Menyambangi Indahnya Hamparan Sabana Indonesia di Kawah Wurung - Kompas.com

Menyambangi Indahnya Hamparan Sabana Indonesia di Kawah Wurung

Kompas.com - 30/11/2018, 09:36 WIB
Kawah Wurung di Bondowoso yang menawarkan hamparan padang rumput dan deretan pegunungan.Hamparan Padang Rumput dan Pegunungan di Kawah Wurung Kawah Wurung di Bondowoso yang menawarkan hamparan padang rumput dan deretan pegunungan.

BONDOWOSO, KOMPAS.com -  Sabana atau padang rumput selama ini selalu identik dengan Benua Afrika. Namun ternyata Indonesia juga memiliki hamparan sabana yang keindahannya tidak kalah dengan "Benua Hitam" (julukan Benua Afrika).

Salah satu sabana yang ada di Tanah Air adalah Kawah Wurung. Destinasi ini berada di Kecamatan Ijen (sebelumnya Sempol), Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Jarak tempuh dari Kota Bondowoso adalah sekitar 63 kilometer.

Sementara waktu tempuhnya adalah kurang-lebih dua jam. Rute paling mudah adalah melalui jalan utama Situbondo terlebih dahulu. Setelah sekitar 11 kilometer melaju, perjalanan dilanjutkan dengan berbelok kanan (selatan) menuju Jalan Kawah Ijen.

Jalan itu juga merupakan akses utama menuju Kawah Ijen via Bondowoso. Selanjutnya lalui jalan utama sejauh sekitar 47 kilometer melewati kawasan pegunungan dan hutan yang berkelok.

Sebelum berbelok ke Jalan Kawah Ijen, disarankan untuk mengisi bahan bakar terlebih dahulu karena tidak ada lagi SPBU sampai di Kawah Wurung. Kawasan permukiman yang cukup ramai baru akan dijumpai di Pusat Kecamatan Ijen usai melaju sekitar satu jam.

Untuk sampai Kawah Wurung, ikuti plang petunjuk jalan yang ada. Kondisi jalan menjadi lebih sempit usai meninggalkan Jalan Kawah Ijen. Menjelang sampai, jalan seolah berubah bagaikan rute off road karena belum diaspal.

Namun kondisi itu tak berlangsung lama. Ketika sampai di hamparan terbuka, maka tujuan sudah tidak lagi jauh. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 6.000 per orang di pos retribusi, maka perjalanan akhirnya tiba di area parkir Kawah Wurung.

Pesona sabana Kawah Wurung

Keindahan Kawah Wurung langsung tersaji, bahkan semenjak di area parkirnya. Panorama memesona berupa hamparan pegunungan yang berbaris rapi dan berderet di sisi timur tampak begitu mengagumkan.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki untuk menjelajah kawasan Kawah Wurung. Dimulai dengan menaiki tangga di belakang area parkir, terlihat tulisan “Kawah Wurung” yang besar sehingga cocok untuk latar belakang berfoto.

Tanjakan Lope berlatar belakang tulisan Kawah Wurung.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Tanjakan Lope berlatar belakang tulisan Kawah Wurung.
Semakin berjalan ke atas melewati deretan anak tangga yang dinamakan “Tanjakan Lope” ini, maka pemandangan ke arah timur akan semakin indah. Deretan pegunungan akan semakin terlihat jelas, berpadu dengan luasnya area sabana di kakinya.

Jika melihat secara saksama di antara deretan pegunungan sebelah timur, tampak puncak tertinggi yang bagian bawahnya mengeluarkan asap putih. Itulah Kawah Ijen yang ternyata terlihat dari Kawah Wurung ini.

Sementara itu di sebelah barat, tampak lubang besar yang dulunya adalah sebuah kawah. Konon kawah mati inilah yang menjadi asal nama Kawah Wurung. Dalam bahasa Jawa, Wurung berarti tidak jadi atau batal.

Kawah mati yang dulunya aktif. Inilah yang menjadi asal muasal nama Kawah Wurung.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Kawah mati yang dulunya aktif. Inilah yang menjadi asal muasal nama Kawah Wurung.
Lubang kawah itu kini ditumbuhi oleh rerumputan. Memandang ke dasarnya dari ketinggian, tampak sapi-sapi warga yang sedang merumput. Namun mereka tampak begitu kecil sehingga sering memunculkan pertanyaan “itu apa ya?” bagi yang melihatnya tanpa lensa zoom.

Memandang jauh ke kaki langit sebelah barat, tampak samar-samar sebuah gunung yang menjulang tinggi. Itulah Gunung Raung yang memiliki ketinggian 3.332 meter di atas permukaan laut.

Kawah Wurung cocok dikunjungi saat musim hujan dan kemarau. Ketika musim hujan, maka rerumputan akan menghijau bagai permadani. Bukit di sekitarnya pun akan terlihat seperti Bukit Teletubbies. Namun di musim hujan, jalan setapak akan menjadi becek.

Sementara ketika musim kemarau, rerumputan berubah warna menjadi kuning sehingga seolah sedang berada di padang sabana Benua Afrika. Namun padang rumput menjadi mudah terbakar. Di beberapa bagian, tampak asap kebakaran lahan yang membumbung tinggi.

Di Kawah Wurung, tersaji hamparan saba luas yang begitu indah.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Di Kawah Wurung, tersaji hamparan saba luas yang begitu indah.
Pagi hari menjadi waktu yang tepat untuk berkujung ke Kawah Wurung karena matahari masih belum begitu terik. Jika berkunjung di tengah hari, maka bersiaplah merasakan teriknya cahaya matahari siang.

Sore hari sebenarnya juga merupakan waktu yang pas. Namun hendaknya pulang tidak terlalu malam karena masih harus melalui kawasan perbukitan dan hutan untuk sampai kembali di Kota Bondowoso.



Close Ads X