Harga Tiket Pesawat Mahal, Kemenpar Harap Tak Berimbas ke Sektor Pariwisata

Kompas.com - 13/01/2019, 09:06 WIB
Sejumlah wisawatan sedang mengantre di loket pemesanan taksi di Bandara Ngurah Rai, Bali, Rabu (12/3/2014).   TRIBUN BALI/ANDRIANSYAH Sejumlah wisawatan sedang mengantre di loket pemesanan taksi di Bandara Ngurah Rai, Bali, Rabu (12/3/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pariwisata berharap polemik mahalnya tiket pesawat domestik tak mengganggu sektor pariwisata. Pihak-pihak terkait harus duduk bersama membicarakan polemik tiket pesawat mahal.

"Kami mendukung penyelesaian bersama yang melibat pihak-pihak terkait. Pihak-pihak yang berkompeten untuk membahas masalah ini adalah Kementerian Perhubungan, maskapai penerbangan, hingga sejumlah stakeholder," kata Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, Guntur Sakti dalam keterangan tertulis kepada KompasTravel, Sabtu (12/1).

Menurutnya, polemik mahalnya tiket pesawat domestik harus diselesaikan dengan semangat Indonesia Incorporated. Guntur menyebut kegaduhan karena tiket pesawat jangan merugikan sektor-sektor lain.

"Kalau Kementerian Pariwisata, jelas berharap masalah ini tidak sampai mengganggu pergerakan penumpang ke destinasi-destinasi wisata. Terlebih destinasi unggulan. Namun, Kementerian Pariwisata jelas tidak mau masalah ini menjadi gaduh," ujarnya.

Guntur menyebut Kementerian Pariwisata saaat ini sedang fokus dalam beberapa program seperti realisasi target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara tahun 2019 dan pemulihan sejumlah destinasi yang terkena dampak bencana seperti Banten, Palu, dan Lombok.

Ia menekankan sektor penerbangan menjadi bagian yang penting dalam dunia pariwisata. Sektor penerbangan menurutnya sangat penting sebagai akses masuk ke Indonesia khususnya wisatawan mancanegara.

"Karenanya, kita berharap masalah tiket pesawat tidak menghambat upaya Kemenpar yang sedang melakukan recovery sektor wisata di sejumlah destinasi," tambah Guntur.

Baru-baru ini, mahalnya tiket pesawat domestik dikeluhkan oleh masyarakat. Netizen juga telah mengirimkan petisi tentang penurunan tarif batas ke Menteri Perhubungan.

Berkembangnya polemik tiket pesawat domestik juga telah terasa. Hal itu terlihat seperti warga Aceh yang pergi ke Jakarta via Kuala Lumpur karena harga tiket yang lebih murah.



Close Ads X