Kompas.com - 21/01/2019, 16:31 WIB

Pada tahun 1980, Yahmon meninggal dunia dan digantikan oleh istrinya sebelum akhirnya diturunkan kepada anaknya yang bernama Tjipto Sugiono pada tahun 1989. Tjipto mengelola warung itu bersama istrinya Rusni Yati Badare.

Pada tahun 2017, Tjipto meninggal dunia sehingga warung itu dikelola oleh istrinya serta anaknya, Achmad Kabir yang akan menjadi generasi berikutnya atau generasi ke-3.

"Orang tua saya tidak ngasih resep. Saya dididik untuk mengetahui bahan-bahan yang berkualitas. Saya diajak ke pasar, cara belanja dan disuruh menilai bahan-bahan masakan yang bagus. Setelah itu saya disuruh masak," katanya.

Kabir mulai diajak berbelanja oleh orang tuanya ke pasar sejak kelas 2 Sekolah Dasar (SD) dan mulai bisa memasak sesuai dengan standar yang ada di warung tersebut pada kelas 1 SMA.

Ada satu hal yang selalu Kabir ingat dari ayahnya. Yakni nasihat untuk selalu menggunakan bahan-bahan masakan yang berkualitas supaya cita rasanya tetap khas dan tidak mengecewakan pengunjung.

Bangunan cagar budaya yang merupakan bangunan awal Warung Sate Gebug, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (20/1/2019).KOMPAS.com/ANDI HARTIK Bangunan cagar budaya yang merupakan bangunan awal Warung Sate Gebug, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (20/1/2019).
"Ayah saya bilang, jangan sampai mengeluarkan jualan ini dengan bahan-bahannya yang rendah. Kalau bahannya nggak ada kita nggak usah jualan," ungkapnya.

Hal itu yang membuatnya harus mengurangi menu makanan. Menu lodeh yang menggunakan lodeh tewel merah harus dihapus karena bahannya tidak ada.

Sementara daging yang menjadi bahan utama dari semua menu yang ada diambil dari empat penyalur yang dinilai menyediakan daging yang berkualitas.

"Kami menggunakan daging lulur dalam. Diambil dari empat supplier. Kalau nggak ada ya kita tutup. Tidak mungkin saya ambil daging dari yang lain," ungkapnya.

Dalam sehari, pihaknya bisa menghabiskan 20 hingga 40 kilogram daging. Biasanya, warung itu buka sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Sedangkan untuk hari Jumat dan hari besar Islam warung itu tutup.

Warung Sate Gebug di Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (20/1/2019).KOMPAS.com/ANDI HARTIK Warung Sate Gebug di Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (20/1/2019).
Untuk sate gebuk yang pakai lemak dipatok dengan harga Rp 25.000 dan tanpa lemak seharga Rp 30.000. Sedangkan untuk sop, soto dan rawon seharga Rp 15.000.

Sofyan Arif Candra (25), pengunjung asal Surabaya mengaku sangat menikmati menu masakan di warung tersebut. Baginya, ke Malang tidak lengkap jika tidak ke Warung Sate Gebug.

"Wajib untuk dicoba kalau ke Malang. Ini kan legendaris jadi rugi kalau ke Malang tidak ke sate gebug. Rasanya enak murah juga. Suasananya tempo dulu. Soalnya ornamennya kayak di zaman Belanda," ungkapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.