Kompas.com - 14/01/2019, 09:17 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Lapangan Banteng di Jakarta Pusat kini menjadi salah satu ruang terbuka favorit warga Jakarta.

Di lapangan seluas 5,2 hektar ini, ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan. Berolahraga lari, bermain sepak bola, pikinik bersama keluarga, sampai menonton air mancur menari dapat dilakukan di Lapangan Banteng.

Penataan kembali Lapangan Banteng yang rampung pada 2018, membuat lapangan ini semakin cantik dan menarik banyak kunjungan wisatawan.

Baca juga: Suramnya Istana Megah Daendels di Depan Lapangan Banteng

Selain bentuknya kini, yang menarik dari Lapangan Banteng tak lain adalah sejarahnya. Setiap era pemerintahan menorehkan kisah di lapangan yang dulu bernama Waterlooplein ini.

"Pada abad ke 16 dulunya kawasan Lapangan Banteng ini hutan. Ada banyak hewan liar termasuk banteng. Biasa menjadi tujuan para tentara ketika liburan untuk berburu," kata Pendiri Komunitas Jelajah Budaya, Kartum Setiawan di acara Tur Misteri Napoleon, Gambir, Minggu (13/1/2019).

Baca juga: Sejarah Candra Naya, Rumah Mayor China Terakhir di Batavia

Pada perkembangannya hutan dibabat dan menjadi tanah dari seorang taipan Anthony Paviljoen yang punya tanah sangat luas, se-Weltevreden yang membentang dari Gunung Sahari sampai Senen jika diukur jaraknya sekarang.

Sesuai nama pemiliknya, Lapangan Banteng kala itu dinamakan Paviljoensveld atau Lapangan Paviljoen.

Bangunan amphiteater yang terdapat di kawasan Lapangan Banteng, Senin (2/7/2018).KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D Bangunan amphiteater yang terdapat di kawasan Lapangan Banteng, Senin (2/7/2018).

Lapangan ini kemudian pindah kepemilikan beberapa kali. Dari Anthony Paviljoen ke tuan tanah dari Depok, Cornelis Chastelein lalu dibeli lagi oleh Justinus Vinck.

Baca juga: Menyusuri Tembok Terakhir Batavia yang Memiliki Dua Wajah

Pada masa itu tanah di kawasan Lapangan Banteng disewakan kepada orang Tionghoa. Mereka menanam tebu dan beternak sapi serta kerbau di Lapangan Banteng.

Di masa kekuasaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels, kawasan Lapangan Banteng lantas dijadikan tempat latihan militer. Zaman terus bergulir, semakin banyak perubahan di Lapangan Banteng.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.