3 Penyebab Target 17 Juta Wisman ke Indonesia Tak Tercapai

Kompas.com - 20/12/2018, 21:07 WIB
Foto udara kawasan perhotelan di Senggigi, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Kamis (8/11/2018). Pascagempa Lombok BPS Provinsi NTB merilis data Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada bulan September 2018 mengalami kenaikan dibandingkan bulan Agustus 2018. TPK bulan September 2018 sebesar 34,85 persen sedangkan TPK hotel bintang bulan Agustus 2018 hanya sebesar 28,18 persen. ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDIFoto udara kawasan perhotelan di Senggigi, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Kamis (8/11/2018). Pascagempa Lombok BPS Provinsi NTB merilis data Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada bulan September 2018 mengalami kenaikan dibandingkan bulan Agustus 2018. TPK bulan September 2018 sebesar 34,85 persen sedangkan TPK hotel bintang bulan Agustus 2018 hanya sebesar 28,18 persen.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan ada tiga penyebab melesetnya target jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia tahun 2019. Kunjungan wisman pada tahun ini berada di angka 16,2 juta, meleset sekitar 5 persen dari target 17 juta kunjungan.

Arief menyebut salah satu faktor penyebab yang mengurangi kunjungan wisman pada tahun ini adalah gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gempa Lombok yang terjadi sebanyak dua kali, pada 29 Juli dan 5 Agustus 2018 menjadi salah satu sebab utama.

“Gempa 29 Juli selesai dalam seminggu. Kita tidak menyangka pada 5 Agustus terjadi lagi gempa di Lombok,” ujar pria 57 tahun itu dalam helatan Jumpa Pers Akhir Tahun yang diadakan Kementerian Pariwisata RI, Kamis (20/12/2018).

Saat itu, terjadi sekitar 100 ribu pembatalan kunjungan wisman. Hal itu setara dengan penurunan jumlah wisman sekitar 75 persen.

Kedua, musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 juga diakui Arief berdampak pada kunjungan wisman ke Indonesia. Terakhir, polemik “Zero Dollar Tour” yang terjadi sempat membuat iklim pariwisata di Pulau Bali tidak kondusif selama beberapa waktu.

Polemik ini diwarnai semacam praktik monopoli oleh agen wisata asing.
Wisatawan yang berwisata ke Indonesia menggunakan agen tersebut akan diarahkan berbelanja ke toko-toko yang telah ditentukan agen.

Meskipun meleset dari segi jumlah kunjungan wisman, tetapi jumlah devisa yang diraup diklaim berhasil mencapai target sebesar 17 miliar dolar AS.

Hal tersebut dikarenakan angka average spending per arrival (pengeluaran rata-rata per kunjungan) 16,2 juta wisman tadi berkisar pada rataan 1.100 dolar AS.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X