6 Ragam Cendol Dari Jawa, Malaysia, sampai Singapura

Kompas.com - 05/12/2018, 16:13 WIB
ES DAWET GARENG DAN SEMAR - Penjaja Es Dawet Ayu tengah melayani pembeli di sebuah tepi jalan di Jakarta. Minuman jajanan khas dari daerah Banjarnegara, Jawa Tengah ini dijajakan dengan cara khas, yakni memakai pikulan berhias figur Semar dan Gareng yang ditenggerkan di atas gerobak dorong. Konon, ukiran kayu kedua tokoh punakawan dalam pewayangan ini bermakna simbolis. Gareng adalah simbol penjual, sementara Semar melambangkan pembeli.    KOMPAS/Mulyawan Karim ES DAWET GARENG DAN SEMAR - Penjaja Es Dawet Ayu tengah melayani pembeli di sebuah tepi jalan di Jakarta. Minuman jajanan khas dari daerah Banjarnegara, Jawa Tengah ini dijajakan dengan cara khas, yakni memakai pikulan berhias figur Semar dan Gareng yang ditenggerkan di atas gerobak dorong. Konon, ukiran kayu kedua tokoh punakawan dalam pewayangan ini bermakna simbolis. Gareng adalah simbol penjual, sementara Semar melambangkan pembeli.


JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai produk kuliner agraris, cendol mudah ditemui di kawasan Asia Tenggara. Tidak hanya di Indonesia, cendol juga dapat ditemui di Malaysia, Singapura, sampai Vietnam.

Terntunya setiap daerah punya ciri khas cendol yang berbeda. Bahkan cendol Jawa dan Sunda juga berbeda. Berikut perbedaan cendol daeri berbagai daerah, dihimpun KompasTravel dari berbagai sumber:

1. Banjarnegara, Jawa Tengah  

Di sini cendol disebut dawet ayu. Cara paling mudah membedakan dawet ayu adalah lewat gerobak penjual. Dawet ayu biasanya dibawa dengan gerobak dorong atau yang tradisional dengan alat angkut yang terdiri dari dua gentong, satu wadah cendol atau dawet, satu wadah es santan.

Dawet ayu dibuat dari campuran tepung beras, tepung tapioka, air sari daun pandan, dan es santan, dengan siraman gula aren.

2. Purworejo, Jawa  Tengah

Kalau Banjarnegara terkenal dengan dawet ayu, Purworejo punya dawet ireng. Seperti namanya, dawet ireng berarti dawet hitam. Dibuat bukan dengan campuran air sari daun pandan melainkan dengan sekam atau daun padi kering yang dibakar. Kemudian abu dicampur air.

Ada berbagai versi dawet ireng. Ada yang menggunakan tepung tapioka saja, atau dicampur tepung beras. Bagi yang belum pernah merasakan dawet ireng, minuman satu ini sangat layak dicoba.

Sebab sekam yang dibakar memberi sensasi rasa asap yang menarik dan sangat cocok ketika dicampur dengan es santan dan gula aren kental.

Dawet hitam asli Purworejo dijajakan di jalan DI Panjaitan Mantrijeron Kota Yogyakarta.Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin Dawet hitam asli Purworejo dijajakan di jalan DI Panjaitan Mantrijeron Kota Yogyakarta.

3. Jawa Barat

Jika di Jawa Tengah namanya dawet, di Jawa Barat atau di Tanah Sunda nama minuman ini menjadi cendol. Perbedaan juga ada pada bahan pembuatan cendol dan dawet. Khusus cendol menggunakan tepung tambahan yakni tepung hunkwe.

Alhasil tekstur cendol lebih kenyal ketimbang dawet. Dawet lebih mudah putus ketika digigit ketimbang cendol. Dari segi warna biasanya juga berbeda. Ada semacam lapisan transparan di cendol sedangkan pada dawet ayu warnanya hijau murni.  

4. Malaysia

Halaman:



Close Ads X