Wadah Wati dan Gelas Bambu di Nagekeo Mengurangi Pemakaian Plastik

Kompas.com - 01/01/2019, 13:10 WIB
Dari kiri ke kanan: salah seorang pengrajin wadah Wati, Istri Bupati Nagekeo, Uskup Agung Ende, Mgr Vinsensius Potokotta, Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja dan Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno, Kamis (27/12/2018) memegang wadah wati dan gelas bambu sebagai tempat untuk konsumi pangan lokal khas Nagekeo seusai misa perutusan Bupati dan Wakil Bupati terpilih. KOMPAS.com/MARKUS MAKURDari kiri ke kanan: salah seorang pengrajin wadah Wati, Istri Bupati Nagekeo, Uskup Agung Ende, Mgr Vinsensius Potokotta, Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja dan Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno, Kamis (27/12/2018) memegang wadah wati dan gelas bambu sebagai tempat untuk konsumi pangan lokal khas Nagekeo seusai misa perutusan Bupati dan Wakil Bupati terpilih.

MBAY, KOMPAS.com — Pemakaian bahan plastik di berbagai kebutuhan hidup rumah tangga memberikan dampak berbahaya bagi kesehatan dan alam. Produk-produk hasil olahan pabrik berbahan plastik mampu merusak keberlangsungan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang memiliki masalah sampah plastik terbesar. Perabot rumah tangga yang berbahan plastik dapat merusak lingkungan hidup. Bahan-bahan plastik merusak tanah. Dan ini menjadi masalah terbesar dialami Bangsa Indonesia.

Berangkat dari kesulitan mengatasi sampah plastik di Kabupaten Nagekeo, Bupati Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do dan Wakil Bupatinya, Marianus Waja yang dilantik Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat, Minggu (23/12/2018) memiliki konsep dan program untuk mengatasi masalah sampah plastik selama lima tahun ke depan.

Baca juga: Sehari Tanpa Piring Pabrik di Nagekeo Flores...

Salah satu yang dikembangkan oleh pemimpin baru Nagekeo itu dengan memakai produk-produk lokal yang dianyam oleh rakyatnya dan bahannya berasal dari alam Nagekeo yang sangat ramah lingkungan.

Bahannya berasal daun lontar serta bambu yang dianyam oleh kaum perempuan dan laki-laki yang bersumber dari alam Nagekeo. Dimulai dari wadah untuk makan yang disebut “ wati” dan tempat minum dari bambu. Ini menggantikan pemakaian piring plastik yang berasal pabrik.

Baca juga: Mengunjungi Desa Adat Pertama Kerajaan Manggarai di Flores

Selama ini apabila warga Nagekeo membeli gelas plastik, piring plastik dan mangkok kaca dan aluminium untuk tempat makan serta minuman kemasan berbahan plastik maka uang warga kembali ke pemilik pabrik dan warga Nagekeo hanya memperoleh tumpukan sampah plastik.

Seorang warga Nagekeo sedang menadah air minum bersih dengan gelas bambu untuk dihidangkan kepada tamu yang sedang mengikuti syukuran pemimpin baru Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT, Kamis (27/12/2018). KOMPAS.com/MARKUS MAKUR Seorang warga Nagekeo sedang menadah air minum bersih dengan gelas bambu untuk dihidangkan kepada tamu yang sedang mengikuti syukuran pemimpin baru Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT, Kamis (27/12/2018).
Pemkab  Nagekeo di era kepemimpinan Johanes Don Bosco Do-Marianus Waja selama lima tahun ke depan bertekad uang rakyat dan uang pemerintah harus berputar di seluruh kampung dengan membeli bahan-bahan ramah lingkungan yang berasal dari alam Nagekeo.

Baca juga: Jojong, Kuliner Tradisional Flores Barat yang Makin Langka

Wawancara khusus Kompas.com di Rumah Tenun Sa’o Pipi Tolo di Kecamatan Nangaroro, Jumat (28/12/2018) lalu, Bupati Nagekeo, dr. Don menjelaskan, gerakan kebangkitan produksi lokal Nagekeo akan mengurangi pemakaian berbahan plastik kebutuhan rumah tangga penduduk Nagekeo.

Pemkab Nagekeo tidak khawatir dengan perlawanan dan persaingan dari produk-produk dari pabrik berbahan plastik. Kedua-duanya tetap mengambil peran masing-masing. Pemilik modal yang mengolah bahan kebutuhan rumah tangga tidak terganggu dengan program yang direncanakan pemerintah, bahkan, kedua-duanya memiliki peran masing-masing.

“Saat ini tidak bisa dibendung produk-produk dari olah pabrik yang berbahan plastik karena setiap orang memiliki pilihan masing-masing dalam menggunakan bahan kebutuhan rumah tangga. Namun, Pemkab  Nagekeo juga mengambil peran dalam meningkatkan perekonomian rakyat serta pemberdayaan rakyat lokal dengan memakai bahan-bahan yang ramah lingkungan,” katanya.

Baca juga: Tradisi Flores, Menabur Jagung di Limbu Mbupu Lea dan Amu

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X