Meneguk Pagi di Puncak Kelimutu

Kompas.com - 21/01/2019, 07:10 WIB
Akses jalan menuju Taman Nasional Danau Kelimutu diperlebar. Sigiranus Marutho Bere/Kompas.comAkses jalan menuju Taman Nasional Danau Kelimutu diperlebar.

Saya bersyukur sebab bisa dengan mudah menemukan informasi semacam itu di tugu-tugu kecil yang terletak di sekitar danau.

Sehingga sangat disayangkan apabila orang ke Kelimutu dan langsung melihat danaunya dengan berbagai atraksi riang meriah tanpa melihat sajian informasi yang telah disiapkan.

Warna Danau Kelimutu pun bisa berubah-ubah kapan saja. Setiap kali berganti warna, penduduk sekitar mesti memberikan sesajian sebagai bentuk respek terhadap mereka yang sudah meninggal.

Dari danau pertama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, saya menyusuri tangga-tangga untuk melihat danau kedua.

Terik matahari yang menyengat juga bau belerang yang menjalar kuat semakin membakar semangat saya. Meski harus diakui, jarak untuk sampai ke tugu puncak Kelimutu memang lumayan jauh.

Danau kedua Tiwu Ata Polo, berwarna biru muda. Sedikit pudar dan agak kehijau-hijauan. Tidak seperti danau pertama yang berwarna hijau muda cerah.

Tiwu Ata Polo diyakini sebagai lokus jiwa-jiwa orang yang selama hidupnya melakukan kejahatan. Sementara Tiwu Nuwa Muri Koo Fai merujuk pada para arwah kaum muda-mudi.

Saya berdiri sejenak. Menyaksikan panorama yang luar biasa itu. Berpuluh-puluh tangga masih berdiri menjulang. Puncak Kelimutu menanti. Toh saya masih punya cukup tenaga untuk mengayunkan langkah ke sana.

Para wisatawan saat melihat matahari tebit di Puncak Danau Kelimutu, NTT.SANDRO GATRA/KOMPAS.com Para wisatawan saat melihat matahari tebit di Puncak Danau Kelimutu, NTT.
Langkah kembali diayunkan. Saya tiba juga di tugu puncak Gunung Kelimutu. Napas saya ngos-ngosan. Keringat bercucuran. Tapi, semuanya itu tak jadi perkara ketika saya bisa secara langsung melihat danau ketiga yang letaknya di sebelah kanan.

Tidak seperti kedua danau lain yang letaknya bersebelahan, danau ketiga ini bernama Tiwu Ata Mbupu. Warnanya hijau kegelapan dan merupakan tempat bersemayamnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X