Manggarai Raya, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Baca juga: Gerakan Sejuta Cangkir Kopi Flores Pecahkan Rekor Muri

Dyah Budiastuti menjelaskan, pada Oktober 2018 sejumlah doktor dari Universitas Bina Nusantara Jakarta melakukan survei dan pemetaan dan kendala-kendala yang dihadapi petani di kawasan Manggarai Raya.

Prof. Adler Haymans Manurung, ME, M.com, Dr. Ir. Mohammad Hamsal, MSE, MQM, MBA, Dr. Asnan Furinto, MBA, Dr Sri Bramantoro Abdinagoro dan Dr. Agustinus Bandur, Ph.D mengunjungi kawasan Manggarai Raya bertemu dengan sejumlah petani dan pegiat kopi manggarai di Kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai.

Seorang Dosen Binus Jakarta mengembalikan tawu berisi tuak Manggarai kepada tua adat di Mbaru gendang di Kampung Paang Lembor, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, Flores, NTT sesuai ritual kepok kapu keada Dosen dari Universitas Bina Nusantara Jakarta yang mengunjungi kampung adat tersebut pada Oktober 2018.  KOMPAS.com/MARKUS MAKUR Seorang Dosen Binus Jakarta mengembalikan tawu berisi tuak Manggarai kepada tua adat di Mbaru gendang di Kampung Paang Lembor, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, Flores, NTT sesuai ritual kepok kapu keada Dosen dari Universitas Bina Nusantara Jakarta yang mengunjungi kampung adat tersebut pada Oktober 2018.
Dyah menjelaskan, langkah awal yang dilakukan pihaknya adalah melakukan survei dan mengumpulkan data terkait dengan kendala-kendala yang dihadapi petani di kawasan Manggarai Raya.

Para dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta ini mengunjungi beberapa kawasan tanaman kopi di Manggarai Raya. Pemetaan dan survei ini dilakukan selama tiga tahun ke depan  bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santo Paulus Ruteng.

"Berawal dari penyuka kopi nusantara, lalu kami mencoba merasakan dan menikmati rasa dan aroma kopi manggarai raya yang dibawa salah satu dosen asal Manggarai Raya. Setelah dirasa dan dinikmati ternyata kopi manggarai enak dan nikmat," kata Dyah kepada Kompas.com, ketika ditemui di STKIP Santo Paulus Ruteng, awal Oktober 2018.

Mulai saat itu, lanjut Dyah, Universitas Binus Jakarta, khusus program Doktoral Resources Management tergerak untuk melakukan pemberdayaan petani kopi di Manggarai Raya.

"Kami melakukan riset dan survei langsung di lapangan," katanya.

Dyah Budiastuti mengaku heran mengapa kopi manggarai tidak terkenal di Jakarta. Selama ini yang diketahui secara luas adalah kopi gayo dari Sumatera.

"Kopi manggarai harus ada gaung di Jakarta. Sesungguhnya kopi manggarai dengan rasa dan aroma yang sangat berbeda sangat dicari oleh penikmat dan pedagang kopi internasional. Untuk itu Universitas Bina Nusantara Jakarta hadir di tengah-tengah petani kopi di Manggarai Raya dalam waktu tiga tahun ke depan," katanya.

Dua wisatawan asal Perancis menikmati aroma kopi yang telah disangrai di Kafe Mane, salah satu tempat berkumpul penikmat kopi di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kafe ini menyajikan kopi terbaik yang didapatkan dari petani Manggarai. Sebagian besar tamu di kafe ini adalah wisatawan asing yang singgah di Ruteng dalam perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata di Flores.KOMPAS/DANU KUSWORO Dua wisatawan asal Perancis menikmati aroma kopi yang telah disangrai di Kafe Mane, salah satu tempat berkumpul penikmat kopi di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kafe ini menyajikan kopi terbaik yang didapatkan dari petani Manggarai. Sebagian besar tamu di kafe ini adalah wisatawan asing yang singgah di Ruteng dalam perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata di Flores.
Prof Adler Haymans Manurung kepada Kompas.com menjelaskan, kopi manggarai raya lebih berpotensi dan terkenal hingga manncanegar.

Menurut Adler, kekuatan petani kopi di Aceh, Sidikalang, Gayo dan Toraja bahwa mereka fokus untuk mengelola dan menanam kopi saja di lahan-lahan mereka.

"Berbeda dengan petani kopi di Manggarai Raya yang kurang fokus. Contoh, satu lahan yang dimiliki petani Manggarai Raya terdapat bermacam jenis tanaman, ada kopi, kakao, pisang, cengkeh bahkan pohon jati, dan lainnya. Mereka tidak fokus pada satu tanaman saja di lahan miliki mereka," ujarnya.

Jika ditelusuri sejarah kopi di Manggarai Raya, lanjut Adler, sejak zaman Belanda orang Manggarai Raya sudah menanam dan menikmati kopi. Namun, hingga saat ini nama kopi Manggarai Raya belum terkenal di Jakarta dan mancanegara.

“Kehadiran Binus Jakarta di Manggarai Raya untuk mengangkat nama kopi manggarai semakin terkenal di tingkat nasional dan internasional," katanya.

Dia melanjutkan, tugas dari kaum intelektual, khususnya dosen Binus Jakarta untuk mengubah pola pikir petani Manggarai Raya dari petani tradisional ke petani modern.

Dr. Mohammad Hamsal menjelaskan, hasil survei sementara bahwa kendala yang dihadapi petani Manggarai Raya adalah kopi masih diolah secara tradisional dan membudidayakan kopi hanya sambilan saja. Petani belum fokus untuk menanam satu jenis tanaman di lahan mereka. 

Seorang pengusaha kopi Lembu Nai sedang jemur kopi di Kampung Pelus, Kecamatan Pocoranaka, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur pertengahan April 2018.KOMPAS.com/MARKUS MAKUR Seorang pengusaha kopi Lembu Nai sedang jemur kopi di Kampung Pelus, Kecamatan Pocoranaka, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur pertengahan April 2018.
"Boleh dikatakan bahwa petani Manggarai Raya adalah petani multitanaman di lahannya. Selain itu masalah pendanaan, pemasaran dan packing serta pendistribusian masih mengalami kendala di petani Manggarai Raya," katanya.

Hamsal menjelaskan, semua stakeholder di kawasan Manggarai Raya masih jalan sendiri-sendiri, belum sinergi untuk fokus mengelola kopi manggarai raya.

"Kami hadir selama tiga tahun ke depan di kawasan Manggarai Raya untuk sama-sama mempromosikan kopi khas Manggarai Raya dan memberdayakan mereka untuk fokus pada tanaman kopi saja," kata Hamzal.


Terkini Lainnya


Close Ads X