Melihat Uniknya Prosesi Pemindahan Gamelan Sekaten Keraton Surakarta

Kompas.com - 13/11/2018, 21:25 WIB
Gamelan sekaten sedang disiapkan di Bangsal Pradonggo halaman Masjid Agung Surakarta Kompas.com/Anggara Wikan PrasetyaGamelan sekaten sedang disiapkan di Bangsal Pradonggo halaman Masjid Agung Surakarta

Hal itu karena gamelan sekaten juga yang ditabuh di jam itu dan akan terus dimainkan sampai sekitar pukul 23.00 WIB. Gamelan memang juga ditabuh pada siang hari, tetapi terdapat jeda istirahat.

Latar belakang ditabuhnya gamelan sekaten

Gamelan sekaten ini ditabuh sebagai peringatan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa melalui media gamelan. ketika masa Sunan Kalijaga, masyarakat saat itu sangat gemar mendengarkan alunan gamelan.

Namun gamelan ditabuh di dalam masjid. Masyarakat saat itu yang ingin menyaksikan gamelan pun harus mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam sebagai tiketnya. Inilah asal mula nama sekaten dari kata syahadatain.

Nama gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari juga memiliki makna di dalamnya. Menurut seorang pembesar Keraton Surakarta, Widodo Notonagoro, kedua nama itu berisi doa dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Yang namanya madu itu kan manis. Jadi inilah yang dimohon oleh semua kalangan, khususnya yang nyuwun adalah dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Supaya apa? Kawula atau rakyatnya mengalami manisnya hidup,” ujar Widodo.

Untuk Kiai Guntur Sari, ia mengibaratkan sari sebagai serbuk sari pada bunga. Oleh karena itu, tersirat doa dan harapan agar budaya Jawa bisa lestari dan dikenal di seluruh Nusantara.

Keunikan sirih

Tidak hanya dimeriahkan oleh alunan gamelan, halaman Masjid Agung Surakarta juga semakin ramai oleh kedatangan para pedagang. Mereka kebanyakan menjual makanan, minuman, dan pernak-pernik khas sekaten.

Keunikan tampak di selasar Bangsal Pradonggo karena di sana terdapat penjual sirih atau suruh dalam bahasa Jawa untuk menginang. Ini merupakan tradisi sejak zaman dahulu karena kegemaran masyarakat saat itu, terutama abdi dalem putri yang gemar menginang.

Di Bangsal Pradonggo, masih ada pedagang sirih atau suruh untuk meginang.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Di Bangsal Pradonggo, masih ada pedagang sirih atau suruh untuk meginang.

Menurut salah satu abdi dalem bernama Rasidi, suruh memiliki makna kudu weruh (harus tahu) atau kesusu pingin weruh (ingin segera tahu). Makna itu mencerminkan kecintaan abdi dalem terhadap Keraton Surakarta.

“Hati jika tidak ke keraton lama, maka merasa harus pergi ke keraton karena hubungan hati ke hati itu sudah lengket,” ujar Rasidi.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X