Si Manis Legit Itu Bernama Bu Grieng...

Kompas.com - 12/01/2019, 09:21 WIB
Salah satu model Bu Grieng di Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Jumat (11/1/2019).KOMPAS.com/MASRIADI Salah satu model Bu Grieng di Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Jumat (11/1/2019).

TAKENGON, KOMPAS.com - Tiga wanita paruh baya cekatan mengaduk bu grieng di atas kompor gas. Dapur nan bersih itu menjadi tempat pengolahan penganan kahas Aceh tersebut puluhan tahun lalu di Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara.

Suara hentakan sendok beradu dengan kuali menggema. Mereka terlihat santai. Sesekali bahkan tertawa.

Baca juga: Belanja Oleh-oleh Tape Ketan Kuningan, Ini Cara Bedakan Sudah Matang atau Belum

Penganan tradisional itu sungguh melegenda. Kini usaha itu diteruskan Munawir Ilyas, seorang guru dan wirausaha.

“Ini awalnya usaha turun temurun, sekarang saya yang kelola,” kata Munawir, Jumat (11/1/2019).

Baca juga: Sebelum Kue Artis, 8 Kue Ini Sudah Jadi Bintang di Kotanya

Bahan baku bu grieng yaitu nasi ketan yang ditanak. Setelah matang, nasi itu lalu dijemur. Setelah kering, barulah digoreng.

Lalu, hasil gorengan itu dicetak sesuai ukuran yang diperlukan. Bentuknya beragam, mulai bentuk bulat seperti bola, ada pula berbentuk bulat seperti piring.

Pekerja mencetak Bu Grieng di Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Jumat (11/1/2019).KOMPAS.com/MASRIADI Pekerja mencetak Bu Grieng di Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Jumat (11/1/2019).
“Bahkan ini masih dijadikan kue hantaran buat orang menikah. Kalau buat orang menikah itu ukurannya besar, harga satuannya tiga ribu rupiah,” ujar Munawir.

Sedangkan untuk dijual ke pasar berkisar Rp 5.000 – Rp 20.000 per bungkus. Tergantung ukurannya.

Dia menyebutkan, bisnis kue nan manis itu bukan semata-mata urusan untung dan rugi. Namun juga mempertahankan tradisi.

Penganan itu disebar ke seluruh kabupaten/kota di Aceh. Mudah ditemui di sejumlah minimarket dan toko suvenir. Sehingga, wisatawan kerap menjadikan penganan ini sebagai oleh-oleh.

Dalam sehari, Munawir bisa memproduksi 100 bungkus. Omsetnya per bulan tembus Rp 10 juta.

Pekerja membungkus Bu Grieng di Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Jumat (11/1/2019).KOMPAS.com/MASRIADI Pekerja membungkus Bu Grieng di Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Jumat (11/1/2019).
“Saya bersyukur dengan capaian ini. Tentu kami terus berusaha penganan ini tetap gurih dan manis, agar enak dikunyah. Tidak keras,” katanya.

Kue ini rasanya nikmat dan mampu bertahan sekitar sebulan. Bisnis Munawir ini terus bertahan di tengah gempuran penganan modern yang siap saji di Lhokseumawe.

“Ini masih menjadi penganan yang disukai oleh masyarakat Aceh dan luar Aceh,” pungkasnya.


Terkini Lainnya


Close Ads X