Kompas.com - 15/12/2018, 16:06 WIB

Buruan tuntas. Saya menghampiri Iky yang nyaris lumer dibekap terik siang akibat menjaga motor di pinggir jalan.

Selang beberapa waktu, saya baru tersadar bahwa tak sekalipun saya menerima kembalian dari transaksi-transaksi barusan. Spontan, hal ini saya ceritakan pula padanya.

“Di sini harganya memang genap-genap,” jawabnya tersenyum.

Di sana, tak ada harga-harga selain kelipatan Rp 5.000, terutama pada lapak mama-mama Papua. Entah apa penyebabnya. Mungkin, mereka merasa repot buat menyiapkan uang-uang kembalian.

Namun, Iky kecewa dengan jagung hasil buruan saya yang ditebus seharga Rp 10.000 tetapi masih terbungkus daun. Saya balik melesat ke pasar, untuk beberapa saat kemudian kembali dengan tiga bonggol jagung yang sudah telanjang. Berapa harga masing-masing jagung itu? Sama-sama Rp 10.000.

Jadi, apakah harga sayur yang dijual ditentukan atas dasar pertimbangan "yang penting genap?"

Keunikan-keunikan ini boleh jadi tak hanya berlaku di Pasar Sanggeng atau Manokwari. Memang, Tanah Papua selalu sarat keunikan yang patut untuk dijelajahi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.